di hari kerja nasional, aku berlibur
bersantai duduk di dekat taman
memandangi apa saja
apa saja

dari keramaian orang lain
seseorang memintaku menepi
sementara,
pada sepiku, orang beriuh
menuntut jeda
di hari kerja nasional, aku berlibur

Rujak Cingur

Moncong moncong berakhir di atas piring
Diulet dicampur menjadi satu dengan bumbu dan mayur
Biasanya, begitu cara membuat rujak cingur

Di sebuah warung:
Sambalnya berapa Mbak? Tanya seorang pedagang yang sabar
Delapan
Pakai cingur apa ndak Mbak? Pakai
Sembari menunggu, ia pandangi orang lalu lalang
Ia bertanya pada diri sendiri, kadang-kadang
Apakah kita bisa menjadi vegan? Ketika kita memesan rujak cingur?
Dimana rujak dimana cingur?

Nyanyian Hantu-hantu

"Bapak, bapak sedang pergi melancong. 
Padahal Bapak, Bapaku pandai bernyanyi, di kamar mandi, di panggung, di hajatan, di hadapan ratusan, ribuan orang. Bapak, bapaku yang luar biasa!
Bapak, Bapakku banyak sekali uangnya!
Bapak, Bapakku seorang penyanyi!"

sebab setan yang tak berhenti bernyanyi. sebab musabab muntab yang tak ada habisnya. ada lelaki tua, bertopeng dibalik lelaki muda, di balik nama-nama, bertopeng di balik tukang ledeng, tukang pipa, dan tukang-tukang yang lainnya.juga di balik hantu-hantu han tu han tu han tu han tu han. tu.

aku kuli tinta, yang tak seberapa gajinya, tak terlalu bahagia dan biasa-biasa saja. sebenarnya, tak cukup sudi menghadapi,
setan-setan yang tak berhenti bernyanyi. dan sebab itulah, aku menulis lagu-lagu di hari minggu. lagu la la la la la la yang terlalu biasa saja.

"Bapak, bapak sedang pergi melancong. 
Padahal Bapak, Bapaku pandai bernyanyi, di kamar mandi, di panggung, di hajatan, di hadapan ratusan, ribuan orang. Bapak, bapaku yang luar biasa!
Bapak, Bapakku banyak sekali uangnya!
Bapak, Bapakku seorang penyanyi!"

sebab setan yang tak berhenti bernyanyi. orang-orang membeli gendang. mberi irama berandai-andai jika itu lagu india.

Taman Anggrek

Zaman yang berlari, semakin cepat
Seperti didorong kekuatan gelombang
Nenek tua tersaruk-saruk
Dikerubungi lalat kinang miliknya
Duduk menatap jalan di beranda rumahnya
Di arus zaman termangu-mangu

Biduk tak lagi tengah
Hari-hari menjadi lengang
Menggerus daun, meramu segelas daun pepaya tua
Merebusnya, setengah kantang
Menguras nasi membusuk di dinding perut
Di tatapnya jua burung-burung bernyanyi, diantara pohon-pohon yang bergoyang-goyang
Suatu ketika ia akan kembali, memasuki lagi taman anggrek yang pernah ia kunjungi
Taman anggrek di dalam kenangan


Desember, Hujan dan Kembang Api

Desember telah menari bersama hujan menunggu kembang api

Setiap pagi ia diliput di halaman koran-koran dan majalah sastra. Menjadi primadona para pujangga. Desember dan hujan pun telah mengilhami seorang puitik menulis lagu tentang seseorang yang menggilai hujan dengan sangat melankoli. 

Kembang api tak pernah cemburu sebab ia akan tiba di penghujung tahun di langit yang tinggi ditatap jutaan mata. Seketika itu Desember, hujan dan kembang api akan bersatu seperti tanggal merah, hari libur, dan perempuan pekerja. Kami ingin makan lebih banyak, tidur lebih nyenyak, berlibur lebih panjang! Ia pejam mata dan berdo'a di penghujung tahun. 

(1)

Sepagi itu wangi beras yang dikaru menyeruak hingga ke ventilasi tetangga

Asap-asap dari kepul pawon yang melahap batang-batang dan daun pohon kelapa, blarak, berubah bara dan nganga api

Sepagi itu aroma tempe yang digoreng dan sambal korek dengan peras jeruk juga kemangi dari balik tudung saji, sebelum wangi daun-daun tembakau 

(2)

Ia pandangi kapal-kapal dan gurat tua juga segala penanda di atas telapak tangannya. Ia lihai melinting kertas manis dan menuang saus pada racik-racik daun kering. Secepat-cepatnya. 

Bunga-bunga cengkeh dari halaman rumahnya. Serupa labuh setiap terawang matanya. "Sejauh mana pun aku pergi, selalu kembali pada taman di halaman itu lagi..." 

Seusai sarapan, juga satu rantang dan sejerigen kopi yang ia sering bagi-bagi dengan tetangga kerjanya. Ia selalu ingat do'a tahun baru. 

(3) 

Perempuan Sumi peluhnya jatuh satu per satu. Ia seka berkali-kali tapi jarang tertangkap kamera, para perempuan fotografer yang membuat iklan besar di majalah-majalah. 

Di hari Rabu itu, ia mendapat sangu yang tak diduga-duga. Tambahan hasil kerja kerasnya. Ia akan pergi ke pasar membeli bandeng, ikan asap dan sedikit udang. Ia bayangkan akan menentemg satu keranjang belanja lebih banyak dari biasa. 

(4)

Sepagi itu wangi beras yang dikaru menyeruak hingga ke ventilasi tetangga.

Perempuan Sumi meramu lauk di pawon rumahnya. Ikan asap seruak di pagi buta sebelum wangi daun tembakau. Juga, wangi bunga cengkeh yang tak pernah jauh dari matanya.