Apa yang ada di kepala kalian bila mendengar kata Desa?

Bisa jadi membayangkan tempat terisolir, terpencil. Tempat dengan serangkaian keterbatasan dan orang-orang kampungan. Desa bukan sesuatu yang istimewa bagi kebanyakan orang, terutama pemuda.

Kita bisa melihat para pemuda di Desa berlomba-lomba ke kota dengan berbagai alasan, salah satunya menuntut ilmu, atau mencari kerja guna sebuah kesuksesan.

Seolah Desa adalah pembuangan, seperti tempat yang terkutuk bagi manusia-manusia modern. Sebagai pemuda yang lahir dan tumbuh besar di Desa, saya kadang merasa bingung dengan lingkungan sendiri.

Para pemuda lain yang seumuran denganku kerap mencibir, menghina dan menganggap saya sebagai pemuda yang kaku, tidak bisa maju, stagnan, hanya sebab saya tinggal di Desa dan masih betah di sini.

Sementara teman-teman lain kebanyakan merantau, sekolah di luar daerah. Bahkan ada yang kerja di luar negeri. Dan keluarga mereka bangga, karena anaknya bisa sukses di luar sana.

Tak peduli berapa banyak uang yang kau hasilkan, tidak ada urusan dengan kebergunaan, selama masih di Desa, seseorang masih terlihat biasa saja. Tak jarang orang-orang muda sepertiku jadi bahan gosip di lingkungan, jadi buah bibir tetangga, kadang disebut tak berguna, hanya karena masih tinggal di Desa.

Sehingga menjadi pemuda di Desa bukan hanya tentang perjuangan bertahan hidup, tetapi juga harus bisa melawan kuatnya beban moral akibat caci-maki dari mulut-mulut sekitar.

Tetapi saya yakin bahwa hanya satu di antara sepuluh pemuda yang bisa menjadi pelopor atas bejatnya stigma di Desa. Tantangan atas beribu tanya menyangkut urusan personal seorang pemuda menjadi beban tersendiri kehidupan di Desa.

Seperti, kapan nikah? Kerja di mana? Gaji berapa? Dan pertanyaan-pertanyaan assu lainnya yang sebenarnya tidak merubah apa-apa tetapi meresap ke jiwa dan mengguncangkan mental.

Sehingga tak jarang di antara para pemuda bergegas meninggalkan kampung, menjauhi Desa hanya perihal menghindari pertanyaan-pertanyaan tidak berfaedah tetapi berdampak psikologis itu.

Bahkan ada beberapa teman saya yang kerja di luar daerah, ternyata lebih sulit mendapatkan gaji sesuai harapan, lebih menderita ketimbang saat di kampung. Tetapi demi terhindar dari gosip, ia pun terpaksa harus bertahan.

Demikian yang sekolah di luar negeri, beberapa teman mengaku bahkan lebih enak saat sekolah di kampung sendiri, dengan kemajuan teknologi di manapun seseorang berada tak menjamin kecerdasannya, tergantung bagaimana ia belajar dan memanfaatkan teknologi sebaik mungkin.

Tetapi, demi pengakuan, atas nama kesuksesan dari lingkungan, mereka merasa perlu keluar merantau dan bertahan di sana.

Sebenarnya benar kata sebagian orang, Desa adalah kenyataan, di sanalah derita dan gemilang kekayaan alam saling bertikai dalam perspektif orang-orang kota.

Para pemuda bisa menanam, menghasilkan dan menikmati di sana. Tetapi hidup bukan tentang perut dan ketenangan, hidup juga butuh pengakuan dan itulah yang mengusir para pemuda dari Desa ke kota, sekalipun hanya menghasilkan penderitaan.

Para petinggi negeri ini selalu menggembar-gemborkan kelayakan di Desa, para pejabat menganggarkan miliaran dana ke pelosok dengan tujuan Desa membangun negeri. Tetapi kenapa para pemuda berlomba-lomba meninggalkan kampung, para sarjana bergerombol ke kota meninggalkan Desa?

Saya membayangkan Desa seperti lahan tandus yang dibiarkan oleh orang-orang besar, dibiayai sebanyak-banyaknya agar dijaga oleh penduduk sekitar. 

Kelak tiba masanya mereka datang untuk mengeruk minyak di dalamnya kemudian menjual demi kepentingannya, lalu mengusir pribumi yang semula mendiami tempat itu.

Desa selalu menjanjikan bagi elit. Mereka bergantian masuk berinvestasi, sebab kota semakin padat, penuh polusi dan mencengangkan. Saya juga membayangkan beberapa tahun ke depan, Desa akan betul-betul menjadi padat.

Saat para pemuda hijrah ke kota dengan alasan kesuksesan, perlahan orang-orang kota masuk ke Desa sebab kota menjadi pesat dan berakhir jadi ancaman.

Pemukiman kita akan menjadi rantai gedung, hutan tempat nenek moyang kita bersemedi akan dikeruk jadi pertambangan. Semua akan hilang berganti sesuatu yang tak pernah kita kenali sebelumnya.

Perlahan dan pasti, kita akan jauh tersungkur, keluarga kita akan terjatuh, tergusur hingga terusir tanpa ada pembelaan.

Orang tua kita akan menjual tanahnya demi beli mobil. Sebab benda-benda seperti itu menjadi simbol kesuksesan di mata masyarakat Desa, sehingga para petani pun rela membiarkan sawahnya ditanami gedung demi sebuah pengakuan, atas nama satu kata, sukses.

Kita telah lama hidup dalam stigma, menjadi manusia yang menyembah simbol (homo symbolicum) tanpa sadar, kita tidak bisa melakukan banyak hal untuk merubah kehidupan yang brengsek itu.

Singkat kata, melalui tulisan ini saya berbagi keluh-kesah sekaligus mengadu pada semesta. Tentang kuatnya pengaruh stigma dan lemahnya para pemuda di Desa melawan zaman kegelapan yang terbungkus rapi oleh sebuah kemunafikan ini.

Terakhir, sebagai pemuda Desa. Saya merasa kehidupan akan melahirkan pertikaian panjang antara orang-orang Desa dengan penduduk Desa, demi sebuah eksistensi dan berbagai embel-embel lainnya yang dipelihara oleh golongan elit agar tetap senang menyaksikan drama dari naskah yang dibuatnya melalui negara yang diberi nama kebijakan.