Harian DI’s Way diklaim sebagai media cetak yang pemikiran dan wujudnya telah disesuaikan dengan tuntutan zaman. Namun saya tidak melihat hal apa yang disesuaikan dengan tuntutan zaman dari edisi perdananya.

Generasi 90-an pasti ingat sebuah tagline iklan parfum, “kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.” Jujur, saya tidak tergoda saat membaca edisi pertama harian yang diprakarsai begawan media, Dahlan Iskan, ini. Melihat sampul harian dengan kualitas kertas seperti majalah ini tidak membuat saya tertarik membuka halaman-halaman selanjutnya.

Namun seperti pepatah “don’t judge a book by its cover”, saya tetap berpikir positif. Siapa tahu halaman-halaman berikutnya lebih bagus dari sampulnya.

Sebelum memberikan penilaian jujur, saya mempertanyakan mengapa tidak ada yang baru dari harian ini. Jika Jawa Pos era Dahlan menggunakan tagline “Selalu Ada yang Baru”, harian ini mungkin cocok memakai jargon “Tidak Ada yang Baru”.

Klaim menyesuaikan dengan tuntutan zaman tidak terlihat sedikit pun. Saat membuka halaman demi halaman, idealisme Dahlan sangat terlihat. Sayang, semangat harian ini terasa tua. Desain, penulisan, dan model bisnisnya masih old school. Kesegaran yang harusnya ditemui di edisi pertama tidak tampak. Harian ini seperti proyek pribadi Dahlan yang diluncurkan tanpa persiapan matang.

Saya masih percaya jika media cetak harus menyesuaikan dengan era digital. Adaptasi adalah kunci. Seorang pengusaha di bidang ini harus mempunyai pemikiran terbuka. Ia harus sadar jika medan pertempuran di era digital sangat mengerikan. Agar bisa bertahan, dibutuhkan dana yang tidak sedikit.

Sayangnya, dua perusahaan digital, Facebook dan Google, sudah telanjur menguasai medan perang ini. Meski bukan perusahaan media, namun belanja iklan digital dunia dikuasai dua perusahaan raksasa asal Amerika itu. Mereka adalah musuh sekaligus kawan bagi perusahaan-perusahaan media.

Berbeda dibanding era 90-an di mana media, khususnya koran, saling bersaing merebut hati pembaca, saat ini musuh terbesar media adalah Facebook dan Google. Dua perusahaan itu dengan mudah mengambil konten dari perusahaan-perusahaan media. Cobalah tanya ke teman Anda, dari mana mereka mendapatkan informasi atau berita. Saya yakin kebanyakan mereka menjawab dari Facebook dan Google.

Namun media tetap membutuhkan kehadiran Facebook dan Google. Mereka memerlukan traffic agar konten-kontennya dibaca. Sementara dua platform itu merupakan tools paling efektif mendatangkan traffic.

Saya masih tidak yakin jika media cetak bisa dijadikan jualan utama. Media ini tetap harus dibarengi dengan media digital jika ingin bertahan. Era cetak sudah lewat. Ya, kenyataan memang pahit, bos. Namun realitasnya seperti itu.

Kembali ke Harian DI’s Way...

Sebelumnya, saya membayangkan jika harian ini dilengkapi dengan media digital seperti website dan aplikasi. Bukan berarti saya bisa membaca konten-kontennya secara gratis. Jika kita mengamati perkembangan media digital dunia, ada sistem di mana pembaca harus berlangganan dulu jika ingin menikmati berita. Namanya meter paywall.

New York Times (NYT) menjadi pelopor utama media yang menggunakan sistem ini. Di Indonesia, media seperti Jakarta Post juga telah menggunakannya. Namun di sini, tantangannya sungguh berat. Di tengah kultur pembaca kita yang menginginkan berita serba gratis, menjual berita tidak gampang. Bukan berarti langkah ini tidak bisa dicoba. Tapi harus diingat, investasinya juga sangat besar.

Saat saya membuka halaman 4 Harian DI’s Way, ada laporan tentang alun-alun baru Surabaya. Ini menarik. Saya membayangkan alangkah eloknya jika berita ini juga ditampilkan di media digital.

Tidak hanya berita, konten ini bisa dilengkapi dengan sebuah infografis yang atraktif di mana pembaca seolah-olah diajak masuk ke ruang bawah tanah alun-alun itu. Teknologi seperti Augmented Reality (AR) atau Virtual Reality (VR) sudah tersedia dan bisa digunakan untuk melengkapi infografis ini.

NYT membuat halaman khusus di mana pembaca bisa membaca berita-berita yang dilengkapi dengan teknologi ini. Rubrik khusus yang ada media digitalnya ini dinamakan “Immersive (AR/VR): Augmented Reality, Virtual Realty and 3D Web Features”.

Salah satu berita yang menarik di rubrik ini adalah simulasi tiga dimensi yang menunjukkan mengapa social distancing itu sangat penting. NYT memvisualisasikan sebuah batuk untuk menunjukkan bagaimana droplet bisa menyebar. Berita dan infografis ini bisa menjadi panduan bagi pembaca yang sebelumnya tidak aware dalam menjaga jarak di tengah pandemi.

Di halaman 17 tentang kisah konflik Mess Persebaya, saya membayangkan jika Harian DI’s Way juga menampilkan infografis yang dilengkapi dengan video-video momen perebutan mess legendaris ini. Video-videonya bisa dicari.

Memang cukup sulit. Namun untuk menghasilkan sebuah konten yang menarik dibutuhkan kerja keras.

***

Baiklah, saya akan memberikan penilaian jujur tentang harian ini dilengkapi rating.

DESAIN (5/10)

Salah satu kelebihan media cetak adalah kita bisa bermain-main dengan desain. Majalah TEMPO merupakan salah satu media yang sering menampilkan desain sampul cukup menarik dan atraktif. Bahkan, sering kali orang lebih membicarakan sampul ketimbang isinya.

Sampul Harian DI’s Way terus terang tidak menarik. Pilihan background hitam saya pertanyakan karena tidak ada hubungannya dengan isi. Warna sebenarnya bisa dipakai untuk menggambarkan isi berita. Misalnya warna hitam mewakili duka cita. Nah, saya tidak tahu apa hubungan antara warna hitam dengan berita foto alun-alun baru Surabaya dan rekomendasi Cawali untuk Whisnu Sakti Buana.

Penggunaan font (huruf) yang tidak konsisten, baik jenis dan ukurannya, menjadi sesuatu yang fatal. Font adalah ciri khas media. Konsistensi diperlukan agar pembaca bisa mengingat media kita. Sayangnya, besar-kecilnya font antar-halaman tidak sama, jarak antar-baris juga berubah-ubah.

Besar kolom dalam sebuah berita juga ada yang tidak sama. Belum lagi style seperti caption foto, nama rubrik, hingga kutipan juga tidak konsisten. Corporate color yang biasanya menjadi ciri khas sebuah produk media juga tidak jelas. Anda tentu masih ingat jika Jawa Pos menggunakan warna biru dengan komposisi C=100, M=15, Y=0, dan K=0.

Navigasi dari halaman ke halaman media berukuran 21x29 cm ini juga cukup membingungkan. Sementara ukuran font terlalu kecil sehingga mengurangi kenikmatan membaca. Oya, cropping photo di beberapa halaman terlihat tidak rapi, terutama rambut yang dipotong sangat kasar.

Hal-hal kecil yang saya sebutkan di atas, bagi saya, cukup mengganggu.

PENULISAN (6/10)

Saya optimis jika melihat susunan tim redaksi. Mayoritas dari mereka berasal dari Jawa Pos yang kualitas penulisannya tidak diragukan. Apalagi ada Dahlan Iskan, pakar media yang mampu mengubah Jawa Pos dari koran kecil beroplah satu becak menjadi koran nasional beroplah ratusan ribu. Terlebih, harian ini adalah utang Dahlan kepada jurnalistik. Hmmm…

Sekali lagi saya harus kecewa. Pemberitaannya tidak seperti yang saya bayangkan. Berita-berita yang diturunkan bak gado-gado yang hanya memenuhi jumlah 48 halaman. Juga tidak terlihat visi redaksi di edisi perdana ini. Bahkan banyak tulisan opini yang menurut saya tidak perlu dimasukkan.

Laporan utama soal rekomendasi Whisnu sebagai Cawali tenggelam dengan tulisan Dahlan tentang alasan ia menerbitkan harian ini. Sebuah tulisan yang sebenarnya cukup 1 halaman, bukan 2 halaman. Apalagi terdapat tulisan Dahlan lain yang sebelumnya muncul di blog pribadinya, disway.id. Ada juga halaman obituari tentang kenangan sebuah keluarga tentang anaknya. Rubrik ini bagi saya tidak diperlukan karena tidak relevan bagi pembaca.

Seksi olahraga juga tidak istimewa. Apalagi saya bisa membaca mayoritas beritanya di media online secara gratis.

Contohnya berita tentang rencana Ketum PSSI, Moch Iriawan, mengajak dialog tiga klub, Persebaya, Persik, dan Barito Putera yang menolak kompetisi. Kutipan Iwan Bule, sapaan akrabnya, ini diambil dari situs resmi PSSI. Saat berita ini diturunkan, sudah ada lima klub yang menolak Liga 1 2020 dilanjutkan. Sehingga berita ini bisa dibilang basi.

Rubrik Lifestyle juga tidak menawarkan sesuatu yang baru. Padahal, rubrik ini bisa dipakai untuk bermain-main, baik dari segi desain ataupun penulisan. Malah ada juga sebuah rubrik komik lawas yang dilengkapi dengan sebuah artikel memakai ejaan lama, yang sangat tidak nyaman untuk dibaca. 

Klaim bahwa harian ini dibuat untuk mempertahankan jurnalistik belum terlihat. Masih banyak yang harus dilakukan agar orang rela mengeluarkan duitnya untuk bisa membaca tulisan-tulisannya. Dan saya tidak melihatnya.

MODEL BISNIS (5/10)

Dahlan mengatakan jika media ini diterbitkan tidak untuk tujuan bisnis. Namun tidak bisa dimungkiri, media bisa hidup karena bisnisnya bagus. Salah satu yang membuat bisnis media cetak bertahan adalah sokongan dana melimpah dari pemiliknya.

Mengharapkan revenue dari jumlah pelanggan dan iklan tidak mudah. Platform yang bisa dipakai brand beriklan sudah cukup banyak dengan biaya sangat murah. Ini tantangan yang dihadapi media cetak sementara biaya cetak cukup tinggi.

Jumlah pelanggan yang banyak tidak cukup kuat menghidupi sebuah media. Makin banyak pelanggan tentu biaya cetak akan makin tinggi. Revenue dari iklanlah yang seharusnya bisa menutupnya. Namun mendatangkan pendapatan dari iklan sangat sulit.

Karena itu, seorang pengusaha media cetak tidak bisa hanya mengandalkan pemasukan dari pelanggan dan iklan. Meski bukan satu-satunya model bisnis yang baik, media bisa membangun bisnis non-media yang nantinya mendukung sustainability media itu.

Saya mencontohkan Kata Data. Media berbasis web dan aplikasi ini tidak menjadikan pelanggan dan iklan sebagai revenue utama. Media ini mempunyai lembaga yang menawarkan riset ke pemerintah daerah atau pemilik bisnis.

Riset diperlukan jika pemerintah daerah atau pemilik bisnis ingin melakukan sebuah kebijakan atau rencana bisnis. Ini nilainya cukup besar. Pendapatan dari lembaga ini sebagian digunakan untuk menghidupi media digitalnya.

Banyak model bisnis yang bisa dicoba, baik membuat bisnis yang menyokong media atau menggunakan sistem meter paywall. Namun, saya belum melihatnya di Harian DI’s Way. Saya melihat harian ini masih menggunakan cara-cara lama seperti memaksimalkan jumlah pelanggan dan iklan.

Selain itu, harian ini lahir juga atas kebaikan Dahlan dengan memberikan modal dari uang pribadinya. Sebuah langkah mulia yang perlu diapresiasi. Sayangnya, bagi saya, model bisnis ini rentan karena sangat tergantung kebaikan hati pemiliknya. Jika sang pemilik kehilangan gairah, harian ini bisa terancam keberlangsungannya.

RELEVANSI (4/10)

Salah satu cara agar media kita cepat dikenal khalayak adalah menggunakan media sosial. Media ini bisa menjadi tools bagi kita untuk mengetahui sebuah informasi secara cepat. Facebook, Twitter, Instagram, YouTube bisa kita gunakan secara gratis.

Memang dibutuhkan jumlah followers dan subscribers yang besar agar banyak orang tahu informasi yang kita sebarkan. Namun ini bisa diakali dengan menganggarkan bujet beriklan di media sosial. Kita bisa membayar Twitter untuk menjadikan sebuah hestek muncul di kolom trending topic. Facebook, Instagram, dan YouTube bisa juga dipakai sarana untuk beriklan. Kita tinggal cari pakar digital marketing agar iklan kita lebih efektif.

Sayangnya saya tidak melihatnya di Harian DI’s Way. Akun Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube juga tidak dicantumkan. Atau memang tidak sempat membuatnya? Jika belum, ini merupakan kesalahan fatal.

Apa pun idealisme kita di sebuah media, dibutuhkan target pembaca yang pasti. Siapa target pembaca Harian DI’s Way? Berapa usia yang disasar? Apa pekerjaan dan berapa penghasilan mereka per bulannya? Semua ini harus sudah diketahui sebelum sebuah media diterbitkan. Mengapa? Karena ini akan memengaruhi konten-konten pemberitaan dan bagaimana strategi media dalam menggaet pembaca.

Jika tidak dilakukan, harian ini bisa kehilangan relevansinya. Medianya ada tapi dianggap tidak ada. Apalagi saat ini, generasi milenial hanya familiar dengan gadget dan media sosial. Generasi inilah yang nantinya bakal mengganti generasi-generasi seperti kita.

Saya sempat bertanya kepada anak saya yang berusia 6 tahun, apakah ia mengenal koran dan bisa menjelaskan apa itu koran? Ia mengatakan mengenal koran sebagai sesuatu yang dibaca kakek-nenek.

Kemudian saya kembali bertanya, dari mana kamu tahu itu? Dia bilang dari YouTube.

Artinya apa, mayoritas mereka sebenarnya tidak mengenal koran secara langsung. Apakah kita mengesampingkan mereka? Saya rasa tidak bijak jika kita melupakan mereka. Jika media kita kehilangan relevansinya bagi mereka, ini menjadi alarm kematian untuk media kita.

***

Memang terlalu prematur jika menyebut harian ini sebagai sebuah produk gagal. Masih banyak yang bisa diperbaiki. Dengan idealisme, visi, dan sokongan dana melimpah dari Dahlan, tentu hal yang mudah untuk mengubah harian ini menjadi sebuah produk media mutakhir yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Saya berharap klaim bahwa media ini telah menyesuaikan dengan tuntutan zaman dibuktikan secara nyata. Bukan malah menjadi media yang tidak relevan dengan era digital ini.

Apa yang akan saya lakukan jika saya mempunyai anggaran sebesar Rp150.000 per bulan untuk berlangganan antara Harian DI's Way dan Netflix? Saya lebih memilih Netflix ketimbang Harian DI’s Way. Kecuali jika kita berlangganan Harian DI’s Way, namun bonusnya Netflix. (*)

BACAAN: https://www.nytimes.com/spotlight/augmented-reality