Seniman
2 bulan lalu · 617 view · 5 menit baca · Filsafat 72701_76756.jpg
Wikimedia Commons

Haruskah Kita Bunuh Diri?

Rata-rata, 800.000 orang bunuh diri setiap tahun di seluruh dunia. Lebih banyak orang mati karena bunuh diri daripada mati karena dibunuh, kecelakaan lalu lintas, ataupun karena binatang buas.

Namun anehnya, melalui media kita mendengar begitu banyak berita tentang para pembunuh yang mengakhiri hidup orang lain, dan begitu sedikit yang kita dengar tentang mereka yang mengakhiri hidupnya sendiri.

Dalam esainya The Myth of Sisyphus, seorang filsuf Prancis kelahiran Aljazair bernama Albert Camus, meminta kita untuk merenungkan ini:

“Hanya ada satu masalah dalam filsafat yang benar-benar serius, dan itu adalah: bunuh diri. Menilai apakah hidup ini layak atau tidak layak untuk dijalani, sama saja dengan menjawab sebuah pertanyaan paling mendasar dari segala inti problematik filsafat.”

Menurut Camus, hidup manusia itu absurd, yang bisa dikatakan sebagai meaningless atau nihil makna. Manusia selalu mencari-cari makna dari hidup yang sejatinya tak punyai makna.

Untuk lebih memahami apa yang Camus maksudkan, ada baiknya kita intip dahulu Mitologi Sisyphus.

Dikisahkan, Sisyphus adalah raja pertama Ephyra—atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Kota Korintus di Yunani. Meskipun ia adalah seorang raja yang pandai karena berhasil membuat kotanya makmur, namun ia juga dikenal sebagai seorang penipu yang licik.

Puncak kemarahan para Dewa dimulai ketika suatu hari, Zeus menculik seorang gadis bernama Aegina, lantas membawanya pergi dalam wujud elang raksasa. Ayah Aegina—Sang Dewa Sungai bernama Asopus—mengejar jejak mereka hingga ke Ephyra, di mana ia bertemu dengan Sisyphus.

Sebagai imbalan karena Asopus pernah membuat kolam mata air di dalam kota, Sisyphus pun memberi tahu Asopus ke arah mana Zeus membawa gadis itu.

Ketika Zeus tahu akan pengaduan Sisyphus, dia pun marah besar lantas memerintahkan Thanatos (Sang Kematian), untuk merantai Sisyphus di dunia bawah (dunia kematian), sehingga dia tak bisa lagi menyebabkan masalah. Sayangnya, Sisyphus sudah telanjur dikenal akan reputasinya yang licik.

Ketika hendak dirantai, Sisyphus meminta Thanatos untuk menunjukkan kepadanya bagaimana cara kerja rantai itu—dan malah berbalik menipu Thanatos dengan cara mengikatnya, sebelum melarikan diri kembali ke dunia atas (dunia kehidupan).

 Karena Thanatos terperangkap, maka tak ada manusia yang bisa mati, dan hal ini mengakibatkan kekacauan di dunia. Semuanya kembali normal ketika Dewa Perang bernama Ares, membebaskan Thanatos dari rantainya.

Sisyphus tahu bahwa Thanatos (Sang Kematian) akan kembali membuat perhitungan dengannya. Tapi untungnya, Sisyphus masih punya trik lain di dalam lengan baju. 

Sebelum meninggal, Sisyphus meminta istrinya untuk melemparkan tubuhnya ke kolam mata air kota, dan dari tempat itu ia akhirnya terhanyut ke tepi Sungai Styx (sungai dunia bawah).

Ketika berada di alam kematian, Sisyphus menghampiri Persephone (Ratu Dunia Bawah) dan mengeluh bahwa istrinya telah menunjukkan perilaku tak hormat dengan cara tak memberi Sisyphus pemakaman yang layak.

Persephone pun mengizinkan Sisyphus kembali ke dunia atas untuk bisa menghukum istrinya. Dengan persyaratan, ia harus kembali ketika urusannya sudah selesai.

Tentu saja Sisyphus tak akan menepati janji, dan sekarang telah dua kali ia lolos dari kematian dengan cara menipu para Dewa.

Namun, tak akan ada lagi kali yang ketiga, ketika seorang utusan para Dewa bernama Hermes akhirnya menyeret Sisyphus ke hadapan Zeus. Sisyphus mengira bahwa ia lebih pintar dari para Dewa, namun ia salah. Zeus pun memberinya kutukan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Kutukan Sisyphus ialah, ia ditugaskan untuk membawa sebongkah batu besar ke atas puncak bukit. Kelihatannya ini adalah tugas yang mudah, tapi rupanya tidak.

Sisyphus lantas mulai membawa batu, tetapi ketika ia hampir mendekati puncak, dengan ajaib batu itu akan kembali bergulingan ke bawah.

Ia pun kembali ke kaki bukit untuk membawa batu lagi, namun ketika nyaris menyentuh puncak, hal yang sama akan kembali terjadi pula—yang mau tak mau, memaksanya untuk memulai lagi, dan lagi, dan lagi, untuk selama-lamanya—begitu saja seterusnya. Tanpa kematian, apalagi bunuh diri.

Camus membandingkan kutukan yang diderita Sisyphus ini, sama halnya dengan pencarian sia-sia manusia akan makna dari hidup dan kebenaran di alam semesta yang sama sekali tak punya makna. 

Layaknya Sisyphus, layaknya bebatuan kerikil di samping sungai—dari kacamata alam semesta—kita manusia pun tak punyai suatu tujuan apa pun.

 Manusia bisa saja meraih pencapaian dalam hidup, karir, prestasi, penghargaan, bahkan harta. Namun, semua itu tak akan bermakna apa-apa jika pada akhirnya kita bakal disedot menuju void (kehampaan), dan tidak bakal ingat apa-apa lagi; sama seperti situasi hampa ketika kita belum dilahirkan; sama seperti tidur panjang yang tanpa mimpi.

Dan inilah kutukan terbesar yang harus kita terima sebagai manusia. Inilah yang disebut dengan absurditas hidup.

Letak absurditas dari hidup adalah:

- Di satu sisi, kehidupan mengarah/menuju pada masa depan.

- Di sisi lain, masa depan kian mendekatkan manusia pada kematian.

Manusia selalu bersusah payah dalam pergulatan konstan antara harapan dan kenyataan; antara ekspektasi dan realita; juga tentang skenario-skenario yang tak pernah terwujud, yang mana selalu kita bayangkan dan impikan sebelum menjelang tidur.

Karena menghadapi absurditas ini, manusia seringkali melakukan manuver atau dengan kata lain melarikan diri, yaitu dengan cara:

1. Menenggelamkan diri pada agama atau ideologi tertentu, atau

2. Bunuh diri.

Jika memilih poin pertama, kita bisa saja menyibukkan diri dalam agama lantas mengartikan absurditas hidup sebagai bagian dari rencana besar Tuhan.

Tetapi bagi Camus, cara berpikir seperti itu tak lain dan tak bukan hanyalah sekadar mengalihkan perhatian kita dari dunia nyata yang sedang kita tinggali. Membuat kita tak menyadari eksistensi kita sendiri sebagai manusia, lalu berharap untuk dapatkan imbalan yang katanya telah dijanjikan dari negeri yang entah di mana rimbanya—misal: Surga.

Sedangkan pada poin kedua, bunuh diri bukanlah jawaban yang tepat. Membunuh diri sendiri hanyalah meniadakan masalah, alih-alih menyelesaikannya.

Lalu apa solusinya?

Mengesampingkan kedua pilihan di atas, Albert Camus pun menawarkan solusi dengan cara memberontak (revolt).

Kita harus memberontak melawan “kutukan” (hidup) ini dengan cara menikmati tiap jengkal napas, melakukan pekerjaan yang kita cintai, ataupun berkarya sesuai renjana kita dalam seni (entah itu sastra, film, lukisan, musik, juga kawan-kawan sejawatnya) demi merayakan keabsurdan hidup manusia—sebelum akhirnya mendekam di liang lahat.

Seperti yang ditulis pada bab terakhir esainya, Camus pun memberi ending alternatif agar Sisyphus bisa berontak melawan kutukan—membawa batu ke atas bukit—seumur hidupnya, yakni:

"Kita harus bisa membayangkan bahwa Sisyphus bahagia."