Usainya penyelenggaraan Pemilu 2019 ternyata tidak hanya melahirkan berita hangat seputar bentrok di beberapa TPS, sakit bahkan meninggalnya beberapa petugas KPPS, melainkan juga melahirkan tingkat ke-PD-an seorang Prabowo yang terbilang offside atau melampaui batas kemanusiaannya.

Melampaui batas kemanusiaan? Bukan karena perbuatan Prabowo pada kasus 1998 lho, ya, tetapi karena deklarasi kemenangan sebagai Presiden RI. Padahal KPU sebagai penyelenggara Pemilu belum memutuskan siapa yang menang. Sikap 'kemenangan' yang terlalu dini ini tentu saja akan melahirkan opini yang tidak-tidak. 

Mungkin orang terdekat Prabowo sangat memahami apa maksud dari deklarasi tersebut, tetapi bagaimana dengan masyarakat yang jauh dari Kertanegara? Tampaknya dalam hal ini Prabowo dan Tim perlu belajar pada Capres dan Cawapres fiktif jalur prestasi, Nurhadi-Aldo, sebelum mendeklarasikan kemenangan.

Bagi manusia-manusia yang aktif di media sosial, pastinya telah mengenal sesosok Nurhadi-Aldo. Ya, Nurhadi-Aldo atau yang biasa disingkat Dildo adalah Capres dan Cawapres fiktif yang diusung oleh Koalisi Indonesia Tronjal-tronjol Maha Asyik nomor urut 10. 

Kehadiran Dildo telah mampu memberikan angin segar di balik pengapnya persaingan politik yang saling menelanjangi antarkubu. Lantas hal apa saja yang perlu dipelajari Prabowo dari Dildo?

Menghibur Rakyat

Seperti kehadiran Dildo di tengah oase politik yang kian memanas, ia membawakan materi humor yang mampu menggelitik warganet yang jumlahnya tidak hanya sekampung. 

Menurut persentase yang dihimpun oleh We Are Social bersama Hootsuite, terdapat 150 juta pengguna media sosial dari total 268,2 juta penduduk Indonesia. Artinya, Dildo telah mampu menghibur 56% penduduk Indonesia pengguna media sosial.

Bagaimana dengan Probowo? Meskipun Prabowo sering kali joget-joget tidak jelas saat berpidato, tampaknya belum memberikan kesan humor bagi yang menontonnya. Joget-joget yang selalu ditampilkan tampaknya kalah dengan pernyataan Prabowo yang cukup serius menakut-nakuti masyarakat Indonesia melalui ucapannya bahwa Indonesia akan bubar 2030.

Meskipun ucapan itu hanya berlandaskan novel dan beberapa tim telah mengklarifikasi ucapannya, tetapi yang namanya pemimpin sangatlah dilarang pesimis dan menakut-nakuti masyarakat di depan publik. Pidato Prabowo mengenai Indonesia bubar 2030 dan viral di media sosial, jika merujuk pada angka pengguna media sosial di atas, ada berapa juta umat manusia yang telah ditakuti oleh Prabowo?

Tak hanya soal ucapan yang terkesan pesimis dan cenderung menakut-nakuti, Prabowo juga pernah menunjukkan kemarahannya kepada rakyat yang tentunya juga viral di media sosial. 

Sikap marah yang pertama adalah saat debat putaran keempat. Prabowo sempat memarahi audiens yang tertawa ketika dirinya sedang menjelaskan soal pertahanan. Jika penonton tertawa, berarti ada yang lucu dan tak perlu dimarahi, apalagi dirinya seorang calon pemimpin. 

Yang kedua adalah saat Prabowo dan koalisi menggelar kampanye terbuka di Yogyakarta. Dirinya terlihat menggebrak-gebrak podium di hadapan ratusan rakyat Indonesia. Pemandangan yang bagi penulis kurang layak untuk dipertontonkan kepada masyarakat.

Sikap yang sedemikian tentu saja bukan simbol ketegasan seorang pemimpin, melainkan simbol ketidakseimbangan emosi seorang calon pemimpin dalam menghadapi momentum politik yang cukup panas.

Oleh karenanya, Prabowo layak belajar kepada Dildo dalam menghibur rakyat. Meskipun terkesan ada unsur kevulgaran, tetapi cara yang sedemikian telah mampu memberikan anugerah tawa pada rakyat Indonesia.

Menang Sebelum Tanding

Sebelum mendeklarasikan diri sebagai Presiden terpilih, meskipun KPU belum memutuskan dan mengumumkan, alangkah lebih baiknya Prabowo dan tim yang sempat deklarasi sampai berjilid-jilid itu belajar kepada Dildo bagaimana menang sebelum tanding.

Kemenangan pertama yang berhasil didapat oleh Dildo adalah menjadi sosok yang dirindukan oleh rakyat Indonesia dengan humor politik dan sosial yang selalu disajikan. Dalam hal ini, tampaknya Dildo telah mengamalkan apa yang pernah diwasiatkan H.O.S. Tjokroaminoto kepada Soekarno, yakni menjadi pemimpin itu harus mampu memegang dan mengendalikan hati rakyat.

Melalui kampanye humor politiknya, terbukti Dildo mampu mengendalikan hati masyarakat. Jika kita teliti akan kata-kata yang disebarkan oleh tim Dildo melalui pamfletnya, kita semua akan menemukan akronim vulgar yang mungkin bagi sebagian orang dianggap tabu. 

Namun, ketabuan itu mampu disulap menjadi humor dan tidak menjadi persoalan bagi kebanyakan orang. Ya, kira-kira tidak jadi persoalan kayak kasus Ratna Sarumpaet.

Sebenarnya cara inilah yang tidak dimiliki oleh mantan Jenderal Kopassus itu. Ia belum mampu mengendalikan hati rakyat Indonesia. 

Selama 7 bulan terakhir, sejak ditetapkannya masa kampanye oleh KPU, pernyataan Prabowo selalu kontroversial; dari negara bubar 2030 hingga gebrak-gebrak meja dan deklarasi kemenangan tanpa kehadiran sang wakil.

Dengan kondisi kediriannya yang belum selesai, Prabowo terbukti belum bisa mengendalikan rakyat Indonesia secara utuh. Hal tersebut terbukti bahwa deklarasi seputar kemenangannya belum mendapatkan legitimasi rakyat Indonesia secara untuh. 

Mungkin Prabowo menganggap bahwa dengan melakukan deklarasi kemenangan dini, rakyat akan begitu saja percaya. Oh tidak, rakyat hari ini bukan rakyat zaman ayah Mbak Titiek.

Oleh karenanya, Prabowo dan Tim perlu kiranya belajar menang sebelum tanding kepada Dildo. Minimal belajar menggaet massa di akun Instagram seperti akun Dildo yang hanya beberapa hari mampu menggaet ratusan ribu pengguna aktif instagram.

Tidak Fiktif

Meskipun janji-janji yang dikampanyekan oleh Dildo terbilang fiktif, namun jangan sampai capres seperti Prabowo juga ikut-ikutan fiktif. Artinya, Prabowo selaku putra terbaik bangsa, yang saat ini hanya dinisbatkan pada calon presiden dan wakil presiden saja, harus mampu berbicara sesuai fakta dan data yang ada, supaya publik dapat menilai kelayakannya sebagai calon Presiden.

Nah, jika yang dibicarakan hanyalah kebocoran, asing, ibu pertiwi sedang diperkosa, saya TNI dari banyak TNI, lantas apa yang menjadi krusial bagi bangsa ini? Bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin yang mampu mengimplementasikan janji menjadi tindakan nyata, bukan bualan kata.

Dan yang paling penting adalah tidak belajar fiktif yang sama sekali tidak mencerminkan Dildo. Paling tidak, dalam kontestasi politik selanjutnya, tidak ada lagi tindakan grusa-grusu Capres dalam menanggapi sebuah kasus. 

Semisal, kasus Ratna Sarumpaet yang bilang dikeroyok, eh tenyata eh ternyata operasi plastik. Celakanya, si Bapak telah melakukan konferensi pers, mengutuk segala tindakan brutal yang menimpa juru bicaranya.

Terakhir, membahagiakan rakyat Indonesia tidak cukup dengan joget-joget dan gebrak-gebrak podium. Membahagiakan rakyat Indonesia butuh tenaga, butuh pembuktian, butuh kerja nyata, dan yang jelas butuh istri supaya emosinya seimbang.