Penulis
2 tahun lalu · 263 view · 3 menit baca · Pendidikan retno-ambawati-guru-menggendong-anak.jpg
Www.google.com

Hasniah, Sang Guru Ajaib

Hasniah, seorang guru swasta harus berjuang sendiri di SD Bina Setia Semaru yang berada di Dusun Bacang, Desa Tengue, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Hasniah mengajar kelas 1 sampai dengan kelas 6 seorang diri. Ditambah lagi, Hasniah harus memutar balikan otaknya agar semua siswanya bisa mendapatkan bahan ajar dan mendapatkan materi sampai dengan tujuan pembelajarannya tercapai.

Dari enam kelas yang ada di SD Bina Setia tersebut, Hasniah membaginya menjadi dua lokal, satu lokal untuk kelas 1 sampai dengan kelas 3 dan satu lokal lagi untuk kelas 4 sampai dengan kelas 6, kemudian per lokal tersebut dalam 1 papan tulis dibagi menjadi 3 untuk tiap2 kelasnya.

Sungguh sangat luar biasa memang jika kita bayangkan bagaimana perjuangan yang harus dilaksanakan oleh Hasniah. Idealnya seorang guru di Sekolah Dasar (SD) mengajar 1 kelas, Hasniah harus mengajar 6 kelas sekaligus. Idealnya pun di sekolah yang terdiri dari 6 kelas maka terdiri dari 6 guru wali kelas dan ditambah dengan 1 orang kepala sekolah beserta jajarannya, namun tidak dengan Hasniah yang harus berjuang mengajar seorang diri.

Ironi memang ditengah semangat pemerintah dalam meningkatkan dunia pendidikan, ternyata masih saja ada noda dalam dunia pendidikan di negeri ini. Negeri ini tentu sedang tidak kekurangan guru, negeri ini tentu sedang tidak krisis tenaga pendidikan. Jelas, Menteri Anis Baswedan menyatakan bahwa jumlah murid dan guru di Indonesia saat ini sedang timpang.

Menteri Anis Baswedan mengatakan bahwa pada tahun 2000, ada 84 ribu guru honorer di Tanah Air. Sementara berdasarkan data 2015, jumlah guru meningkat 860 persen menjadi 820 ribu orang. Sementara jumlah siswanya meningkat hanya 17 persen dan guru PNS hanya 23 persen.

Jelas, dari data tersebut negeri ini tidak sedang mengalami krisis tenaga pendidik. Bahkan, jika dibandingkan dengan negara seperti Jepang saja, Indonesia masih mendapat rasio perbandingan siswa dan guru lebih tinggi. Jika di Jepang perbandingannya adalah 1:26, di Indonesia hanya 1:14 saja.

Lalu apa yang terjadi dengan kasus Hasniah ini? permasalahannya adalah tidak tersebar dengan baiknya tenaga pendidik yang ada tersebut. Bandingkan saja jumlah PNS dan guru honorer yang ada di pulau Jawa dengan pulau lainnya, sangat berbeda jauh tentunya.

Permasalahan lainnya adalah, kurangnya pengawasan terhadap sekolah-sekolah secara menyeluruh oleh pengawas sekolah dan dinas pendidikan di daerah-daerah. Bagaimana tidak, kondisi yang dialami Hasniah ini sudah dialaminya selama 7 tahun, dan selama 7 tahun itu pula Hasniah dan sekolahnya tak mendapatkan perhatian lebih dari pengawas sekolah dan dinas terkait. Kenapa harus menunggu sentuhan media terlebih dulu baru perhatian itu datang.

Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru menyebutkan bahwa guru memiliki beban kerja paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan sebanyak-banyaknya 40 (empat puluh) jam tatap muka per minggu. Kita hitung saja yang dialami oleh Hasniah tersebut, dari 6 kelas jika dirinci secara normal adalah:

Kelas 1 SD adalah 30 jam (24 jam guru kelas + 4 jam penjaskes + 2 jam agama)
Kelas 2 SD adalah 31 jam (24 jam guru kelas + 4 jam penjaskes + 3 jam agama)
Kelas 3 SD adalah 32 jam (24 jam guru kelas + 4 jam penjaskes + 3 jam agama + 1 jam muatan lokal)
Kelas 4 s.d 6 SD adalah 36 jam (25 jam guru kelas + 4 jam penjaskes + 3 jam agama + 2 jam muatan lokal 1 + 2 jam muatan lokal 2)

Jika jumlah jam mengajar tersebut kita asumsikan sebagai rincian yang dilaksanakan oleh Hasniah, maka berapa jam sudah yang dilalui Hasniah perminggunya. Jika untuk mendapatkan sertifikasi guru perminggunya seorang guru harus mengajar sedikitnya 24 jam, maka berapa kali tunjangan sertifikasi yang didapatkan Hasniah seharusnya sudah.

Walaupun KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) yang dilaksanakan Hasniah tersebut dilaksanakan dengan cara disatukan dan dibagi 2 lokal, namun tetap beban pengajaran dan jumlah jam yang dilaksanakan akan sama. Memang kita tidak bisa pula berharap Hasniah akan mengajar dengan metode yang baik dan melaksanakan tugas guru diluar kelas dengan baik pula, namun penulis yakin bahwa Hasniah sudah memberikan segala kemampuan dan waktunya untuk dunia pendidikan selama ini.

Hasniah mengajarkan kita bagaimana mengajar itu bukan tentang materi, namun mengajar adalah tentang keikhlasan untuk membagi tenaga dan waktunya untuk mengabdi dan berbagi ilmu yang dimiliki demi kemajuan pendidikan negeri ini. Hasniah tak perlu menggunakan topeng ataupun jubah untuk menjadi superhero, Hasniah tak perlu bantuan bantuan dari kawan-kawannya seperti The Avengers, dan Hasniah tak perlu menjadi pemaki atau pelawak untuk menjadi seorang duta.

Hasniah mungkin hanya salah satu contoh pejuang pendidikan yang ada di negeri ini, mungkin masih banyak lagi Hasniah lainnya di daerah-daerah yang sampai sekarang belum mendapatkan "colekan" dari media maupun dinas pendidikan.

Hasniah, The Wonder Teacher yang mungkin dahulu tak pernah mengira akan mendapatkan beban seberat ini. Namun, satu yang pasti, jika mengabdi menjadi guru adalah sebuah kemuliaan dan pahala adalah bentuk hadiah dari Tuhan, maka perjuangan yang sedang dan telah dilakukan oleh Hasniah adalah sebuah tabungan yang sangat besar untuk keindahan kelak yang sudah menunggunya.

#LombaEsaiKemanusiaan