Apa yang kita lihat hari ini, media sosial yang seharusnya menjadi tempat untuk mengekspresikan diri secara kreatif dan inovatif telah menjadi tempat hate speech paling menyeramkan. Bukan tanpa alasan, karena anak-anak pun dapat mengaksesnya dengan mudah, sebab tidak adanya batasan penggunaan dan pengawasan orang tua yang lemah.

Ujaran kebencian bukanlah sesuatu yang harus dipamerkan. Bayangkan saja, bagaimana politik hari ini membuat masyarakat menjadi terkotak-kotak tak tau tujuan mereka apa. Postingan yang menyangkut politik pasti lebih ramai daripada postingan yang memperlihatkan kreatifitas anak bangsa.

Kolom komentar media sosial yang isinya sekedar "suka dan tidak suka" telah menghiasi potret buramnya kontrol jari-jemari dalam dunia maya. Banyak yang tiba-tiba jadi ahli--sok tau--dalam berkomentar, yang seharusnya bukan tupoksinya, malah komentar seakan-akan dia yang paling mengerti. Bahkan ada yang modal copas saja, tapi bacotnya minta ampun.

Begitupun dengan maraknya tren tagar di Twitter yang isinya kebanyakan bahas politik. Ramai-ramai menaikkan tagar yang untuk memuaskan birahi kepentingan kelompoknya. Masalahnya adalah mereka saling balas tagar dan isinya mencari kesalahan lawan mereka. Bukan mencari benang merah masalah yang diharapkan.

Warga Twitter yang seharusnya senang-senang dengan tweet maupun retweet yang isinya bercerita tentang pengalamannya, uneg-unegnya, kesehariannya, maupun lainnya, mau tidak mau harus terseret ke dalam jurang kebencian akibat tagar yang isinya tentang politik melulu setiap hari. Dan ini menjengkelkan.

Warga Twitter yang katanya open minded pun, harus merasakan juga sensasi membludaknya akun-akun fake yang entah apa tujuan mereka ini. Banyak akun fake (bukan nama asli) yang berkomentar dengan ujaran kebencian sudah jadi hal lumrah di media sosial. Bahkan, lapor melaporkan pun sesama anak bangsa karena cuitan di medsos sudah menjadi kebiasaan.

Kelompok yang Pro-pemerintah dan Anti-pemerintah menghiasi berbagai isu politik dengan cuitan maupun komentar-komentar yang saling menyindir, julid, dan saling membanggakan kefanatikannya, yang entah untuk apa mereka berbuat demikan. Padahal, masih banyak perkara yang lebih seksi untuk dibahas menyangkut prestasi anak bangsa.

Pemerintah ketika membuat kebijakan--apapun itu--akan mendapatkan respon dari 2 sudut pandang yang saling berlawanan. Pihak pro-pemerintah akan menggunakan segala cara untuk memuji atau mengapreasiasi apa yang dilakukan pemerintah tersebut. Begitupun yang anti-pemerintah, apapun yang dilakukan pemerintah pasti akan dicari terus kesalahannya layaknya mencari jarum di tumpukan jerami. Dan ini perbuatan paling konyol.

Perbuatan memandang masalah dengan melihat siapa aktornya adalah hal lumrah untuk saat ini. Padahal ketika ingin melihat kebenaran, penilaian yang bersifat obyektif yang harus dikedepankan. Kalau salah ya salah, kalau benar ya benar. Tidak usah menjilat, siapapun itu.

Kegundahan para netizen yang menginginkan medsos yang isinya tentang kesejukan dan kreatifitas perlu digalakkan lagi. Boleh ada postingan politik, tapi tidak perlu terlalu berlebihan. Karena ketika berita politik yang terus di jadikan headline, maka ujaran kebencian karena perbedaan pendapat akan terus dilanggengkan.

Bahkan pernyataan yang dilontarkan oleh Presiden Jokowi, yang menggratiskan vaksin dan bersedia jadi orang pertama, ditanggapi dengan negatif oleh segelintir orang yang maunya entah apa. Padahal ketika ditelisik lebih dalam, apapun itu, hal ini harus diapresiasi, yang sebelumnya katanya vaksin harus bayar tapi ketika mendengar keluhan rakyat, maka digratiskan. Begitupun ketika IDI menyarankan presiden yang pertama divaksin untuk agar masyarakat percaya bahwa vaksin itu aman, langsung dijawab tuntas oleh Pak Jokowi.

Melihat fenomena nyinyir yang tidak ada matinya ini, mari kita bersepakat bahwa yang benci akan terus membenci, dan yang suka akan terus suka. Walaupun itu harus nyawa yang jadi pertaruhannya. Ujaran kebencian yang dibalut alasan "kritis" juga tetap akan langgeng selamanya. Karena setiap politikus memiliki hasrat kekuasaan, dan yang dijadikan tumbal politik adalah rakyat.

Demokrasi bertujuan agar semua rakyat saling merangkul, saling memahami, dan saling bergandeng tangan. Adanya Trias politika seperti eksekutif, legislatif, maupun yudikatif sebenarnya sudah lebih dari cukup. Adanya lembaga-lembaga independen yang bersifat mengawasi macam KPK, BPK, Komnas HAM, maupun yang lainnya untuk melengkapi apabila ada hal-hal yang bersifat menyimpang oleh pejabat negara.

Tapi, adanya lembaga-lembaga independen itupun tak mampu mengubah suana batin bagi sebagian orang yang sudah terlanjur benci dan tidak mau melihat kebenaran secara objektif. Semua yang berseberangan, dicarikan kesalahan-kesalahannya walaupun itu kecil lalu dibesar-besarkan. Dan pada waktunya ketika pihaknya yang terpojok karena memang salah, lalu mencari cara supaya berita itu dialihkan.

Politik boleh beda, tapi akal sehat harus jalan. Jangan sampai kebencian yang mendarah daging menjadikan semangat membangun bangsa jadi kendor. Boleh jadi hari bukan kita yang berada di lingkaran kekuasaan, tapi sumbangsih kita tetap perlu diusahakan demi tercapainya Indonesia maju, adil dan makmur.