Harvey Pekar lahir tahun 1939 di Cleveland, Ohio, tempat tinggalnya seumur hidup. Setelah lulus SMU, ia pindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, mencoba masuk angkatan laut, dan sempat kuliah, tapi semuanya gagal. Akhirnya, tahun 1965, ia bekerja untuk pemerintah federal, sampai kemudian pensiun tahun 2001.

Pekar memulai karier menulisnya sebagai kritikus jazz untuk Jazz Review tahun 1959. Ia mulai menulis kisah komik tahun 1972, didorong temannya, Robert Crumb, yang menjadi ilustrator beberapa karyanya. Edisi pertama komik Pekar, American Splendor, mendapatkan American Book Award tahun 1987.

Tahun 1994, novel grafis Our Cancer Year (karya kolaborasi dengan istrinya, Joyce Brabner) mendapatkan Harvey Award. Versi layar lebar American Splendor dirilis tahun 2003 dan mendapat berbagai penghargaan di beberapa festival film Sundance dan Cannes. (dikutip dari novel grafis berjudul The Quitter karangan Harfey Pekar yang diterjemahkan oleh Rosemary Kesauly, tahun 2005).

Seminggu yang lalu aku membeli buku di toko buku terdekat. Tiga dari empat buku yang kubeli adalah novel, sedangkan satunya cerita bergambar yang diperuntukkan anak-anak. Dari ketiga novel yang aku beli terdapat satu novel grafis, novel tersebut berjudul The Quitter.

Aku ingin menceritakan kesan serta nilai yang dapat dipetik dari novel grafis tersebut. The Quitter menceritakan perjalanan hidup sang penulis sendiri. Cerita dimulai saat dirinya menginjak usia SD, sampai bagaimana ia menjadi penulis yang menariknya sama sekali tidak disangka-sangka dan terbayangkan olehnya.

Orangtua Pekar berasal dari Polandia. Setelah menikah mereka memutuskan untuk menetap di Cleveland, Ohio. Pekar kecil terus-menerus mengalami bullyng oleh mayoritas anak-anak berkulit hitam yang seumuran atau sedikit lebih tua darinya, hanya karena Pekar berkulit putih.

Pekar menganggap motivasi dari para pembully sebagai akibat dendam atas diskriminasi ras oleh mayoritas kulit putih terhadap kulit hitam di Amerika. Oleh karena situasi yang dialaminya ketahanan tubuh Pekar tertempa, meskipun ia sering kalah apabila sedang berkelahi dengan temannya yang berkulit hitam.

Pekar mulai tampak sebagai jagoan saat ia pindah bersama kedua orangtuanya ke lingkungan Yahudi, lingkungan dimana rasnya tinggal. 

Di tempat tinggal yang baru, Pekar awalnya tidak berniat menjadi preman. Psikologi lingkungan bermainnya –anak payah akan dikucilkan, dibully, sedangkan yang jago akan digauli– juga hasrat Pekar untuk diakui dan diterima oleh lingkungan tempat ia bergaul, ditambah efek dari Tiger Parenting memaksanya berubah.

Sebelum terjun ke dunia tarung jalanan, Pekar sempat menekuni olahraga dimana ia sebenarnya jago. Sayang, ia terlibat masalah dengan pelatihnya yang juga guru pengajarnya disalah satu mata pelajaran SMU yang tidak disukainya. Pekar pun tidak pernah dimainkan. Karena itu Pekar memutuskan untuk keluar.

Pada tahun berikutnya Pekar memutuskan kembali mendaftar ekstrakulikuler pada bidang olahraga yang sama. Pelatih yang ditugaskan telah berganti, namun Pekar tetap tidak pernah dimainkan, padahal rekan setimnya mengharapkan bantuan Pekar. Merasa ada kekuatan tidak terlihat menghalangi karirnya, Pekar sekali lagi keluar.

Kebiasaan keluar yang diidap Pekar terus-menerus hadir hingga ia lulus SMU. Bergonta-ganti pekerjaan hingga dropout kuliah menjadi akibat yang harus diterima Pekar. Walau begitu terdapat nilai positif dari kejadian yang menimpa Pekar. Jika saja Pekar adalah anak tekun yang selama hidupnya hanya bekerja pada satu bidang, maka ia tidak akan pernah menjadi penyuka sekaligus kritikus jazz.

Ketertarikan Pekar akan jazz menjadi awal karier kepenulisannya hingga masa tua. Walau begitu tanggung jawab Pekar terhadap keluarga kecilnya dan dukungan sang istri tetap mengambil andil terbesar dalam menjaga keawetan karir kepenulisan Pekar.

Sungguh menarik, dimana ditemukan seorang seperti Pekar –suka berkelahi, gampang menyerah, tidak tekun, hingga putus kuliah– di masyarakat kita pasti banyak yang akan meramalnya sebagai anak madesu (masa depan suram).

Tetapi Pekar dengan sikap yang seperti itu, tetap mampu menjadi tokoh gemilang pada usia dewasa. Jadi bagi kalian yang membaca artikel ini, meskipun telah mencapai profesi yang dianggap mapan oleh masyarakat, jangan takut mengambil resiko kehilangan privillese, kecuali jika kalian telah menemukan chemistry.

Apakah Pekar didukung sepenuhnya oleh orang terdekat? Jawabannya tidak. Pekar sering berbeda pendapat dengan ibunya. Bahkan setelah Pekar memutuskan untuk putus kuliah, ia ditantang berkelahi oleh ayahnya hingga akhirnya diusir dari rumah. Jika aku yang mengalaminya pasti dilema berat.

Permasalahannya maukah kita tetap optimis seperti Pekar dan menghindari hal-hal berbahaya (contohnya; narkoba). Maka jangan pernah mengumpat takdir. Bukankah Tuhan akan mengganti apa yang manusia miliki dengan hal yang lebih baik lagi?

Tetapi bagaimana jika ternyata jalan hidup yang telah dipilih merupakan jalan yang sesat? Jika aku yang mengalami hal tersebut, aku bertobat dan berdoa semoga direstui atau ditunjukkan jalan terbaik oleh Tuhan (yang semoga sesuai dan selaras dengan passionku hehehe).