Menarik mencermati perkembangan diskusi di masyarakat soal pernyataan Jokowi terkait Corona. Jokowi mengatakan bahwa kita harus hidup berdamai dengan Corona. 

Masyarakat yang sudah merasakan tekanan krisis akibat pandemi Covid-19 ini langsung menganggap aneh pernyataan itu. Bagaimana mungkin berdamai dengan sesuatu yang membahayakan? Bukankah seharusnya virus Corona itu dihindari? 

Terlebih lagi angka-angka yang masih menunjukkan penambahan kasus infeksi virus Corona dari hari ke hari, mendorong masyarakat untuk mempertanyakan pernyataan presiden itu bahkan ada yang menertawakan.  

Pernyataan yang disampaikan Jokowi pada minggu pertama Mei 2020 itu tentunya bukan tidak berdasar. Banyak pertimbangan yang harus dilakukan untuk sampai pada pernyataan itu. Pertimbangan tekanan ekonomi menjadi yang paling puncak. 

Negara ini bisa hancur berantakan jika mesin ekonomi diam. Roda ekonomi harus digerakkan. Pilihan sulit harus dilakukan. Masyarakat pun diminta untuk berteman dengan Corona. Tentunya ini bisa jadi pilihan paling masuk akal. Sejatinya, pernyataan ini sebenarnya betul adanya.

Sedikit mundur sebelum pernyataan ini, Jokowi telah menetapkan krisis pandemik Covid-19 ini menjadi bencana nasional. Tepatnya ditetapkan pada 13 April 2020 dengan Keputusan Presiden No. 12 Tahun 2020. Dengan menjadi bencana nasional, maka upaya-upaya yang dilakukan bergerak dari pendekatan kebencanaan.

Konsep Kebencanaan

Di kebencanaan ada namanya pencegahan, mitigasi, tanggap darurat, pemulihan. Di kebencanaan juga dikenal bencana, ancaman bencana, risiko bencana, kerentanan dan kapasitas. Ada juga dikenal konsep resiliensi, yang bisa dimaknai ketahanan atau ketangguhan. Dari konsep kebencanaan ini, dapat diterangkan pernyataan berdamai dengan Corona itu.

Hal yang pertama harus dipahami yakni bencana terjadi jika dan hanya jika ancaman bencana mengenai manusia, aset dan penghidupannya. Ancaman bencana seperti tanah longsor, tsunami, banjir, gempa bumi, gunung meletus akan menjadi bencana jika mengakibatkan kerusakan dan kerugian pada manusia seperti rusaknya harta, aset dan penghidupan mereka.

Jika ancaman bencana itu tidak memberikan dampak signifikan atau tidak mengakibatkan kematian manusia, rusaknya harta dan penghidupan, maka itu hanyalah kejadian alam biasa. Bisa saja tanah longsor terjadi di tengah hutan dan ini bukan bencana, tersebab tidak memberikan dampak negatif bagi manusia. Tidak ada aset yang kena tanah longsor itu.

Jika manusia dekat dengan ancaman bahaya dan belum ada kejadiannya, maka dikatakan manusia memiliki risiko bencana. Dalam konteks kebencanaan, risiko ini diupayakan untuk diminimalisasi atau dihilangkan. Harapannya yakni menghilangkan risiko bencana itu.

Caranya ada dua, yakni pertama, menjauhkan manusia dan asetnya dari ancaman bahaya. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah DKI dengan memindahkan penduduk di pinggir kali ke rumah susun yang jauh dari bibir sungai bisa dijadikan contoh. Relokasi masyarakat ke lokasi aman dan berjarak cukup jauh dari Gunung Merapi pasca letusan 2010 juga merupakan upaya menghilangkan risiko ini, menjadi pilihan pemerintah Provinsi Yogyakarta.

Cara kedua yakni dengan memindahkan ancaman bencana dari lokasi manusia, aset dan penghidupannya. Upaya yang dapat dilakukan misalnya meratakan perbukitan yang dekat dengan pemukiman. Pembetonan ataupun perluasan serta pengerukan sungai bisa dikategorikan pada pendekatan ini.

Tentunya kedua pendekatan ini yang paling ideal. Tetapi, kondisi yang ada saat ini tidak demikian adanya. Risiko tidak bisa benar-benar dihilangkan. Risiko menjadi tinggi karena manusia mendekati ancaman bencana yang pada gilirannya meningkatkan kerentanan. 

Risiko ini dapat juga diminimalkan dengan meningkatkan kemampuan. Meningkatkan kemampuan salah satunya meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait bencana dan meningkatkan kemampuan ekonominya.

Lalu, bagaimana jika risikonya tidak bisa dihilangkan? Bagaimana jika upaya pertama dan kedua di atas tidak bisa dilakukan? Jika tidak bisa menghilangkan risiko, maka pilihan yang dimiliki adalah berdamai dengan risiko bencana tersebut. 

Katakanlah, jika ancaman bencananya banjir, jika memiliki kapasitas ekonomi, tentunya seseorang dapat pindah ke lokasi yang tidak ada ancaman banjirnya. Jika ancamannya tanah longsor, misalkan, jika ada relokasi, maka risikonya menjadi kecil atau hilang.

Tetapi beda kejadiannya dengan gempa bumi. Ancaman bencana gempa bumi ini tidak bisa kita jauhi. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 80% wilayah Indonesia memiliki ancaman gempa bumi. Wilayah Kalimantan yang dulu dianggap bebas dari ancaman gempa bumi, ternyata tidak luput juga. Gempa bumi sudah terjadi di Pontianak meskipun tidak besar.

Dengan tidak bisa menghindari ancaman gempa bumi ini, maka pilihannya adalah berdamai dengan gempa bumi itu sendiri. Dalam Bahasa Syamsul Maarif, Kepala BNPB pertama, disebutkan living in harmony with disaster risk. Hidup secara harmonis dengan ancaman bencana.

Suka tidak suka, masyarakat hidup berdampingan dengan ancaman bencana gempa bumi. Kita tidak bisa lari dan menghindari ancaman itu. Tentunya, ada upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam konteks berdamai dengan ancaman gempa bumi, yakni membangun rumah tahan gempa, dan mengetahui patahan-patahan serta jalur-jalur gempa. Di jalur-jalur gempa dan patahan, dilarang membuat bangunan. 

Masih banyak lagi yang dapat dilakukan termasuk penataan kota dan bangunan untuk memperkecil risiko bencana gempa bumi dan ujungnya meminimalkan dampak negatifnya.

Bencana Pandemik Corona

Memahami konsep risiko bencana di atas, khususnya risiko bencana gempa bumi, maka pernyataan berdamai dengan Corona dapat dijelaskan. 

Ancaman virus Corona akan selalu ada, setidaknya itu menurut World Health Organization. Masing-masing dari kita memiliki kerentanan dengan tingkat yang berbeda dan juga kapasitas untuk menghadapi ancaman virus yang dapat menular dengan cepat.

Fakta menunjukkan bahwa seseorang yang terkena virus Corona ternyata dapat sembuh. Fakta lain juga menunjukkan bahwa ada orang yang terkena virus Corona itu, tetapi tidak menunjukkan gejala, sering disebut orang tanpa gejala (asymptomatic). 

Kita juga harus mengetahui bahwa ada langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Dianjurkan untuk disiplin menjaga kebersihan, mencuci tangan, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak, menjaga stamina dan tidur cukup serta menjaga kesehatan dengan memakan makanan yang mengandung vitamin C.

Hal lain yang dapat dilakukan tentunya berupaya untuk menghindari kerumunan. Jika harus ada di kerumunan pastikan menggunakan masker, juga jika keluar rumah. Desinfektan digunakan jika diperlukan untuk membunuh virus ini. Sarung tangan juga dianjurkan. Sehabis dari luar rumah, langsung mandi. Kenali juga lingkungan yang anda datangi. 

Dengan upaya-upaya yang disebutkan di atas, maka kita bisa hidup dengan Corona. Relatifnya, sama juga dengan laut. Jika kita tidak bisa berenang, tidak bisa membuat alat yang bisa mengapung untuk menyeberangi laut, pastinya laut itu pun akan menjadi ancaman.

Memahami penjelasan di atas termasuk langkah-langkah yang harus dilakukan masyarakat secara disiplin akan memberikan kapasitas untuk dapat meminimalkan risiko ancaman virus Corona. Memang, keniscayaannya sekarang adalah ada perubahan yang nyata dalam hidup kita. Tetapi, bukankah perubahan sesuatu yang akan selalu terjadi, terlepas dari apa pun pemicunya?

Jadi, berdamai dengan Corona bukanlah sesuatu yang tidak masuk akal dan jatuh dari langit begitu saja. Ada penjelasan yang memadai untuk itu. Kita tidak berhenti karena virus Corona ini. Jika kita berhenti, maka hanya kehancuran yang terjadi. Hidup berdamai dengan Corona merupakan sebuah keniscayaan.