Hari ini saya santri, besok saya masih santri, lusa pun demikian, dan seterusnya. Saya masih akan beridentitas santri. 10 tahun lebih saya hidup di lingkungan pesantren yang serba agamis. Menghabiskan waktu 7 tahun di Pesantren besar, Kalimantan Selatan dan kini memasuki tahun ke-4 di Pesantren Mahasiswa, Tangerang Selatan. Dan dalam rentang waktu yang cukup lama itu, saya telah mempelajari banyak hal. Meski kerap saya merasa malu, sebab di hadapan orang lain, lebih sering tidak menunjukan perilaku seorang santri yang berakhlak baik.

Kemarin, tepatnya 22 Oktober 2016, diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Hari di mana Resolusi Jihad yang dicanangkan Mbah Hasyim, berpuluh tahun lalu, agar menggerakan santri-santri Tebu Ireng, untuk membangun kekuatan dalam melawan penjajahan kembali dikenang. Gegap gempita perayaan kirab, pawai dan pertunjukan kebudayaan dilaksanakan di alun-alun kabupaten, desa, dan kota-kota besar. Semua santri turun ke jalan, antusias menyambut hari yang medompleng status mereka: Santri.

Sebagai santri yang kurang suka turun ke jalan, saya pun turut merayakannya dengan cara saya sendiri, yaitu dengan berkunjung ke toko buku, dan kalap membeli 3 buku sekaligus; The Old Mand And The Sea, Ernest Hermingway. Hantu-Hantu Marx, Jacques Derrida, dan tentu saja buku yang sejak bulan lalu saya incar, Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu-nya Joko Pinurbo.

Saya bahagia menjadi santri menjengkelkan, yang sok kekiri-kirian, sok puitis, dan sok mengerti dengan isi buku yang selama ini saya beli.

***

Bila dewasa ini, santri hanya diartikan sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan pesantren, duduk bersila mengaji pada kiai-kiai, bergelut dengan kitab-kitab klasik, tinggal di asrama bersama kawan sejawat yang berasal dari pelbagai daerah, saya rasa, sangat tidak bijak. Terlalu sempit.

Bagi saya, siapa pun, selama ia menunjukan ciri penganut agama yang taat dan mengerti benar bagaimana cara berperilaku yang baik dalam menjalin relasi, maka ia berhak juga disebut santri.

***

Tulisan pendek ini tentu tidak sok-sokan (seperti penulisnya yang kadung menjengkelkan) ingin me-redifinisi istilah santri itu sendiri. Kalau pun iya, dan terpaksa disepakati, boleh jadi bisa dipertimbangkan kemudian.

Saya ingin bercerita sedikit.

Suatu hari, kira-kira belum ada sebulan yang lalu, saya sempat berdiskusi dengan salah seorang Mahasiswa senior yang sedang berupaya ingin melanjutkan S2 di Columbia University, USA. Ia lulusan salah satu SMA di Jakarta, tak pernah spesifik belajar agama selain dari ceramah Kiai kampung dan buku-buku terjemahan. Tak tanggung-tanggung, hampir 3 jam kami berbincang, membicarakan banyak hal sekitar dan luar kampus.

Satu yang sempat saya catat, ketika ia menyinggung tentang bagaimana buruknya sebagian oknum kampus --kami katakan oknum, tentu, karena tidak juga semua demikian, dalam menjalin relasi, terutama dengan tamu-tamu dari luar yang mereka undang sebagai pembicara. Para pembicara yang bukan politisi, melainkan para pakar suatu bidang kelimuan dan juga para pelaku seni. Mereka diundang di suatu acara seminar atau workshop, usai acara itu tamu terhormat diberi fee juga ucapan terimakasih telah berkenan hadir, dan kemudian menuju area parkir untuk pulang sendiri. Hanya sebatas itu. Tidak lebih.

Perlakuan itu menjadi berbeda, jika yang datang adalah pejabat, birokrat atau pun politisi. 

Senior saya itu menyatakan, ia terkadang merasa heran, kampus sebagai institusi tertinggi di ranah keilmuan, namun cenderung mengenyampingkan nilai-nilai moral paling dasar yang justru diajarkan di tingkat bawah, seperti pesantren, tentang bagaimana menghormati para pakar keilmuan. Tak sedikit orang di luar sana, yang memiliki anggapan sinis kepada para sarjana, bahwa kemapanan intelektualitas yang dimiliki tidak diiringi dengan kemapanan perilaku.

Ia mengatakan, kalau nilai-nilai kesederhanaan dan mengayomi tamu, lebih-lebih kepada para pakar keilmuan, seiring waktu mulai tergerus. Kita masih perlu ilmu orang kampung; bagaimana mereka "ngopeni" tamu yang datang layaknya seorang raja. Agar mereka merasa dihargai dan dianggap membawa kegembiraan.

Ia merasa malu jika memiliki hubungan intens dengan orang lain, lebih-lebih dengan seorang ahli di bidang ilmu tertentu, hanya untuk suatu kepentingan mendesak saja.

***

Kritik dan solusi yang ditawarkan oleh senior saya tadi, setidaknya mencirikan identitas seorang santri sebagaimana lazimnya, dimana pendidikan moral lebih diutamakan daripada konten pengetahuan itu sendiri. Meski ia seorang lulusan SMA, menempuh S1 di jurusan Sastra Inggris, dan ingin melanjutkan S2-nya masih di jurusan Sastra, bagi saya, ia adalah seorang santri. Walau ia tidak intim menggeluti ilmu agama, namun ada ciri yang dominan dalam dirinya. Ya, santri dalam definisi yang barangkali, agak berbeda dari biasanya.

Siapa pun, selama ia teguh berpegang dengan nilai-nilai agama dan berupaya mengutamakan moral dalam menjalin hubungan, baik kepada Tuhan mau pun manusia, maka ia juga layak disebut Santri. Sama seperti keumuman dalam penyebutan bagi hamba yang beriman dan beramal soleh.

Tulisan ini tentu terlalu singkat untuk menuntaskan hasil sebuah ide mau pun gagasan. Namun setidaknya, semoga dapat menjadi pemantik untuk lebih jauh didiskusikan.