"Baju baru, alhamdulillah, tuk dipakai di hari raya. Tak ada pun tak apa-apa, masih ada baju yang lama. Sepatu baru, alhamdulillah, tuk dipakai di hari raya. Tak ada pun tak apa-apa, masih ada sepatu yang lama."

Lagu jadul Dea Ananda yang berjudul Selamat Lebaran itu masih asyik untuk didengar menjelang hari lebaran tahun ini. Musiknya yang riang, dan suara penyanyinya enak didengar. 

Kita tidak butuh yang baru seperti baju, atau sepatu karena masih ada baju atau sepatu lain yang masih bisa kita dipakai. Hari raya bukan untuk berpesta-pesta, tapi yang penting, maaf lahir-batinnya.

Ketika saya asyik bernyanyi dengan lagu si Dea ini, di sisi lain, ada yang lagi membeli baju lebaran. Di tempat lain, ada yang menikmati jalanan karena mudik sebagai tradisi masyarakat Indonesia. Ada yang lagi sibuk membuat kue lebaran untuk disajikan kepada tamu yang bersilaturahmi. Ada yang tekun membaca Alquran menamatkan juz per juz. Ada yang merefleksi diri dengan berdoa dan zikir mengakhiri puasa. 

Di akhir bulan puasa ini, saya sedih, sekaligus merasa senang. Saya sedih karena bulan puasa akan meninggalkan kita. Momen indah di mana saya berspiritual ala saya akan berakhir tapi semoga berbekas. Saya senang karena sebentar lagi kita akan berlebaran, menyambut hari kemenangan. Menang karena menahan diri melawan lapar dan haus, hawa nafsu, dan lain sebagainya.

Selain itu, ada juga status di media sosial untuk seru-seruan yang membuat saya sedih karena statusnya menyangkut dengan politik. Senang karena lucu membuat tertawa dengan redaksi seperti ini:

"Menghitung hari, saudara sebangsa dan setanah air, tanggal 03 Juni 2019 akan dilaksanakan sidang Isbat untuk penetapan 1 syawal 1440 H. Apa pun hasilnya, marilah kita terima dengan lapang dada jangan lagi ada tuduhan CURANG, apalagi tuntutan untuk puasa ulang."

Waduh, gawat banget kalau sampai sidang Isbat dianggap curang. Lebih gawat lagi kalau mau puasa ulang. Maksudnya apa coba? 

Sidang Isbat itu sidangnya pemerintah yang diwakili oleh Kemenag. Sidang yang dihadiri oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya, seperti ahli astronomi juga perwakilan tokoh juga organisasi agama untuk menetapkan 1 Syawal 1440 tahun ini. Kalau puasa itu hak prerogatif Tuhan dalam menentukan diterimanya amal dan pahala seseorang. 

Saya jadi ingat dengan orang-orang yang menuntut KPU karena menganggap curang dan mau mengadakan pemilu ulang. Dan surat pengajuan mereka sudah sampai di Mahkamah Konstitusi (MK). Ups...

Kembali ke Konteks Indonesia

Ada video bagus yang membuat saya menjadi berbangga dan bernegara Indonesia. Video yang pernah viral ketika ada debat Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi, juga si pembawa acara, moderator debat, Ira Koesno yang diedit oleh Eka Gustiwana, seolah-olah bernyanyi dengan lagu seperti ini: 

"Na, Ena-ena, siapa pun yang menang, Ena-ena, kita ingin tenteram, ena-ena, jangan lihat perbedaan, ena-ena. Sa kita bisa, Indonesia maju, ena-ena, kita bisa, jangan gampang menuduh, kita bisa, jangan gampang membenci, new-new, boleh mendukung, boleh berdebat, tapi persatuan harus tetap kuat, manusiawi kalau kita berbeda, hak e. Ingat suara anda berharga, tuk masa depan Indonesia, Jokowi-Amin, Prabowo-Sandi, untuk Indonesia... (dan seterusnya)."

Video itu kreatif sekali dengan menggabungkan kata dan kalimat dari peserta debat. Pesan dari calon pemimpin-pemimpin kita, Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi, bahwa Indonesia ingin maju. Kita ingin tenteram, jangan melihat perbedaan, jangan gampang menuduh, jangan gampang membenci. Boleh mendukung, boleh berdebat, namun persatuan harus tetap kuat, siapa pun yang menang.

Orang besar yang di atas ingin kita menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, ingin kita bernegara dengan baik. Ingin kita menjadi Indonesia. Bukankah begitu? 

Kemudian, apa sih yang kita inginkan saat ini? Apa sih yang kita dambakan saat ini? Apa sih yang kita harapkan saat ini? Tentu kita ingin hidup yang aman, damai, sejahtera, dan sentosa.  

Orang yang telah berpuasa sejatinya merasakan damai, tenteram, dan tenang. Masyarakat Indonesia adalah bagian dari masyarakat dunia yang baik hatinya. Masyarakat yang cinta damai dan bahagia lahir batin. Apalagi menyambut hari yang fitri, Idulfitri.

Hmmm... Kepada kedua kubu yang menjagokan pemimpinnya, tolong, hentikan permusuhan, pertikaian, pertengkaran, dan lain sebagainya. 

Mari berdamai. Mari merayakan lebaran, melebarkan diri untuk saling bermaaf-maafan. Lebaran ini milik kita, milik bersama, milik seluruh rakyat Indonesia. Hari raya kemenangan untuk kita semua. Kemenangan Indonesia.

Kita menyambut hari yang fitri, Idulfitri, dengan kembali ke fitrah menjadi manusia sejati. Manusia yang menjadi manusia seutuhnya. Seperti pesan Gus Dur, yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.

Selamat lebaran, mohon maaf lahir & batin.