Belum lama ini terjadi diskusi “urat saraf” di sebuah grup WhatsApp yang saya ikuti. Saking alotnya, seorang anggota grup yang kesal menyarankan agar perdebatannya ditayangkan ke acara ILC.

Masalahnya bermula dari akun bernama Hujan (nama samaran) yang memosting artikel berjudul" Kamu Generasi Milenial? Gabunglah ke PMII, ada 5 Manfaat Kamu Dapatkan.

Dari beberapa poin dalam artikel tersebut, ada empat hal yang jamaah WhatsAppiyah perkarakan.

Pertama, orang yang sering berpartisipasi dalam tahlilan atau selametan termasuk warga Nahdlatul Ulama (NU). Kedua, PMII adalah organisasi yang ditelurkan oleh NU. Ketiga, pimpinan PMII adalah orang yang periang, humoris, dan sosialis. Bisa di ajak ngopi. Keempat, pendekatan PMII dalam menyikapi masalah lebih manusiawi.

Danau (nama samaran) adalah orang pertama yang menanggapi postingan Hujan. Menurutnya, ada poin yang tidak sesuai antara tulisan dan kenyataan.

Misalnya saja, dalam sebuah dialog lintas organisasi, ada sejumlah kader bertindak kasar karena kalah argumen. Kemudian beberapa kader lainnya tampak memantau diskusi dengan tegang. Danau menuding dengan cara bertanya, apakah yakin kalau rasis dan anarkisnya PMII itu hanya sebatas wacana?

Danau juga mengungkit kasus penutupan stand KAMMI. Waktu itu, kader PMII datang menghampiri dan meminta agar stand tersebut ditutup. Sayangnya, kedatangan kader PMII tidak dilengkapi dengan surat perintah dari Dema (Dewan Mahasiswa). KAMMI pun menolak untuk menutup standnya.

Menurut Laut (nama samaran), KAMMI pantas ditutup karena organisasi tersebut berafliasi dengan HTI.

“Tidak sama bro, KAMMI itu auranya ke PKS, PKS itu ke Ikhwanul Muslimin, bukan HTI,” balas Danau.

Berdasarkan kasus-kasus yang dipaparkan Danau, ia kemudian mengatakan salah satu nilai yang dipegang dalam NU adalah Tasamuh, sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang menerima kehidupan sebagai sesuatu yang beragam. Menurut Danau, beberapa kader bertindak kontradiksi dengan nilai tersebut.

Ada satu akun lagi yang menggelitik. Dia bilang begini, kalau anda Nahdliyin tapi masuk KAMMI anda salah kamar.

Danau memang bukan anggota PMII, tetapi ia lahir dan tumbuh di lingkungan NU. Bapak-Ibunya NU. Ia pun gemar mengikuti tahlilan, manaqiban, dan tradisi NU lainnya. Danau juga mengaku, secara struktural aktif di IPNU dan KMNU. Dan yang terpenting, ia berpaham ahlusunnah wal jama’ah.

Akun lainnya, sebut saja Embun, merasa prihatin atas perdebatan ini. Ia sangat menyayangkan organisasi ke-Islaman-an di kalangan mahasiswa saling serang dan bertahan.

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang konsisten memperjuangkan dan membentengi ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah (Aswaja), paham yang berpegang teguh kepada al-Qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas. Dalam bidang akidah, Aswaja mengikuti al-Asy’ari dan al-Maturidi, sementara dalam bidang tasawuf mengikuti Junaid al-Bagdadi dan Imam Ghazali.

Paham Aswaja ini banyak diikuti oleh mayoritas umat Islam di Indonesia, khususnya diikuti oleh warga NU. Di dalam Aswaja terdapat beragam konsep yang jelas berlandaskan dalil-dalil yang qath’i. Di antara konsep yang terkandung dalam ajaran Aswaja, yaitu tawasut, tasamuh, tawazun, dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Basis terbesar organisasi NU terdapat di tanah kelahirannya, Jawa Timur (Jatim). Pranata sosialnya menjamur di mana-mana, seperti TK, SD, hingga perguruan tinggi. Belum lagi dengan organisasi-organisasi afiliasi lainnya. Yang paling subur dari semua itu adalah Pondok Pesantren.

Begitupun dengan kehidupan masyarakat umum di Jatim. Dari masyarakat kelas bawah hingga kalangan elite, warga Nahdliyin mudah dijumpai.

Misalnya saja di lingkungan tempat saya tinggal, dekat kampus Universitas Negeri Malang (UM). Masyarakatnya kerap melaksanakan acara shalawatan, dzikir bersama, dan tahlilan. Saya sendiri sering mendapatkan semangkuk rejeki dari kegiatan ini. Sebagai anak kos, tentu saja sangat membahagiakan.

Dari aktivitas tersebut, kalau merujuk poin pertama yang diperkarakan oleh jamaah WhatsAppiyah, masyarakatnya terkategorikan sebagai warga NU.

Serupa dengan Anda atau masyarakat di daerah Anda, bila sering yasinan, tahlilan, selametan, shalawat dan dzikir bersama, tergolong warga NU. Kita tidak bisa memungkiri kultur NU di Indonesia sangat kuat.

Begitupun dengan tokoh-tokoh politik di Jatim. Warga NU sangat mendominasi. Ketika Pilkada Jakarta mengisukan Islam, di Sulawesi Tenggara mengisukan etnik, maka di Jatim ini isu ke-NU-an adalah yang paling hangat.

Kalangan mahasiswanya pun tidak ketinggalan. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi yang ditelurkan oleh NU, 17 April 1960, tidak lepas dari hegemoni. Meskipun secara struktural menyatakan diri independen, namun kultural ke-NU-an adalah hal yang tidak bisa dinafikan.

Peran NU dalam kehidupan bernegara tidak perlu dipertanyakan. Mempertanyakan peran NU ibarat mempertanyakan peran air bagi kehidupan.

Kembali ke persoalan apakah Nahdliyin harus ber-PMII. Menurut hemat penulis, tergantung kepada individu mahasiswa masing-masing. Terpenting adalah setiap jamaah senantiasa menjalankan apa-apa yang sudah menjadi ketentuan organisasi.

Sebaik apa pun suatu organisasi, bila terjadi arus pendek dalam pemikirannya dapat membahayakan diri sendiri dan organisasi. Konsleting pemikiran ini tidak hanya muncul pada satu organisasi, tetapi sudah diidap juga ke beberapa organisasi.