Peneliti
1 bulan lalu · 97 view · 4 min baca menit baca · Gaya Hidup 18436_76919.jpg
VectorStock

Hari Tanpa Tembakau?

Ada posting di Instagram (IG) yang menuliskan dengan huruf besar bahwa hari ini adalah Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei 2019. 

Posting itu bergambar dua tangan yang berbeda. Yang satu memegang rokok yang seolah-olah menawarkan rokok pada tangan yang lain. Dan tangan yang lain itu tampak menolak rokok tersebut. Kemudian di bawah posting itu ditambahkan kata-kata: Save Our Lung, matikan rokokmu sekarang!  

Oh, ada toh Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Untuk apa, ya? Siapa yang menginginkannya? Bukan seindonesia, tapi sedunia yang artinya hari ini diperingati di seluruh dunia dan mungkin dengan persetujuan seluruh dunia. Wow!

Tembakau itu apa, sih?

Kita sering mendengar kata tembakau, namun kita belum mengetahui jelas apa sih tembakau itu. Kita hanya mengetahui tembakau itu rokok. 

Menurut mbah Google, tembakau adalah produk pertanian yang diproses dari daun tanaman Genus Nicotiana. Tembakau digunakan sebagai pestisida, dan dalam bentuk nikotin tartart dapat digunakan sebagai obat jika dikonsumsi. Pada umumnya, tembakau dibuat menjadi rokok, tembakau kunyah, dan lain sebagainya.

Memang bentuk tembakau yang paling familiar adalah rokok. Wajar kemudian kalau gambar yang ditujukkan dari IG tadi adalah orang yang menawarkan dan menolak rokok. Dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) atau World No Tobacco Day tahun ini menyerukan kepada para perokok agar berpuasa tidak merokok (mengisap tembakau) selama 24 jam serentak di seluruh dunia.

Menurut berita online yang kubaca mengatakan hal ini bertujuan untuk menarik perhatian dunia mengenai menyebarluasnya kebiasaan merokok dan dampak buruknya terhadap kesehatan. Dan diperkirakan kebiasaan merokok setiap tahunnya menyebabkan kematian sebanyak 5,4 juta jiwa.


Mengapa orang (perempuan) suka merokok?

Mengapa orang (masih) suka merokok? Atau mengapa orang (masih) susah dihentikan untuk berhenti merokok? 

Walau berita online di atas sudah memberitakan tentang kematian 5,4 jiwa setiap tahunnya. Atau di belakang produk rokok sudah memberitahukan peringatan dini, informasi bahaya yang ditimbulkan akibat merokok dengan gambar-gambar penyakit yang mematikan. Namun, tetap saja kita masih suka merokok dan susah berhenti darinya.

Orang yang suka merokok dan susah berhenti dari rokok bukan hanya di ranah kaum adam atau laki-laki. Tapi rokok juga berada di ranah perempuan, milik perempuan. Aku berasumsi begini karena rokok juga menjadi isu yang sangat seksi bagi perempuan.

Aku pikir, tidak ada bedanya perempuan zaman old dan zaman now dalam hal merokok. Walau mungkin sama-sama memiliki maksud tertentu dalam merokok dengan tujuan yang berbeda. Seperti cerita-cerita di bawah ini.

Seorang nenek merokok di kampungku karena kebiasaannya. Dan kebiasaan merokok itu sudah turun-temurun dilakukannya karena nenek-nenek leluhurnya telah melakukan itu juga sejak dulu. Jadi, di sini ceritanya, dia mengikuti tradisi leluhurnya.

Adik perempuanku pernah semobil sewaan dengan seorang ibu yang mengatakan kalau sewaktu dia mengidam adalah merokok bukan ngidam karena ingin makan ini dan makan itu. Malah dengan merokok membuatnya kuat dan bersemangat (jadi gimana dengan hasil penelitian itu, ya? Bahaya buat janin?).

Kemudian ibuku sendiri pernah merokok dalam bentuk tembakau karena mengobati dirinya dan adik laki-lakiku ketika sakit panas. Katanya, rokok mengandung obat sehingga hawa rokok bagus untuk dirinya, dan asap panasnya dipakai sebagai media penyembuh dengan meniupkannya ke tubuh si adik laki-lakiku tadi.

Kakak perempuanku dulu merokok ketika kuliah di jurusan pertanian sewaktu di Jogja. Dia merokok untuk mendapatkan inspirasi ketika mengerjakan tugas. 

Sepupu perempuanku yang perokok berat adalah seorang perempuan tangguh. Dia bisa melakukan banyak perjalanan keliling Indonesia dengan luar biasa dan mengerjakan pekerjaannya dengan sehat walafiat meski ditemani dengan rokok.

Teman akrabku di kampus dulu, seorang perempuan yang cantik, dia merokok karena stres dengan pacarnya dan keluarganya. Katanya, rokok membuat dia percaya diri lagi. 

Nah, contoh perempuan-perempuan yang merokok di atas menemukan ada kebaikan dalam rokok. Sebaliknya, mereka tidak mendapati bahaya merokok.

Laki-laki tidak merokok itu keren, tapi perempuan merokok itu lebih keren. Waduh! Maksudku, aku sendiri kadang sebel sekali kalau melihat laki-laki yang merokok. Bukan karena mereka merokok. Tapi, merokok yang tidak pada tempatnya. Misalnya, di ruangan tertutup seperti di mobil angkot. Mereka jadi gak keren BGT!

Tapi, secara pribadi, aku tidak terlalu suka dengan laki-laki pengisap itu. Alasannya, mereka akan lebih keren tanpa asap karena lebih ke gaya hidup sehat saja. Walau, ada juga teman perempuanku yang cinta sekali pada pacarnya karena jatuh cinta dengan gaya macho-nya merokok.


Pesan yang tidak sampai?

Bagaimana menghentikan merokok? Hari tanpa tembakau sedunia jika perempuan dan laki-laki (masih) banyak yang merokok. Dan merokok menjadi suatu kebutuhan mereka yang pasti punya alasan masing-masing mengapa mereka merokok.

Jadi, apakah pesan negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mencetuskan Hari Tanpa Tembakau Sedunia atau World No Tobacco Day ini sejak pada tahun 1987 ini sampai walau hanya sehari saja setiap 31 Mei?

Entahlah, apakah hanya di kota-kota besar, namun tidak sampai ke kampung-kampung. Karena katanya ada pawai, demontrasi, kampanye iklan, komunikasi langsung dengan masyarakat, poster, dan program-program pendidikan. Aku pribadi malah mendapatkannya dari media sosial seorang kawan.

Tapi yang penting untuk bulan dan hari ini, bukan Hari Tanpa Sembako, ya? Hari ini banyak yang sudah berbagi sembako dan zakat malnya.

Majene, 310519.

Artikel Terkait