Tidak ada pahlawan yang dipuja tanpa ada penjahat yang dibenci.

Ungkapan itu dirasa pas dengan kondisi kita saat ini. Masing-masing mengambil peran. Ada yang suka berperan sebagai haters dan tentunya akan ada pula yang menjadi pemeran utama.

Menjadi haters itu tidak gampang. Dia harus mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk mencari kelemahan seseorang. 

Hal yang menggairahkan hidupnya jika dia mendapatkan sesuatu yang bisa digunakan sebagai bahan hinaan. Jika tidak ada, maka dia akan berusaha memanipulasi data atau membuat opini yang menyesatkan untuk tujuannya tersebut. Sungguh usaha yang luar biasa.

Bagi mereka, verifikasi data itu nomor satu. Bukan merupakan hal penting. Yang utama adalah bagaimana hal negatif tentang seseorang itu menjadi viral dan diaminkan oleh para cheerleader. Mereka akan sangat bahagia jika dapat mengkooptasi emosi khalayak ramai untuk membenci seseorang.

Kebahagiaan menghina bukan merupakan gejala psikopat ataupun gangguan kepribadian. Buktinya banyak para haters yang dapat menyelingi kegiatan utama mereka melakukan penghinaan dengan kegiatan lain yang tidak berkaitan. Misalnya bikin seminar, jualan online, dll. Dan ini juga bukan dalam rangka menutupi wajah asli mereka loh. Hanya untuk memperlihatkan mereka sebagai manusia biasa.

Manusia biasa maksudnya manusia yang sudah terbiasa mencari-cari sesuatu untuk diejek, dihina, dan ditertawakan sambil sesekali pura-pura bingung mengapa dia melakukan hal seperti itu. Atau pura-pura bingung mengapa ada orang yang berseberangan dengan pemikirannya.

Para haters sebagai manusia biasa melakukan kegiatan utamanya karena didorong faktor persaingan. Persaingan dalam hal merebut perhatian banyak orang. Dan ini wajar-wajar saja. Sama seperti pendapat Bu Sri, guru SMP saya dulu. “Kalau di sekolah siswa yang paling saya ingat itu hanya dua macam. Siswa yang pintar dan siswa yang nakal.”

Jadi kami semua rebutan untuk menjadi anak pintar atau anak nakal agar tetap diingat oleh guru kami. Peraturan kami hanya boleh mengambil satu peran. Karena kalau keduanya diborong nanti dianggap serakah. Terlebih, agak sulit menjalankan dua peran sekaligus.

Persaingan antara anak pintar dan anak nakal di sekolah kami juga bukan main-main. Saya yang termasuk grup anak nakal selalu mengejek anak pintar dengan sebutan cari muka, banci, gak gaul, kampungan dll.

Ironisnya mereka hanya tertawa sambil memperlihatkan nilai ujiannya. Dan kami harus tertunduk lesu melihat hasil ujian kami yang kebanyakan tanda tanya dan tanda palang merah yang dirotasi 450. Itu belum termasuk nasehat guru dan orang tua di rumah. Saya menyebutnya nasehat agar pembaca tidak membayangkan adegan di rumah yang menyebabkan telinga berubah warna.

Jadi pahamilah bahwa haters itu hanya bersaing untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat luas. Di satu pihak masyarakat luas tercuri perhatiannya karena pemerintah melaksanakan pembangunan disana-sini. Maka mereka merasa perlu bersaing mencuri perhatian dengan membuat isu-isu tidak penting yang tidak ada hubungannya dengan kinerja pemerintah.

Ya, sama seperti kami dulu. Ngejekin cari muka, banci, gak gaul, kampungan padahal gak ada hubungannya dengan kegiatan sekolah. Tapi percayalah, menjelang ujian kami harus berubah biar gak mati gaya. Yang biasanya selalu menghina berubah menjadi memuji bahkan sampai membelikan jajan buat mereka. Hanya dengan satu tujuan agar nilai ujian kami gak gambar matahari lagi..

Bagi orang yang dibully pekerjaan mereka juga tidak ringan. Mereka harus membuktikan apa yang dikemukakan haters itu tidak benar. Ada yang melakukannya dengan cara marah-marah. Ada juga yang membuktikannya dengan cara smart dan elegan. Memberikan bukti tanpa harus mendadak emosi.

Cara tersebut memang melelahkan. Bayangkan saja harus mengklarifikasi berbagai hal yang tidak penting. Sementara masih banyak pekerjaan menumpuk yang menunggu untuk diselesaikan. Sehingga lebih baik membiarkan saja suara serak para haters. Toh gak ada hubungannya.

Masyarakat juga gak bodoh-bodoh amat. Mereka sudah bisa membedakan mana yang sungguh emas dan mana yang berwarna kuning. Sang waktu akan bekerja dengan caranya sendiri memperlihatkan sesuatu yang belum tersingkap pada saat ini.

Akhirnya kita harus berterima kasih kepada para haters. Kerja keras mereka yang tak kenal lelah menjadikan masyarakat tahu siapa yang dipuja dan siapa yang dibenci. Berkat kekonyolan mereka kita jadi tahu harus berdiri di pihak mana.