Bahasa Indonesia sedang berada di rongga mulutku, ia menganggur. Bosan; melihat sejarahnya sendiri — memilah makna apa yang harus dipertahankan.

/

Tetapi mengapa huruf-huruf saling bergantung di papan tik? bagaimana cara mengetik di papan tik? apa yang harus diketik? oh, masa depan..

/

"Orang-orang dengan seenaknya, menjiplak tata bahasa yang kian semu"

Cetak-mengentak; depak-mengelak. Kata-kata tetap kalah, teknologi terbelah; membuncah dalam pelak.

/

Akankah kita menjadi generasi yang hanya terdiri dari potret bayi ketika kata-kata masih menetapkan catatan hidup masa lampau? 

Esok hari; kita hanyalah sebuah bahasa dalam sejarah kuburan, untuk mengingat puisi; semua telah terkikis. Untuk membuat (identity) — kita telah kehilangan museum aksara.

/

Aku membuang puisi hari ini; pragmatik berceceran di bak sampah. Jangan tulis satu puisi esok hari, atau selamanya sebuah makna akan meledak dan berontak; format penulisan baku, telanjur merekam di kepalaku — Kaku; bau.

/

Aku sedang sibuk mencuci kepala Afrizal Malna; tata bahasa kian rumit, seperti dahiku yang mengernyit membaca puisi selanjutnya 

Aku sedang sibuk membangun tabiat puisi — Tercemar; huruf-huruf membentuk kepulan gas industri.

/

Puisi sudah aku bunuh tadi pagi, mati. Semenjak senja menjadi karikatur robot-robot masa depan. 

/

Puisi sudah aku buang tadi pagi, basi. Sejak kopi merenovasi dirinya jadi cairan oli.

/

Tiba-tiba puisi punya deadline? maaf, aku bukan pentas robot yang menghasilkan sastra secara instan.

/

Lantas, sudahkah kepalamu menekan
kanal puisi hari ini?

Introjeksi Tentangmu

Kata-kata bertutur; mengabur. Bayang-bayang menggerayang di malam buta 

Ketika itu, bulan telah purnama — menjadi penumbra

Kita melihat cahaya yang sama, memandang warna yang sama 

Hitam dan putih; warna sari berkasih.. 

Kanalisasi Argumen

Tak seperti jum’at biasanya, ide kali ini telah tertambat oleh mesin tik, aku ditelan bersama lembaran kertas putih virtual

Waktu kerap kali menghabiskan kata-kata, kata-kata seakan menyikapi dirinya sendiri. Berkecamuk dalam lantunan suara, meliar di ruang yang gema

Pada saat yang tepat, sosialita sedang berkecimpung di dalam otak. Memaknai setiap kejadian yang ada. Memutus realita, hingga merantai diri dalam ekspektasi

"Pasti dan pasti, akan ada saatnya pengasinganku telah lepas dari penjara orang-orang tertutup"

Tetapi, langkah-langkah apa yang akan bermula di dalamnya? ah! aku masih saja bernyawa dalam dunia fantasi.

Makam di Sekolah Kesenian

Sebuah kanvas mencurahkan masalah negara dan rakyat, aku melukisnya dengan murung. Pekerja seni yang sedang sakit, di sini kita makan bersama-sama, bermain bersama-sama, letih bersama-sama 

Para pegawai yang remeh-temeh; tutup dan peluk telinga itu, "bisakah imajinasi membayar kesombongannya?" 

Seperti gerombolan monyet di kebun binatang — mereka berteriak-teriak meminta pisang, lalu terbirit-birit kembali ke wilayah aman.

Non (Identity)

Aku tidak mengerti cara bernapas; sekalipun dua kendara saling bertabrakan dan menghantui saksi mata

Sisi kepercayaan itu; antara yang memeluk dan menyikut. Telah ambruk di hadapanku

Tubuh yang hangus, seperti api mengingat ajalnya. Lewat keyakinan; kita mati di ujung kertas.

Agresi

Tubuh bengkok
lawan arus melenggak-lenggok

Telinga ramai seru igauan
teriak makna dimuntahkan

Biar sendiri di sini
kemerdekaan bangkit kembali

Biar jauh beribu-ribu
seribu aku; bunuh lebih dulu!

Negeri $ dan %

Dijual beberapa puisi: [$999] dari identitas harga pakaian. Promosi dan negosiasi seperti setan-setan proporsi yang kebanjiran pembeli.

1825 M

1825 m
matahari mengenang
kedalaman sajak-sajak
yang tenggelam

Barangkali kedalaman aku;
menginternir 1825 m
dari pelayar asing
dari nelayan-nelayan yang
meredup kebahagiaannya

Knot/knot/knot
knot/knot/knot
knot/knot/knot
knot/knot/knot
knot/knot/knot

24 jam meraba-raba terumbu karang
seperti relaksasi lilitan ular laut
gigitannya menjadi mesin-mesin diesel kapal
yang tenggelam di kolam rumahku

Kehidupan
1825 m
adalah misteri kematian
tubuh erabu.

2091

2091; hidup tanpa notifikasi, ia melewati jalur kabel tanah seratus tahun yang lalu. Dan kemudian; yang tidak akan datang kembali. Hari ini — yang kita ingat seperti masa lalu. Terjerat dalam dering di matamu

Lalu kematian; seperti fitur ponsel yang lepas dalam kecanggihannya sendiri. Menginjak aku dari puing-puing memori yang tersisa. Merekam keheningan di dalamnya; merekam kebisingan di luarnya — termasuk aku

Tetapi kini, aku datang kembali. Menjenguk dan memengkal di bawah tanah; kelahiran-kelahiran yang rusak, menghilangkan dirinya sendiri dari budaya non-pengarsipan

Mengapa orang-orang sibuk membangun sesuatu; tinggi — seperti meniagakan nasibnya sendiri-sendiri. Padahal, kebahagiaan sudah ia pecahkan oleh pamrihnya sendiri

Aku membayangkan masa depan adalah hari ini; seperti mencicipi kematian, lalu bermimpi datang dari hutan.

Makam Waktu

Di luar; aku pesan kuburan. Bunuh mereka! sebelum aku memancang nisanku sendiri di balik kesedihan

Aku tidak ada; tidak ada aku — tidak ada hidup 

Di balik monokrom selain diriku; hanyalah abu, hanyalah batu 

Tamat, sebuah renungan terhapus. Setelahku; istirahat panjang adalah napas yang sehat di masa depan.