Industri koran adalah sunset industry. Koran bukan lagi barang seksi yang menghasilkan profit. Tidak seperti di era 2000-an saat koran masih berjaya, saat ini jarang ditemui pengusaha yang mau menerbitkan koran. Malah, banyak koran tutup karena kehilangan revenue dari sponsor dan pelanggan.

Langkah Dahlan Iskan menerbitkan Harian DI's Way bagi saya bukan keputusan yang mengejutkan. Dahlan adalah orang yang begitu mencintai koran. Ia percaya koran tidak akan mati meski menghadapi gempuran media-media digital.

Saat Dahlan masih berada di Jawa Pos, keyakinan bahwa koran tidak akan mati tercermin dari produk-produk koran itu. Jawa Pos memilih tidak membesarkan media digitalnya, namun tetap mempertahankan koran cetak sebagai kekuatan utama.

Namun, Dahlan tidak menyebut Harian DI's Way sebagai koran. Ia menyebutnya sebagai media cetak yang pemikiran dan wujudnya telah disesuaikan dengan tuntutan zaman. Hmmm, sound promising.

Agar bisa bertahan di era digital, koran memang harus menyesuaikan zaman. Media cetak bukan lagi satu-satunya kekuatan utama, namun harus dikolaborasikan dengan media digital.

Saya teringat bagaimana salah satu koran terbesar di Amerika, New York Times (NYT), bertahan di era digital. Saat ini, jumlah pelanggan digital mereka melebihi jumlah pelanggan cetak. Data pada 2019, total jumlah pelanggan NYT (cetak dan digital) mencapai 4,7 juta. Dari angka itu, 3,8 juta adalah pelanggan produk-produk digital seperti website berita, TTS, dan aplikasi memasak. (Baca: New York Times Up to 4.7 Million Subscribers as Profits Dip).

Lain NYT, lain Guardian. Model bisnis yang dilakukan salah satu koran di Inggris itu jauh berbeda dibanding NYT. Guardian malah menggratiskan berita-berita yang ada di websitenya. Mereka mempunyai visi bahwa pembaca harus bisa menikmati karya-karya jurnalistik mereka secara gratis.

Lantas, bagaimana mereka mendapatkan revenue? Rupanya, Guardian mengajak para pembacanya untuk mendukung kerja-kerja jurnalistik mereka dengan cara memberikan donasi. Langkah ini berhasil. Guardian malah mencatatkan profit dengan banyaknya donasi. (Baca: Want to see what one digital future for newspapers looks like? Look at The Guardian, which isn’t losing money anymore)

NYT dan Guardian tidak lagi menjadikan sponsor sebagai revenue utama. Saat ini, koran tidak saja kehilangan revenue dari pembacanya, namun juga dari pendapatan iklan. Pengiklan memang tidak lagi menjadikan koran sebagai tempat mereka menaruh iklan. Ada platform-platform digital seperti Facebook dan Google yang menjadi alternatif. Di samping lebih bisa diterima audience, platform-platform ini juga murah bahkan gratis.

Apakah langkah dua koran di atas bisa diterapkan di Indonesia? Yang jelas sangat sulit. Tidak bisa dimungkiri, pembaca kita maunya berita itu gratis. Mereka ogah menganggarkan bujet untuk membeli berita. Apalagi banyak berita gratis dari media-media online tanah air. Begitu halnya dengan donasi. Orang lebih mudah memberikan donasi jika ada iming-iming surga. Sementara koran yang meminta donasi tidak bisa menjanjikan surga sebagai imbalannya.

Namun yang pasti, koran harus beradaptasi di era digital. Koran tidak bisa lagi mengandalkan hidup dari jualan cetak dan iklan. Kelemahan koran adalah barang ini tidak gratis. Selain itu, anak-anak milenial tidak terbiasa dengan koran cetak. Mereka familiar dengan gadget. Dengan fakta-fakta ini, koran harus menjadi barang istimewa yang mampu membuat orang mau mengeluarkan koceknya.

Lantas bagaimana dengan nasib Harian DI's Way? Semua tergantung dengan kebijakan owner-nya. Apakah masih ngotot jualan cetak saja atau beradaptasi dengan era digital. Selain itu, Harian DI's Way harus lepas dari bayang-bayang seorang Dahlan Iskan. Kok bisa?

Tak bisa dibantah, nama Dahlan Iskan begitu menjual. Traffic disway.id yang mencapai jutaan pembaca per bulan tak bisa dilepas dari faktor Dahlan. Begitu pula dengan Harian Disway. Orang mau membeli Harian Disway juga karena adanya Dahlan di harian itu.

Hal ini sama dengan Jawa Pos di era Dahlan. Pembaca begitu loyal dengan Jawa Pos karena ada Dahlan di sana. Pesona Dahlan begitu luar biasa. Itulah keberhasilan personal branding seorang Dahlan Iskan. Saat Dahlan tidak lagi ada di Jawa Pos, kekuatan media itu berkurang.

Jawa Pos begitu kuat mengakar di Surabaya dan Jawa Timur karena Dahlan begitu piawai dalam hal pengelolaan. Sayangnya, saya melihat Jawa Pos gagal dalam membangun sistem. Jawa Pos kuat karena orangnya, bukan sistemnya. Orangnya menghilang, Jawa Pos pun melemah. Padahal sistem yang baik bisa menghasilkan regenerasi yang baik pula. Dan itu tidak saya lihat di Jawa Pos.

Harian DI's Way bisa saja mengulangi hal yang sama. Bukan memperkuat sistem namun hanya menjual nama besar Dahlan Iskan. Jika ini yang terjadi, maka harian ini tidak akan lama hidupnya. Harian ini dan tentu saja koran-koran lain idealnya harus menjual produk berkualitas.

Barang jualan media adalah jurnalisme. Namun ini pun belum menjadi jaminan sebuah media bisa laku. Harus ada langkah extraordinary dari owner agar medianya laku.

Apa pun itu, saya mengapresiasi terbitnya Harian DI's Way. Sayang jika ilmu Dahlan Iskan tidak ditransfer melalui koran eh harian, sebuah media yang begitu dicintainya. Soal apakah media ini bisa survive atau tidak, itu lain soal.