“In school, you learn how to learn.” Kutipan tersebut menggambarkan betapa pentingnya ruang-ruang kelas di sekolah sebagai tempat belajar dan mengajar. 

Sayangnya, ruang kelas yang biasanya menjadi tempat bertatap muka dan berinteraksi guru dan siswa, mau tidak mau, harus berhenti sejenak dikarenakan adanya keharusan social atau physical distancing demi mencegah meluasnya penyebaran virus korona. Bahkan, hari pendidikan yang sangat identik dengan sekolah, upacara, dan ruang kelas harus beradaptasi dengan adanya pandemi ini.

Hingga Kamis, 30 April 2020, WHO mencatat sudah 213 negara terdampak virus korona ini, dengan jumlah kasus sebanyak 3.024.059 dan korban jiwa mencapai 208.112. Sedangkan di Indonesia sendiri telah tercatat 9.771 kasus positif, 1.391 dinyatakan sembuh, dan 784 korban meninggal dunia. 

Hal ini berdampak pada perubahan sosial di berbagai sektor yang dialami oleh masyarakat dari sektor ekonomi hingga pendidikan. Hampir semua negara di dunia yang terdampak memberlakukan pembelajaran jarak jauh. Akibatnya, proses belajar dan mengajar yang biasanya dilakukan secara tatap muka di ruang kelas harus berpindah ke rumah masing-masing.

Seperti negara lainnya, proses Kegiatan Belajar Mengajar di Indonesia pun harus dilaksanakan dari rumah, merujuk pada Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan COVID-19 pada Satuan Pendidikan, dan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (COVID- 19). 

Hal ini mendadak menyebabkan banyak sekolah harus bergerak cepat mempersiapkan pembelajaran sesuai dengan kemampuan dari sekolah masing-masing. 

Pada akhirnya, kita semua sedang dipaksa untuk bertransformasi ke dunia pendidikan digital yang sebenarnya sudah ada sejak lama, namun cukup sulit dilaksanakan sebelumnya. Kini, ketika tidak ada lagi ruang kelas untuk belajar, semuanya harus menerima digitalisasi pendidikan.

Efektifkah Pembelajaran Daring di Indonesia?

Berdasarkan data dari We Are Social, pada 2020 disebutkan ada 175,4 juta dari 272,1 juta jiwa penduduk Indonesia, maka itu artinya baru 64% penduduk di Indonesia yang sudah menggunakan internet. 

Data tersebut tidak mencakup seberapa banyak masyarakat yang sudah melek dalam penggunaan internet dalam dunia pendidikan. Artinya, masih banyak sekolah di Indonesia yang tidak melaksanakan pembelajaran daring dikarenakan keterbatasan sarana, baik dari guru dan siswa.

Kita ambil contoh dari salah satu guru di Sumenep yang belum lama ini viral, Avan Fathurahman. Dirinya viral setelah banyak postingan di media sosial yang menyebutkan bahwa dirinya terpaksa mengajar dari rumah ke rumah dikarenakan siswanya tidak memiliki handphone. 

Tentu saja Pak Arvan hanyalah salah satu contoh dari sekian banyaknya guru di Indonesia yang kesulitan dalam mengajar dalam situasi pandemi ini. Artinya, masih banyak sekolah yang kemungkinan tidak melakukan pembelajaran sama sekali setiap harinya.

Pasalnya, Kementerian Pendidikan sedang menyiapkan skenario pendidikan daring hingga bulan Desember. Hal ini akan sangat disayangkan jika masih banyak siswa tidak benar-benar merasakan kegiatan belajar hingga akhir tahun.

Pembelajaran daring memang tidak seefektif sistem tatap muka, terlebih pada saat pandemi seperti ini. Oleh karena itu, Pemerintah harus mempersiapkan infrastruktur dan perencanaan yang baik agar semua guru dan siswa dapat melakukan Kegiatan Belajar dan Mengajar.

Dipaksa Digitalisasi Pendidikan

Sebetulnya, internet sendiri sudah bukan barang asing bagi banyak guru dan siswa di Indonesia. Namun pada pelaksanaannya sebelum terjadi pandemi ini, belum banyak guru dan siswa menggunakan gawainya untuk kegiatan KBM sehari-hari. Gawai digunakan masih sebatas untuk bermedia sosial, bermain game, membuka online shop, hingga menonton video online.

Saat ini, proses Kegiatan Belajar Mengajar daring sudah berlangsung sekitar 2 bulan lamanya. Kesiapan guru dan siswa dalam home learning harus dipaksa siap. Tanpa perencanaan matang jauh-jauh hari, KBM berubah dari tatap muka menjadi daring dengan memanfaatkan teknologi dan internet.

Guru dan murid yang sudah mendapatkan akses internet dan memiliki teknologi pendukung untuk melaksanakan pembelajaran daring atau jarak jauh pun dimudahkan dengan banyaknya platform yang dapat digunakan dalam Kegiatan Belajar Mengajar. 

Tatap muka dapat dilakukan dengan platform Zoom, Google Hangout, Webex, Whatsapp, dll. Pemberian materi dan tugas dapat dilakukan melalui Google Classroom, Edmodo, Moodle, Schoology, Zenius, Ruangguru, Quipper, dll.

Pada akhirnya, adaptasi digitalisasi pendidikan yang selama ini cukup sulit dilaksanakan dalam dunia pendidikan menjadi lebih cepat terbangun. Karena sebetulnya, digitalisasi pendidikan merupakan salah satu pemecahan masalah pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia yang memiliki kondisi geografis kepulauan dan sangat majemuk.

Digitalisasi pendidikan di Indonesia sangat perlu adanya paksaan agar terjadi secara serentak dan lebih cepat, mulai dari pusat hingga guru dan siswa di daerah. 

Hari pendidikan di tengah situasi ini sepatutnya menjadi pembelajaran bagi pemerintah untuk membuat kebijakan dan mempersiapkan sarana prasarana yang merata untuk seluruh guru dan siswa di Indonesia. Harapannya, setelah pandemi ini akan tercipta era baru dengan dunia yang makin maju dan teknologi yang makin canggih dapat membantu percepatan pemerataan pendidikan di Indonesia.