Pada bulan Juli 1990, hari pertama saya masuk SD. Hari pertama sekolah juga, karena dari kecil tidak pernah merasakan TK, apalagi KB, PAUD atau apalah namanya. Saya tidak merasakan keriangan sekolah dini tersebut, sangat berbeda dengan warga Probolinggo kota.

Jangan ditanya apakah sudah mahir calistung, berbicara dalam Bahasa Indonesia saja belum lancar. Maklum, karena saya lahir di kampung yg hanya sedikit orang kota pernah mendengar nama desaku. Bahkan ketika SMA, ada seorang teman yang bertanya asalku.

Saya jawab, "dari Sumberasih", dengan logat madura yg kental. Temanku bingung dan menimpali "kalo kecamatannya apa?" Padahal Sumberasih adalah nama kecamatanku. Tebakanku benar, orang kota tidak akan tahu di mana itu Desa Mentor.

Di hari pertama masuk SD tersebut, saya bangun sangat pagi. Sekitar jam 3 atau jam 4. Bukan, saya bangun pagi bukan karena antusias hendak bersekolah. Saya bangun pagi karena ikut ibu mencari kayu bakar sisa panen tebu. Di tahun 1980-1990-an, sekitar bulan Juli adalah masa panen tebu. Di era itu, petani diwajibkan menanam tebu oleh pemerintah orde baru melalui program TRI (Tebu Rakyat Indonesia).

TRI Adalah program intensifikasi penanaman tebu dalam rangka menunjang industri gula Indonesia yang ditetapkan melalui Instruksi Presiden No. 9 tahun 1975. Pada prinsipnya program ini bertujuan: (1) meningkatkan pendapatan petani. (2) memenuhi kebutuhan gula dalam negeri. (3) mengalihkan sistem sewa menjadi sistem budi daya tebu di lahan sendiri, sehingga para petani menjadi tuan di tanahnya sendiri.

Sebelum program TRI dicanangkan, pabrik-pabrik gula, yang sebagian besar berada di Pulau Jawa, menyewa tanah milik petani untuk ditanami tebu. Dengan sistem sewa ini para petani pemilik tanah hanya menerima penghasilan tetap berupa sewa tanah per musim tanam, tanpa memperhitungkan hasil produksi tanah yang disewakan.

Tingkat sewa yang ditetapkan oleh pabrik-pabrik gula tersebut (biasanya melalui camat dan lurah setempat) pada waktu itu sudah tidak memadai lagi, umumnya jauh tertinggal oleh inflasi, sehingga jumlah areal yang tersedia untuk disewakan semakin menciut. Keadaan ini dianggap membahayakan perkembangan industri gula nasional di masa mendatang.

Programnya sangat manis dibaca, tapi kenyataannya sangat pahit. Hasil panen yang sedikit, camat/kepala desa seenaknya menentukan kualitas tebu ketika panen. Sebenarnya istilah panen ini kurang tepat, karena sesungguhnya panen identik dengan banyak uang dan kebahagian lainnya. Tapi tidak dengan petani tebu, panen kadang hanya menghasilkan beberapa puluh ribu atau beberapa kg gula, setelah menunggu selama beberapa bulan.

Ketika panen tebu selesai, sisa-sisa daun tebu dibakar saat malam hari. Api begitu cepat melahap sisa-sisa daun tebu, dibantu tiupan angin gending yang kencang dan kering. Apinya merah menyala di tengah kegelapan sawah.

Bukan hanya sawah yang gelap, rumah-rumah warga pun gelap, karena hanya mengandalkan lampu minyak. Sebelum bapakku meninggal, rumahku paling terang di antara rumah-rumah tetanggaku. Pada saat itu bapakku sudah memiliki lampu petromax, kemewahan di masa itu. Kemewahan yang tidak saya rasakan ketika sudah yatim.

Dari sisa-sisa daun tebu yang terbakar tersebut, ibu-ibu di kampung saya mengumpulkan sisa potongan tebu untuk dikeringkan dan digunakan sebagai kayu bakar untuk memasak. Ibu-ibu berangkat sepagi mungkin, selesai salat subuh mereka langsung ke sawah.

Setelah matahari agak tinggi, saya dan ibu pulang. Ia akan memandikanku, memakaikan seragam baru dan sepatu baru. Tentunya setelah sarapan nasi jagung dengan lauk seadanya. Karena pada bulan itu masih musim kemarau, anak SD di sekolah kami memakai sepatu. Sementara saat musim hujan, kami lebih sering memakai sandal. Sandal lebih mudah dicuci setelah melewati jalan ke sekolah yang becek dan berlumpur.

Sebab, di masa pemerintahan jendral yang sering bertanya "enak jamanku tho?" itu, jalan di kampungku masih belum diaspal. Hanya tanah. Sangat becek dan tanahnya sangat pulen ketika basah. Mirip ketan. Cukup untuk membuat sandal jepit putus, begitu gurauan orang di kampung kami.

Merupakan pemandangan yang lumrah melihat anak SD berangkat sekolah dengan nyeker (bertelanjang kaki), sepatu atau sandalnya dijinjing. Sangat kontras dengan tetanggaku yang sekolah di kota, berangkat dengat sepatu dan kaos kaki bersih, baju bersih dan disetrika, dan diantar oleh orang tuanya. Sejauh ingatanku, seragamku tidak pernah disetrika ketika SD. Saat sudah SMP, seragamku disetrika ketika akan ujian catur wulan saja. Entah apa hubungannya.

Pada saat itu, saya tidak antar oleh ibu, hanya ikut kakak yang sudah kelas 4 SD. Seingatku, ibu tidak pernah datang ke sekolah. Karena di sekolahku tidak mewajibkan orang tua hadir di hari pertama sekolah atau bahkan saat pembagian rapor setelah ujian catur wulan berakhir. Begitulah kami menghabiskan waktu selama 6 tahun sekolah dengan fasilitas seadanya, uang saku seadanya, guru seadanya dan prestasi seadanya.