Buku bilang, orang hebat muncul karena mereka mempertanyakan segala sesuatu, yang bertautan langsung, ataupun tidak langsung dengan dirinya. Mereka mempertanyakan keberadaan tentang yang Ada, mulai dari eksistensi sampai esensi yang Ada.

Mereka mencoba menyingkap tabir realitas keberadaan semesta, bahkan mereka mencoba menyingkap realitas sesungguhnya dari Pencipta, kebiasaan mereka memang selalu berbeda dengan manusia pada umumnya, tapi itulah yang mereka lakukan.

Selama masa hidupnya dan selama aliran urat sarafnya terisi udara, mereka selalu memikirkan fenomena-fenomena yang terjadi di dunia, padahal mereka tidak lebih hanya membicarakan asumsi dan rangkaian axioma yang sama sekali tidak dapat menyentuh realitas sesungguhnya, hanya dengan cuap-cuap metodologis seperti itulah mereka mencoba menuliskannya dan dengan jalan itu mereka menjadi tenar.

Banyak cara yang mereka lakukan untuk menemukan suatu formula dalam membicarakan pengetahuan tentang realitas. Berbagai pengorbanan pun mereka lakukan, ada yang mengorbankan waktu, tenaga, harta, tahta, wanita, harga diri, kehidupannya bahkan kehidupan orang lain.

Meskipun demikian, tetap saja, bukanlah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mereka temukan, yang didapati tidak lain adalah wahyu Tuhan yang datang pada pikiran mereka, guna menenangkan hantu pertanyaan seorang manusia yang terus terganggu dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan.

Walaupun kenihilan demi kenihilan yang berhasil terungkap, namun tetap saja tradisi pencairian ini terus menerus terbudaya pada sejumlah kalangan manusia, entah apa motifnya dan alasannya, sepertinya Tuhan juga yang mempunyai andil mempermainkan pikiran manusia-manusia untuk mempertanyakan realitas-realitas, yang pada dasarnya Tuhan sendiri yang menciptakan.

Alangkah sialnya para pemikir yang tenar itu, di balik semua pemikirannya, jawaban-jawaban yang ditemukan hanya halusinasi kebenaran tentang realitas, mereka tidak berkaca bahwa dirinya sendiri terlahir mengada setelah segala realitas historis mengada.

Tidak ada yang tahu pasti alasan kenapa manusia diciptakan, kenapa mesti ada semesta, kenapa semesta hadir setelah Pencipta, kenapa tidak hanya Tuhan saja yang mengAda? Sepertinya Tuhan mulai galau, Dia mencoba mencari teman bermain, dengan menciptakan seonggok makhluk, dengan seenaknya dia mempermaikan makhlukNya.

Antara tahu dan tidak tahu atau bisa juga dibilang sok tahu, ada juga yang mempertanyakan tentang tujuan penciptaan, apa tujuan semesta diadakan? Apabila latar belakang diciptakannya semesta ini tidak ada yang mengetahuinya, lalu setelah terlanjur tercipta, apa gunanya semesta ini ada?

Apabila semesta ini ada layaknya panggung pementasan, lalu siapa yang kita hibur? Seperti halnya pementasan drama, semesta ini hanya tentang kekuasaan Tuhan, sang aktor dituntut untuk berpura-pura (berperan) menjadi makhluk bercerita yang ada dalam naskah.

Ada apa dengan si pembuat naskah, untuk sejumlah penghasilankah Dia menulis cerita ini, atau hanya untuk memuaskan hasrat kegalauanNya saja? Dia balut cerita ini dengan selimut keindahan, sehigga banyak makhluk tertipu dan terlena dengan tujuan penciptaan, seolah-olah hidup ini mempunyai persinggahan terakhir di surga antah-berantah.

Kita tetap menjadi pemeran yang patuh pada titah cerita Tuhan, lalu siapakah diri kita yang sebenarnya, kenapa kita dipaksa untuk berperan sebagai sesuatu yang lain mengikuti naskah penciptaan?.

Bukan ketidaksopanan pada Tuhan yang dikedepankan, tapi manusia mempertanyakan keberadaan dirinya, tentu hal itu pun sudah menjadi bagian dari cerita Tuhan, bukan pula menghujat Tuhan, ini hanya hasrat ciptaan Tuhan yang melahirkan belenggu ilusi, sehingga seolah-olah manusia menghujat.

Masa bodoh dengan kebenaran, Tuhan sendiri mencontohkan pada kita dengan menciptakan semesta ini karena dorongan hasratNya sendiri, hanya berdasarkan hasrat yang tidak mempunyai alasan yang jelas, alasan hanya menjadi tanah liat yang bisa dengan seenaknya dimanipulasi untuk membenarkan tindakanNya.

Kita bukan makhluk konkrit yang tercipta karena sebuah alasan, tanpa alasan yang jelas, kita hanyalah ilusi-ilusi yang bergerak, ilusi merupakan kebohongan bagi sejumlah tuhan, tidak ada sedikitpun dalam ilusi sebuah derajat kebenaran, lalu, nyatakah diri kita masing-masing?

Banyak dari manusia selalu mencari pembenaran atas tindakannya, sejumlah alasan dihadirkan setelah suatu tindakan mereka lakukan, mungkin ini merupakan dorongan dari jiwa ketuhannanya, meniru apa yang telah Tuhan lakukan.

Kita terus membicarakan yang Ada dan apa sebenarnya realitas yang Ada, yang lebih relevan untuk dibicarakan hari ini adalah fenomena, tidak dipungkiri sejak semesta tercipta sampai saat ini, semesta diciptakan seolah-olah bertujuan untuk sebuah deklarasi sang Pencipta.

Untuk menyempurnakan eksistensi dari deklarasi tersebut, dengan sengaja Tuhan merancang struktur semesta dengan kecacatannya, karena dengan cara itu kesempurnaan sang Pencipta dapat eksis, dengan kecacatan itu, mustahil adanya sebuah keadilan di dunia ini, dunia ini hanyalah sumber kesengsaraan, ketidak-adilan dan ketimpangan justru menjadi penyeimbang keberlangsungan dunia.

Apakah kita masih dengan tulus mengartikan suatu pertikaian atas nama agama, sebagai tugas suci menuntut suatu keadilan di satu pihak dan pihak lain sebagai makhluk yang dipaksa untuk diadili?

Manusia bertikai atas nama kebenaran, itu semua hanyalah omong kosong belaka. Semua pihak tidak lain hanyalah menuntut hasratnya dan kepentingannya masing-masing, supaya keberlangsungan hidupnya di dunia menjadi agak nyata.

Bukan kebenaran yang diperjuangkan, bukan pula keadilan dengan alasan-alasan yang jelas yang dikedepankan, berhala-berhala hasrat itu yang diagungkan, seperti halnya Tuhan memberhalakan hasratNya sendiri, akibatnya sejumlah kalangan hanya mengurusi persoalan-persoalan konyol yang taka da faedahnya.

Makhluk ilusi, tetaplah ilusi, jangan sombong menuntut-nuntut kebenaran sementara dirimu sendiri hanya sebuah ilusi, apalagi bawa-bawa nama Tuhan yang belum jelas atas dasar apa kau meyakininya.

Kita sama-sama tau, siapa-pun yang menyulut dan yang tersulut, pertikaian ini adalah persoalan kepentingan masing-masing, peduli setan dengan kebenaran, toh mustahil mendirikan bangunan keadilan di dunia ini, di Negara ini.

Dengan apa mestinya kita menjalani hidup ini, dengan cinta? Konsep cinta seperti apa yang di tawarkan, cinta sendiri hanyalah manipulasi pikiran yang membelenggu jiwa, tidak sedikit kesengsaraan merebak akibat cinta, cinta yang mana yang kau jadikan jaminan dalam hidup ini?, realitas cinta malah bukan menyatukan perbedaan, justru cintalah yang memperjelas perbedaan.

Asumsi apalagi yang yang relevan?, hidup ini hanyalah persoalan hasrat, ini semua tentang seberapa cepat kalian memenuhi hasrat kalian masing-masing, kembali saja pada jati diri kita sebagai hamba, karena di dunia ini tidak ada yang lebih indah dari aliran air sungai yang landai disertai untaian asap tembakau mengayun keatas.

Kita tidak butuh petunjuk, kita tidak perlu pencerah, cukup kita memerdekakan pikiran dari belenggu-belenggu yang meyesatkan dan sisanya kita ikuti arah hembusan nafas yang dibimbing oleh insting keTuhanan.