Kasus Harvey Weinstein yang mencuat dua tahun lalu turut menyibak kenangan lama yang sudah saya tidak pikirkan. Tepatnya yang saya taruh dengan sengaja jauh di pojokan agar tak terlihat lagi. Saya berhasil menyembunyikannya, tetapi ternyata tidak benar-benar melupakannya.  

Harvey mengingatkan saya akan mantan guru SD yang melakukan pelecehan kepada saya dan teman-teman saya. Saat itu saya masih duduk di kelas 1 SD.

Setiap kali kami meminta izin ke kamar kecil, dengan senyum (maaf) cabulnya ia akan menanyakan apa yang akan kami lakukan di sana, bagaimana kami melakukannya, apa nama lubang tempat keluarnya air seni, dan apakah kami dapat menunjukkan letaknya.

Saya masih ingat sebagian dari kami ikut tersenyum, antara malu dan jengah, dalam ketidakmengertian kami. Kami tersipu-sipu ala anak-anak sambil merasa ada kejanggalan, tetapi tetap menjawab atau bahkan menunjukkan bagian yang dimaksud. Ia akan tersenyum puas dan mengizinkan kami keluar. 

Ketika kami kembali, terkadang ia membiarkan kami langsung kembali ke tempat duduk. Kadang kala ia kembali mengajukan pertanyaan-pertanyaan tidak senonoh.

Setiap jam istirahat, guru ini akan berdiri entah di depan kelas atau di dalam kelas di balik jendela. Ia menonton siswi-siswi yang bermain loncat karet. Ia tertawa senang jika rok-rok para siswi ini tersingkap. 

Mengetahui warna celana dalam yang dikenakan si siswi adalah suatu kesenangan baginya. Ia bahkan mendatangi si siswi untuk mengatakan warna celana dalam yang ia kenakan.

Ketika saya duduk di kelas 2, saya terbebas darinya. Di sekolah saya ketika itu ada kelas pagi dan siang. Guru ini biasanya mengajar di siang hari. Saat saya duduk di kelas 2, saya ditempatkan di kelas pagi. Tetapi ketika saya duduk di kelas 3 SD, saya mendapat kelas siang dan saya kembali bertemu dengannya.

Ia sering mendatangi kelas saya untuk berdiskusi dengan wali kelas saya yang masih muda dan menarik. Setiap kali saya (dan atau teman saya) hendak ke kamar kecil, ia mengajukan pertanyaan yang sama yang saya terima ketika saya duduk di kelas 1. 

Wali kelas saya tidak mengatakan apa pun. Ia hanya tersenyum, sepertinya juga sama jengahnya seperti kami. Setidaknya itu yang tertanam dalam ingatan saya.

Suatu hari ketika saya sedang bersama seorang teman di toilet siswi, ia mendatangi kami. Ia melontarkan canda mengenai vagina kami. Antara terkejut, takut, dan marah, saya membentaknya, “Gila kamu!”

Saya masih ingat betapa berangnya ia dan betapa takutnya saya. Guru ini tinggi besar, dengan mata besar pula yang makin besar ketika ia membelalak. Ia meminta saya mengulangi apa yang saya katakan, dan entah mengapa meskipun dipenuhi rasa takut tetapi saya mengatakan kembali dengan nada yang sama keras seperti semula.

Jangan tanya dari mana saya belajar kata-kata itu, sudah pasti saya mendengarnya dari lingkungan sekitar. Tetapi tidak pernah saya ucapkan kata itu sebelum dan sesudahnya, baik di sekolah maupun di rumah. 

Saya tidak dapat menamakan perilakunya saat itu, tidak memahami juga apa yang sebenarnya saya rasakan, tetapi saya merasakan ketidaknyamanan dengan semua yang ia lakukan. Dan pada hari itu, seperti tiba-tiba saya sudah tidak ingin lagi menerima perlakuannya.

Ia menjadi sangat marah dan mengadukan saya kepada kepala sekolah. Kepala sekolah kami mengenal ayah saya dengan baik. Saat itu saya menjadi sangat takut. Kakak saya yang saat itu satu sekolah dengan saya, yang juga mengenal kelakuan guru ini, menenangkan saya.

Ketika saya dipanggil kepala sekolah, saya tidak dapat menjawab sepatah kata pun dicengkeram oleh rasa takut yang teramat sangat. 

(Belajar dari kenangan ini, saya jadi memahami bahwa ketika anak tidak menjawab, tidak serta-merta menunjukkan ia bersalah. Interpretasi yang juga mungkin dan bahkan jauh lebih mungkin adalah anak diliputi rasa takut yang kuat.)

Kepala sekolah tidak memanggil ayah saya. Saya lega karena saya tidak dapat membayangkan reaksi ayah saya. Bukan karena ia galak, ia bahkan tidak pernah marah kepada saya. Saya khawatir ia sedih dan kecewa atas perilaku saya.

Sejak itu saya hidup dalam ketakutan, takut kalau-kalau guru ini mendatangi saya. Sejak peristiwa itu, ia tidak pernah lagi mendatangi saya dan tidak pernah lagi datang ke kelas saya. Tetapi ia terus menghantui saya. 

Setiap berganti tahun ajaran, saya cemas jikalau ditempatkan di kelas siang. Untunglah saya ditempatkan di kelas pagi selama tiga tahun berikutnya. Meski demikian, saya selalu waswas kalau-kalau ia datang lebih awal dan kami akan berpapasan. Setiap jam istirahat dan sekolah usai, saya khawatir jikalau ia ada di sana.

Saat itu saya tinggal tidak terlalu jauh dari sekolah. Saya sering melihatnya membeli bensin di sebuah warung yang tidak jauh dari rumah saya. Saya bersembunyi setiap kali melihatnya. Ketika kami pindah rumah yang bertepatan dengan saya masuk SMP, saya merasa sangat lega, dan perlahan saya tidak lagi terobsesi dengan kenangan ini.

Belakangan ini, ketika saya teringat kembali peristiwa ini, saya bertanya-tanya mengapa ia tidak lagi mendatangi saya. Toh ketika peristiwa itu terjadi, saya sedang di kelas siang. 

Saya juga bertanya-tanya mengapa setelah itu ia tidak lagi berkeliaran menyaksikan siswi-siswi bermain loncat karet dengan tatapannya yang liar. Mengapa ayah saya tidak dipanggil? Guru ini memang tidak dikeluarkan, tetapi sepertinya ia menjadi lebih ‘beradab’. 

Mungkinkah sebenarnya kepala sekolah paham apa yang sebenarnya terjadi? Guru laki-laki yang berada di toilet siswi ketika dua siswi sedang buang air kecil, bukankah fakta ini saja sudah mencurigakan?

Entahlah saya tidak dapat menduga-duga. Saya hanya sesalkan mengapa dulu saya tidak bersikap lebih berani. Waktu itu rasa takut begitu menguasai saya. Ketakutan yang membuat saya memahami dan turut merasakan ketakutan anak-anak korban pelecehan dan kekerasan.

Ketika saya menuliskan kisah ini, saya masih diselimuti kemarahan. Marah karena ia telah membuat saya tercengkeram rasa takut selama bertahun-tahun. Membuat saya merasa bodoh mengapa dulu saya harus takut. Rasanya saya ingin memutar waktu kembali pada hari itu ketika saya dipanggil Kepala Sekolah. Saya ingin menjawab pertanyaan beliau dan menceritakan peristiwa yang sebenarnya.

Saya juga ingin bertanya kepada wali kelas saya mengapa ia diam saja. Apakah ia memberitahukan kepada Kepala Sekolah mengenai kelakuan guru itu terhadapnya dan para siswi? 

Tetapi saya mengerti bahwa saya tidak mungkin kembali kepada waktu itu. Yang dapat saya lakukan adalah menuliskan kisah ini.

Untuk sejumlah alasan tertentu, saya tidak dapat mengungkapkan identitasnya seperti yang dilakukan Sandra Muller dalam gerakan Balance Ton Porc. Tetapi saya merasa lega sudah "melempar" keluar mantan guru saya ini, saya sudah membebaskan diri darinya.  

Jika rekan-rekan ingin membagikan pengalaman terkait dengan pelecehan dan kekerasan dalam berbagai bentuknya, silakan Mulai Bicara. Saat ini waktunya kita ‘ayunkan’ keras ‘babi' itu, membebaskan diri darinya, melemparnya jauh keluar dari hidup kita.

Mohon maaf untuk penggunaan kata "babi", semoga tidak menimbulkan kesalahpahaman.