1 bulan lalu · 148 view · 4 min baca · Sosok 83416_29540.jpg
Foto: Pexels

Harun Nur Rosyid dan Semestanya

Jernih nian airnya, dan sangat segar. Begitulah pengakuan hampir setiap orang yang pertama kali menginjakkan kaki di sini. 

Bagi yang tidak tahu, kejernihan dan kesegaran itu semata-mata karena aliran sungai sangat dekat dengan sumber mata air kaki gunung Merapi yang berhilir ke pantai selatan. Alih-alih demikian, hal tersebut karena wirid dan laku nuansa spiritual Kiai-Bunyai dan para santri. Mereka, yang disebut para Ahl Allah. 

Pondok Pesantren ini, dengan corak pendoponya yang khas, berdiri sahaja dalam balutan keanggunan di atas aliran sungai. Sebuah pondok pesantren yang tidak jamaknya pondok pesantren. Santri-santrinya adalah para salik. Mereka yang melakukan taubat, sejatinya taubat. Dan melakukan perjalan spiritual hanya menuju kehadirat-Nya.

Di sinilah, di Pondok Pesantren Raudhatul Muttaqien yang berada di Dusun Babadan, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, seorang pemuda menempa hidupnya. Ia juga melakukan perjalan spiritual, perjalan ruhani sebagaimana jamaknya santri di pesantren ini.  

Harun Nur Rosyid namanya, yang kelak, Allah menghendakinya menerjemahkan kitab monumental karya sang Syaikh Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi al-Hatimi. Kitab Al-Futuuhaat Al-Makkiyyah.

Tahun 2005 Harun memulai pengembaraannya ke Yogyakarta. Pemuda yang kala itu berumur 23 tahun, dipertemukan oleh Allah dengan pengasuh pondok pesantren ini. Kiai Hamdani Bakran Adz-Dzakiey dan istrinya, Risty Bulqies, yang biasa disapa Ummi oleh keluarga dan para santri.

Seorang perempuan Kekasih-Nya itulah, Mursyid pertama Harun. Begitu memang yang dikehendaki Kiai Hamdani, memercayakan pemuda asal Sidoarjo Jawa Timur ini di bawah bimbingan spiritual istrinya. Seorang wali perempuan dengan karomah yang luar biasa.

Tiga tahun, secara intens, putra dari pasangan suami-istri, Muhammad Mahfudz dan Siti Khoiriyah ini berada di bawah bimbingan Ummi Risty Bulqies, Mursyid yang sangat dipatuhinya. 


Pada Mursyid pertamanya ini, ia reguk ajaran-ajaran sufi secara kontekstual. Laku, pembicaraan, dan segala yang meliputi keseharian Mursyidnya ini sangat kental dan tidak pernah lepas dari Tauhid, Ketuhanan dan hal-hal yang meliputi dunia Tasawwuf lainnya.

"Bahkan sampai hal paling kecil," ungkap pemuda yang lahir 36 tahun lalu ini,  "seperti mengedipkan mata. Dalam aktivitas itu kita belajar menerapkan tauhid wujudiyah, menelisik Af'al, Asma', Sifat dan Zat Allah dalam kedipan mata."

"Bahkan, sampai apa yang terlintas dalam hati dan pikiran. Harus diterapkan pula tauhid wujudiyah," lanjutnya. 

Dari Kiai Hamdani, pemuda yang merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara ini mendapatkan pengayaan. Kepada beliau--yang selain memiliki latar belakang seorang Kiai Sufi, juga adalah penulis dan akademisi-- Harun mencerap konsep, teori, dan penerapan ilmu-ilmu Ketuhanan, utamanya dalam ritual ibadah.

Harun menuturkan, bahwa sejak  tahun pertama, ia mulai dikenalkan dengan ajaran-ajaran Syaikh Akbar Muhyiddin  Ibnu Arabi, utamanya secara kontekstual dan penerapan dalam laku. 

"Seperti penerapan doktrin wujudiyah dalam ritual ibadah, prinsip-prinsip suluk dan pengalaman-pengalaman ruhani yg ditemui sepanjang suluk," tuturnya lebih lanjut.

Doktrin wujudiyah dalam ritual ibadah, terang Harun, adalah salah-satu kunci pembuka jalan spiritual. 

Selain doktrin  wujudiyah ia  juga mendapatkan pendalaman tauhid. Pendalaman tauhid yang diperolehnya, jelasnya, lebih dari sekedar tauhid uluhiyah, tapi lebih lanjut ke ranah wujud,  tauhid af'al, tauhid asma', tauhid sifat dan tauhid zat.

Harun mengatakan, "Semuanya itu diterapkan dalam perbuatan sehari-hari. Dari yang paling kecil,  dalam setiap pergerakan fisik dan qalbu, sampai ibadah-ibadah ritual."

Sosok dan ajaran Ibnu Arabi sejak tahun pertama di pesantren ini, telah memikat hatinya. Ummi Risty, dan Kiai Hamdani, memang kerap sekali menyebut-nyebut nama sufi asal Andalusia ini.

Bersamaan belajar konteks pada Ummi dan menjalaninya, Harun mulai meraba-raba teks primernya, tentu saja kitab Al-Futuuhaat Al-Makkiyyah. 


Berbekal sedikit kemampuan bahasa Arab dari pesantrennya di Jawa Timur dulu, juga bimbingan dari Kiai Hamdani, Harun berkenalan dengan teks-teks Arab, utamanya teks-teks karya Ibnu Arabi, dan lebih spesifik tentu saja karya monumentalnya, Al-Futuuhaat Al-Makkiyyah.  

Teks-teks tersebut rupanya sangat mempesonanya sebagai seorang salik muda kala itu. Ia mulai haus, lalu berinisiatif memperdalam kemampuan Bahasa Arabnya secara otodidak. 

Muhammad Ulul Azmi, kakak pertamanya, berperan penting dalam pembelajaran, pendekatan, dan  pemahaman Harun dengan yang sifatnya tekstual. Dari kakaknya itu, Harun dikenalkan teks-teks bahasa Inggris karya William Chittick, James, Morrris, dan lainnya. Perkenalan Harun dengan ajaran Ibnu Arabi dalam buku-buku mereka ini juga yang mendasarinya tergerak mendekati langsung bahasa asli dan diksi-diksi Syaikh Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi.

"Almarhumah Bu Nyai tidak menguasai Bahasa Arab. Tapi pengalaman-pengalaman spiritual beliau menjelaskan banyak hal yang tertulis dalam manuskrip-manuskrip tasawwuf berbahasa Arab," begitu Harun mengisahkan saat ditanya tentang pengalaman bersentuhan langsung dengan teks-teks tasawwuf.

Ia melanjutkan, "Seringkali beliau (Ummi Risty-pen) menceritakan sesuatu yang sudah atau nantinya akan saya temukan pada Futuhaat atau kitab lain."

Setelah menempuh 11 tahun sebagai seorang salik dengan berbagai pengalaman spiritualnya, dan persentuhannya dengan sumber primer secara intens, kini, empat jilid pertama dari Kitab Al-Futuuhaat Al-Makkiyyah telah berhasil diterjemahkannya. 

Tidak sedikit yang mengira, Harun Nur Rosyid--yang kini dikenal khalayak sebagai penerjemah kitab Al-Futuuhaat Al-Makkiyyah--datang dari kalangan  akademisi. Sangkaan seperti itu hadir karena  begitu detil dan seriusnya buku terjemahan Al-Futuuhaat Al-Makkiyyah yang hadir di hadapan pembaca. 

Harun yang datang dari kalangan pesantren dan membawa serta tradisi keilmuan santri dan pesantren, sadar betul bahwa banyak hal teknis yang musti dilaluinya dalam proses penerjemahan. "Oleh karena itu," tegasnya, "yang sifatnya akademisi musti saya sertakan." 

Harun berharap, dalam hidupnya ini, ia diberi kemampuan oleh Allah untuk bisa menyelesaikan proyek penerjemahan karya sang Syaikh Akbar  yang berjumlah 37 jilid ini. Amin.

Artikel Terkait