Sekantong cecairan infus jenis Ringer lactat itu tinggal setengahnya saja. Sudah delapan jam makanan intravena itu menyelusup, menyebar ke dalam jaringan intravena tubuh Audrey.

“Mereka yang hiperpoliglot, di mana sekarang?” suara Audrey melemah.

“Sudah, jangan pikirkan. Kau istirahat saja,” ucap seseorang yang sedari tadi menungguinya di ruang rawat inap sebuah klinik di Ibu Kota Manila, Filipina. 

“Kabar di Intramuros? Ini di mana?" tanya Audrey lagi yang mulai penuh kesadarannya.

“Kamu ini bebal, ya. Sekali lagi tanya, kutinggal saja kau!” ancam seseorang itu. Kini, ia mulai berdiri untuk memperjelas ancamannya.

“Tinggalkan saja!” suara Audrey melemah, tak mampu menaikkan intonasi akhir kata.

Seseorang itu hanya mematung saja mendengar jawaban Audrey. Matanya sembam, entah sudah berapa banyak air mata yang keluar untuk yang terbaring di depannya itu.

Seseorang yang tak dikenalnya, yang tiba-tiba saja merebut dirinya dari kerusuhan tadi siang di Intramuros. 

Saat detik-detik pembacaan redaksi-redaksi perlawanan yang bertepatan dengan kelahiran sang pembebas, Jose Rizal, yang pahlawan Filipina itu. Seseorang yang sedari tadi menangis sedu-sedan tanpa adanya hubungan sebab-akibat. Itu semua membuat tanda tanya besar bagi Audrey.  

Setelah mendapat jawaban "tinggalkan saja!" dari Audrey, ancaman seseorang untuk meninggalkannya itu tiba-tiba mengendur. Tampak ia kembali duduk di kursi ceking satu-satunya yang ada di ruangan dengan desain interior aneh itu. Beberapa gambar cangkir menghias dinding-dindingnya. 

Seseorang itu tiba-tiba saja mengambil ponsel pintar dari saku jaketnya. Beberapa gesekan dibuatnya. Terlihat ia mau menuju ke laman mesin pencari, terketiklah kata “poliglot”.

Lalu muncullah beberapa pilihan laman yang siap dipilih untuk diklik. Lama juga ia menggeser atas-bawah untuk memeriksa thumbnail laman yang bersaing tampil menarik untuk diklik.

Belum sempat klik laman pilihannya, Audrey yang terbaring tampak tak tenang dan sepertinya ingin bangkit.

“Jangan banyak bergerak, sayang,” seseorang itu mulai sabar. Cih! Kata "sayang"-nya itu loh

Kembali ia mendekati Audrey. Mengambilkan apa yang dia inginkan. Ternyata yang diingini Audrey adalah sebuah buku tebal yang tersimpan di tasnya yang menggantung di pojok lemari kecil.

“Dia poliglot, bahkan hiperpoliglot,” kata-kata itu diulangi lagi oleh Audrey, bahkan ketambahan lagi kata majemuk—hiperpoliglot. 

Saat menerima buku itu, Audrey sempat terkejut melihat tato kecil yang sama dengan miliknya yang tergambar jelas di jari manis tangan kirinya. Tato gambar cangkir, simbol poliglot dunia.

Kemudian, dibukanya buku tebal itu. Bau khas kertas tua menghembus ke hidung Audrey, bersamaan dengan rentetan halaman-halaman buku yang dipaksa bergilir melaju oleh tangan Audrey yang sekali gerakan itu.

Dihirupnya bau khas kertas tua olehnya, sambil memejam mata. Sepertinya nikmat sekali. Hirupan yang senafasan menyatu dengan gelap syang sepejaman.

Audrey meliar dalam bayang-bayang penulisnya. Ia tak sadar, sesungguhnya sesorang yang masih duduk di dekatnya sangat memerhatikan semua momen yang hanya berjarak semeteran itu.

“Area Broca, hemisfer kiri.” Audrey melirih dengan bibirnya yang jelas kering akibat pendarahan itu, sambil telunjuknya ditempelkan ke kepalanya. Apa maksudnya? 

"Ini di mana?" gumamnya lagi.

Seseorang itu membuang muka, bersamaan dengan menempelnya kertas buku itu ke wajah Audrey yang kini tampak seperti anak kecil yang memulai permainan petak umpet. 

Tentang Poliglot dan hiperpoliglot, yang malam itu telah menyita semua rasa pedih tubuhnya. 

“Tolong rambahkan, Emil Krebs di Google,” pinta Audrey kepada seseorang itu.

Dengan sigap yang disuruh segera memenuhi pintanya. Kemudian seseorang itu memarafrase hasil rambahan dalam sebuah ringkasan yang dibacakan setengah calak ke Audrey agar terdedah di telingahnya.

Audrey menyimaknya, sambil matanya terus berusaha keras memroyeksikan diskripsi itu ke dinding-dinding klinik yang gambarnya senafas dengan tatonya. 

Audrey menyimak, tentang Hiperpoliglot dari Jerman yang hidup pada tahun 1867-1930, si Emil Krebs. Ia menguasai 68 bahasa secara verbal dan non-verbal, serta mempelajari 120 bahasa lainnya.

"Apa perlu si Giuseppe yang dari Italia itu?" tanya seseorang itu.

"Ya," jawab Audrey singkat.

Kemudian orang itu membacakan hasil rambahan hiperpoliglot yang hidup pada tahun 1774-1849  dari Bologna, Italia. Dialah Giuseppe, seorang kardinal yang sekaligus seorang hiperpoliglot.

Selain mempelajari teologi, Giuseppe juga merupakan guru besar Bahasa Arab, Bahasa Oriental, dan Bahasa Yunani dari Universitas Bologna. Ia dikenal menguasai 39 bahasa beserta ribuan dialek. 

Saat Giuseppe meninggal dunia, orang-orang Eropa berebut tengkoraknya, saking terkesan atas hiperpoliglotnya.

"Atau aku akan searching namamu sendiri: Audrey Kareem?" Tawaran itu membuat Audrey tersenyum sekaligus menjawab tanda tanya dari sesuatu yang kontradiktif, tato cangkir di jari Ronald yang sama dengan punyanya. Namun, Ronald tak tahu apa-apa tentang kisah-kisah para poliglot. 

Pancingan Audrey berhasil, Roland membacakan kisah-kisah itu dari mesin pencari di internet, bukan sebaliknya, menghafal. 

"Ah, kamu, Ronald....." Audrey tersungging, terpental, dan melambung ringan. Beberapa semburan endorfin membuatnya sedikit bahagia, mengalahkan pacuan adrenalin yang sejak siang tadi mengguyur segenap rasa petualangannya. 

Jumlah perempuan yang menjadi poliglot memang terhitung lebih sedikit daripada laki-laki. Termasuk dirinya, Audrey, yang kini terbaring tak berdaya itu. 

Ronald lamat-lamat perhatikan judul tebal yang dibaca Audrey tadi. Hanya tulisan tahun 1919 yang bisa terbaca pada sampul depannya. 

Beberpa kata tak terbaca karena usangnya. Namun, yang membuat Ronald tercengang adalah penggalan kata yang masih bisa dibaca walau dengan mereka-reka.

"RMP Sosrokartono." Itulah yang terbaca.

"Audrey, bukannya itu kakak Raden Ajeng Kartini?" tanya Ronald tiba-tiba. Begitu penasarannya dengan buku itu.

"Ya, benar," jawab Audrey singkat.

"Boleh lihat sebentar?" pintah Ronald.

Tangan yang putih bersih itu mengulur. Tak lama kemudian Roland larut pada halaman depan.

Dan benar adanya, pada tahun yang tertulis di buku itu adalah tahun berdirinya didirikan Liga Bangsa-Bangsa (League of Nations) atas prakarsa Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson. 

Dan, yang membuat Roland terkejut adalah dari tahun 1919 sampai 1921, RMP Sosrokartono, anak Bumiputra, kakak dari RA Kartini itu, mampu menjabat sebagai Kepala Penterjemah untuk semua bahasa yang digunakan di Liga Bangsa-Bangsa. lagi-lagi Ronald terkejut, tanda tak pernah baca kisah itu. 

RMP Sosrokartono berhasil mengalahkan poliglot-poliglot dari Eropa dan Amerika sehingga meraih jabatan tersebut.

Para poliglot dunia, termasuk Sosrokartono, akan terus berjuang meruntuhkan pembatasan-pembatasan perkembangan bahasa dan budaya oleh penguasa lalim yang biasa membangun tembok tebal aturan-aturan yang tak penting demi kekuasaan.

Dulu RMP Sosrokartono ingin mengembangkan Bahasa Jawa dalam tesisnya De Middel Javaansche Taal (Bahasa Jawa Tengahan Sebagai Bahasa Peralihan), mendapat hadangan dari Snouck Hurgronje yang berjuang membuat kanonisasi Bahasa Belanda dan Bahasa Melayu saja sebagai bahasa yang berbau dan berkedok "persatuan".

“Selama di sini saya masih berkuasa, Sosrokartono tak akan dapat menjadi doktor,” ujar Hurgronje waktu itu. 

Promosi dan penyebaran pesan moral film yang berjudul Breakfast at Intermuros miliknya, membuatnya ia harus berbaring di sebuah klinik yang hingga kini ia tak mengetahui di klinik apa dan di mana?

Intramuros, Manila, ia pilih dengan beberapa pertimbangan. Intramuros adalah sebuah peninggalan kuno berupa benteng batu sepanjang 4,5 kilometer dan luasnya sekitar 64 hektare.

Benteng yang berbentuk pentagonal itu, di sekelilingnya terkepung parit itu. Audrey berhasil menyulapnya menjadi sebuah panggung perlawanan liberasi bahasa dan budaya. Para poliglot, hiperpoliglot, dan para polimatia seluruh penjuru dunia datang dan berkumpul dengan satu tujuan, freedom!

Sesuai dengan arti Intramuros itu sendiri, "di antara dinding-dinding", Audrey ingin mewakilkannya sebagai citra keterkepungan bahasa dan budaya oleh aturan-aturan yang tak penting oleh pihak penguasa. Sebagaimana yang dulu pernah disuarakan oleh Joze Rizal, seorang hiperpoliglot Filipina yang memperjuangkan kebebasan bahasa dan budaya.  

Jose Rizal memperjuangkan pandangan para poliglot, hiperpoliglot, dan para polimatia tentang sebuah pencerahan: dengan tanpa batasan lintasan serta aturan-aturan kanonisasi yang ketat dan tiranik; ilmu, bahasa, dan budaya akan lebih bebas dan dapat segera ikut serta memajukan dunia.

Kehadiran bahasa yang terkanonisasi sebagai bahasa yang katanya "persatuan" akan memutuskan kelanjutan arti-arti dan pesan-pesan budaya yang terpatri dalam bahasa-bahasa daerah atau bahasa yang dianggap kecil lainnya. 

Ide nasionalisme yang sering mengabaikan keragaman bahasa daerah. Sebab, bagaimanapun juga, setiap bahasa merupakan cara pandang dan pemikiran yang khusus dan khas terhadap dunia, sebuah kebebasan hakiki setiap individu. 

Audrey, para poliglot, para hiperpoliglot, dan para polimatia akan selalu memandang dunia sebagai sebuah tampilan khas menurut masing-masing komunitas bahasanya masing-masing.

Artinya, cara berpikir komunitas tertentu dibentuk oleh bahasa mereka. Semisal, Bahasa Jawa merupakan cara berpikir orang Jawa, bahasa Batak merupakan cara berpikir orang Batak, dan lainnya. 

Semua pesan-pesan perjuangan mereka telah terangkum dalam pergerakan promosi film Audrey yang berjudul Breakfast at Intramuros itu. Film yang sarat perjuangan para poliglot, hiperpoligot, dan polimatia melawan tiran budaya. 

Film yang akan menggepuk para "hiperbigot", meminjam istilah dari Maman Suratman, editor Qureta. Hiperbigot yang akan terus memburu para poliglot dan teman-temannya. Seseru konspirasi ala Iluminati yang Knight Templar itu. 

Siang tadi, Audrey dan kawan-kawannya awali pergerakan dengan berjalan dari Gereja San Agustin, sebuah gereja tertua di Filipina. Mereka berjalan tertib menuju panggung budaya di tengah-tengah benteng Intramuros itu. Namun, saat acara berlangsung di Intramuros, chaos terjadi.

Sementara itu, tampak Audrey masih asyik menerka-nerka, di mana ia berada. Belum sempat mendapat hipotesis ataupun jawaban langsung dari Roland, dua orang perawat masuk dengan beberapa peralatan beroda yang diseret.

"Silakan keluar dulu!" pinta seorang perawat kepada Ronald.

Tampak beberapa asesmen pemeriksaan dan perawatan dilakukan dengan cepat dan tangkas oleh kedua perawat itu. Tak ada name tag yang menempel di dada-dada busung mereka.

Seragam yang tampak aneh, baju-baju panjang berwarna kuning yang dipadu dengan sabuk-sabuk kulit hitam yang melingkar sana-sini yang penuh dengan hiasan paku-paku metal lancip.

"Klinik macam apa ini?" gumam Audrey yang hampir saja menjadi ujaran yang terdengar jelas. 

"Kasih Doxylamine," bisik seorang perawat ke rekannya.

Audrey samar-samar mendengarnya. Otaknya berpikir keras. Dia sadar akan pengaruh zat yang disebut salah satu perawat dengan seragam aneh itu. Dia pun tak mampu menolaknya. Posisinya benar-benar lemah.

"Ronald!" panggil Audrey setelah disuntik obat yang bikin orang setengah teler itu. Audrey berusaha terus sadar.

"Ronald!" panggilnya lagi, sambil menggapai-gapai buku tebal tadi yang kini sudah tidak ada di sampingnya. 

Sesaat kemudian, di sebuah ruang operasi, seorang dokter bedah memulai operasi dengan diiringi lagu progresif metal dari Helloween, I wan out.

Dengan senyum menyeringai, senyuman yang merupakan campuran dari berbagai emosi, rasa senang sekaligus rasa tidak suka, senyum yang menandakan kepuasaan ini bukan mengarah pada hal yang positif, dan akhirnya dokter bedah itu berkata:

"Inilah hari pembalasan malam Halloween, pada tanggal ini, 30 Desember, wahai kau poliglot Joze Rizal yang dulu pernah terlahir, dan pada hari ini pula, nikmatilah pencabutan area Brosca, hemisfer kiri dara cantik yang bertato cangkir ini!"