Terbilang muram, kejadian di Jakarta pada hari Rabu Pon 13 Mei 1998, bakal menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Peristiwa pada hari itu tak hanya menjadi titik puncak ketidakpercayaan kebanyakan masyarakat terhadap pemerintah pada era Orde Baru, namun juga menjadi titik awal adanya perubahan wajah sang Ibu Pertiwi yang menerima keberadaan sebuah reformasi.



Kabinet ini, yang seharusnya bertahan hingga tahun 2003, terpaksa berhenti lebih dini...

Berawal Krisis Moneter

Banyak hal yang masih menjadi misteri sebab musabab sebenarnya sehingga kerusuhan di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia terjadi pada hari itu dan beberapa hari setelahnya. Terjadinya krisis moneter (Krismon) tahun sebelumnya, pada kisaran bulan Maret 1997, menjadi penyebab utamanya.

Kala itu, nilai tukar mata uang Dollar Amerika Serikat (USD) yang tadinya berkisar Rp. 1.500,- untuk setiap 1 USD, ketika memasuki pertengahan bulan Maret perlahan naik menjadi dua kali lipat menjadi Rp. 3.000-an untuk setiap 1 USD.

Dari bulan ke bulan nilai tukar uang USD terus naik, Rupiah terus merosot, hingga puncaknya pada awal bulan Mei 1998 menjadi Rp. 17.000-an per 1 USD.

Harga-harga kebutuhan pokok mulai merambat naik waktu itu. Masyarakat juga mulai dilanda panik. Berujung ada ketidakpercayaan kepada pemerintah yang waktu itu dikelola oleh suatu Kabinet bernama Kabinet Pembangunan VII.

Selang seminggu sejak peristiwa yang dikenal dengan kerusuhan Mei 1998 itu, maka seri pengelolaan pemerintahan dalam sistem Kabinet selama lima tahunan sejak Kabinet Pembangunan I pada pertengahan tahun 1968, mendadak berhenti sampai Kabinet Pembangunan VII.

Suatu Kabinet pemerintah Orde baru hasil pemilihan umum tahun 1996 yang paling berdarah dan brutal selama sejarah Pemilu di Indonesia. Kabinet ini, yang seharusnya bertahan hingga tahun 2003, terpaksa berhenti lebih dini, dengan ditandainya pernyataan mundur Pak HM Soeharto selaku presiden RI, mandataris MPR/DPR pada hari Kemis Legi, 21 Mei 1998.



...perkembangan terjadinya demonstrasi mahasiswa yang mulai menduduki gedung DPR/MPR.

Kerusuhan Tanpa Peringatan

Suasana tak hanya Jakarta, bahkan hingga seluruh wilayah secara nasional mulai 13 hingga 21 Mei 1998 begitu genting dan mencekam, nyaris SOB, Staat van Oorlog en Beleg, suatu situasi darurat yang ditetapkan oleh pemerintah bagi warganya agar bersiap menghadapi perubahan luar biasa dikarenakan pemerintah menghadapi situasi darurat yang bahkan memungkinkan terjadinya peperangan. State of Emergency, istilah lainnya.

Saya waktu itu masih lajang, bekerja di sebuah lembaga laboratorium uji dan kalibrasi sebuah perusahaan Superintending yang terletak di kawasan Cibitung Jawa Barat, sekitar 30-an kilometer arah timur Jakarta.

Sehari sebelumnya, Selasa Pahing, 12 Mei 1998, situasi Jakarta tampak masih normal, meski tersiar kabar tentang adanya penembakan terhadap beberapa mahasiswa yang berunjuk rasa di kawasan Semanggi, pada siang harinya.

Saya waktu itu juga bekerja normal, rutin seharian mulai pagi hingga pulang tiba di daerah Cawang menjelang Maghrib, lalu saya melanjutkan perjalanan naik bus tingkat PPD warna biru tua, menuju daerah ke tempat indekos saya, di Jl. Rawajaya III, di bilangan Bojana Tirta tak jauh dari Kantor Pusat Bea dan Cukai, Jakarta Timur.

Setelah mandi, makan malam dan sembayang Isya, saya istirahat leyeh-leyeh di kamar kosan, sambil menonton televisi mungil ukuran 14 inchi merk Grundig yang saya beli di pasar Jatinegara dua tahun sebelumnya.

Saya ikuti isi berita-berita televisi pada kebanyakan stasiun televisi menyiarkan kabar yang terjadi hari itu, terutama tentang perkembangan terjadinya demonstrasi mahasiswa yang mulai menduduki gedung DPR/MPR.

Juga, waktu itu sejak beberapa bulan pasca Krismon, saat mulai ada gerakan demo mahasiswa dari beberapa daerah yang nglurug ke Jakarta, saya setel radio gelombang SW untuk mendapatkan siaran BBC berbahasa Indonesia selama 24 jam tiada henti, guna mendapat kabar terbaru perihal kondisi yang berpeluang memburuk.

Isi berita tak menunjukkan bakal terjadi apa-apa keesokan hari, tanpa ada peringatan maupun himbauan dari pihak yang berwenang terkait kondisi terbaru di Jakarta.



...mulai tersiar kabar bahwa Jakarta dilanda kerusuhan, banyak tempat terjadi kebakaran.

Mendadak Gempar

Pagi 13 Mei 1998, seperti biasa saya naik bus hingga 3 kali ganti dari bilangan Rawamangun hingga Cibitung. Suasana normal, tak ada pembatasan jalan, banyak orang berkegiatan rutin sehari-hari terlihat hilir mudik menggunakan kendaraan umum, pribadi, juga terlihat berjalan kaki.

Pun demikian saya, bekerja seperti biasa menjalani tugas sebagaimana analis laboratorium kimia lingkungan, melakukan pengujian terhadap parameter-parameter fisika, kimia, organokhlorin yang terkandung sampel-sampel uji menggunakan metode tertentu, dengan menjamin presisi dan akurasi akan hasil ujinya.

Menjelang istirahat siang, mulai tersiar kabar bahwa Jakarta dilanda kerusuhan, banyak tempat terjadi kebakaran.

Setelah istirahat siang, sekitar pukul setengah dua terdengar pengumuman yang langsung disampaikan oleh Pimpinan Laboratorium. Isi pengumumannya serius bahwa kondisi baik di Jakarta dan sekitarnya sedang tidak aman.

Guna mengantisipasi kondisi lebih buruk, maka seluruh pekerja laboratorium diijinkan pulang, disarankan untuk tenang tak panik, pulangnya bersamaan dengan rekan-rekan, tak sendirian, minimal berduaan.

Mulailah saya dan beberapa rekan segera menyelesaikan pekerjaan hari itu. Beberapa pekerjaan yang belum memungkinkan diselesaikan hari itu, saya simpan sebagai pending matter dan memastikan tak ada alat-alat laboratorim uji yang masih beroperasi.

Saya pun bersiap pulang menuju tempat kosan, nebeng bareng kendaraan roda empat milik seorang sahabat.

Kami hanya berdua, karena rekan-rekan lainnya belum ada yang setujuan ke wilayah Rawangun. Sahabat saya ini tinggal di Rawasari. Sementara saya di Rawajaya.

Serba Rawa pokoknya. Ketahuan daerah ini dulunya hamparan Rawa, makanya kadang-kadang jika hujan deras, banjir bakal menggenang setinggi lebih mata kaki.

Sepatu saya pernah jadi korban, saya pakai berjalan menembus genangan air di daerah kosan. Padahal sepatu saya pas itu masih baru berusia tiga hari dari gudang toko. Buatan Jerman lagi, handmade merknya Naturano, ada gambar petani di sol bagian dalam.

Sepatu hasil nabung berbulan-bulan, kerendam air pas masih kinyis-kinyis. Sudah nasibnya, kulitnya malah awet lima tahunan kemudian.



“Ya Allah, apa yang terjadi.” Tanya saya dalam hati

Aman di Kedai Bakwan

Saya duduk di sebelah kiri depan mendampingi sahabat mengemudi kendaraannya sebuah sedan warna putih Toyota Corolla DX keluaran tahun 1984.

Setiba di pintu tol dalam kota arah ke Jakarta, kami merasakan suasana mencekam. Tambah mengerikan setelah kami berada di jalan layang menuju pintu tol keluar di Pisangan Lama.

Tampak dari atas jalan layang, banyak gumpalan asap-asap hitam membubung sejauh mata memandang. Benar, Jakarta sedang kebakaran, suasana sudah kayak perang kota.

Setelah keluar jalan tol layang, kami turun di wilayah Prumpung, banyak orang berkerumun di depan. Tampak beberapa mobil memperlambat dan berhenti sejenak di tengah-tengah kerumunan, tak lama kemudian mobilnya melanjutkan perjalanan.

Mateng koen! Kita nanti dikira orang Tionghwa!” Ujar saya menyadari bentuk dan rupa wajah saya, juga sahabat saya yang sedang memperlambat laju kendaraan, di depan kerumunan orang sebagian anak-anak muda menutupi jalan.

“Tenang mas, coba sampeyan sapa mereka pake basa Jawa.” Sahut sahabat saya dengan tenang.

Good idea! Sahabat saya memang cerdas, cenderung jenius. Dia kelahiran Semarang tapi sudah lupa bahasa Jawa, kelamaan tinggal di Bandung.

Setiba persis di tengah kerumunan, mobil kami berhenti. Jendela saya buka separo. Saya senyum ke orang di samping kiri mobil sambil agak berteriak nyaring bilang; “Onok opo mas?!”

Tak langsung menjawab, seorang pria berusia 30-an ini melihat-lihat kami dan seisi mobil.

“Tujuan ke mana?” Tanya si pria itu.

“Rawamangun.” Jawab saya singkat, sambil jaga-jaga.

“Pak... Kalo ke Rawamangun jangan liwat IKIP, juga Pemuda. Jalan ditutup. Ada mall kebakar di sana!” Lanjut si pria, rupanya dia mengingatkan.

Oh iyo?! Ndak sampek IKIP aku mas, depan bea cukai wis muter balik.” Jawab saya agak lega, ternyata kerumunan orang-orang yang mengingatkan pengendara yang liwat situ.

Kami berdua menarik napas lega, tak terjadi apa-apa di tengah kerumunan banyak orang. Lalu, saya ingat pesan saudara saya yang saat dia masih muda pernah terjebak mengalami kondisi kerusuhan di Jakarta sewaktu peristiwa Malari tahun 1974.

“Jangan jalan di jalan raya jika ada kerusuhan di Jakarta. Ambil jalan masuk perkampungan, berhenti di sana sampai rusuh reda.” Begitu pesan yang saya ingat sewaktu baru masuk dan menetap di Jakarta pada akhir tahun 1993-an.

“Kondisi kayak gini mau lanjut Rawasari?” Tanya saya memecah kesunyian karena lamunan kebersyukuran lepas dari bayangan menakutkan.

“Iya lah mas, mau kemana lagi?” Jawab sahabat saya yang berusia dua tahun lebih muda dari saya.

“Jakarta rusuh kayak gini, bagusnya kita hindari jalan arteri. Nanti habis puter balik lapangan golf, masuk Bojana Tirta, di daerah situ ada Bakwan Malang enak.” Balas saya lagi memberi alternatif berisi solusi yang mengenyangkan di saat lingkungan di landa kerusuhan.

“Lha! Ayok! Sambil nunggu rusuh reda.” Sahabat saya mulai memahami ajakan saya.

Tibalah kami ke tujuan  tempat aman, sebuah kedai Bakwan Malang bernama warung Cak Su, yang ternyata sore itu masih buka melayani permintaan hidangan semangkok hangat Bakwan Malang, istilah Bakso bagi orang-orang di luar kota Malang.

Berdua kami menghabiskan waktu berlalunya kerusuhan di Jakarta, mengamankan diri keluar dari jalanan raya yang masih sangat rawan. Semangkok Bakwan Malang isi komplit berupa pentol bakso halus, bakso urat kasar, tahu, siomay basah dan goreng terhidang di hadapan kami.

Segera mulailah kami bertualang menikmati seseruputan demi seruputan kuah Bakwan yang masih panas mongah-mongah, sambil sesekali mencocol-cocol irisan isian seporsi Bakwan Malang, ke dalam tatakan kecil berisikan saos tomat, sambal dan kecap, selayaknya adab menikmati seporsi Bakso di kota Malang.

Sesekali pula tampak di hadapan kami lalu lalang orang-orang dewasa, remaja bahkan anak-anak ramai sambil tertawa-tawa dan tergopoh-gopoh menyunggi aneka barang. Mulai dari pakaian, sepeda mini, kipas angin, alat-alat elektronik, televisi, bahkan ada yang seorang diri memanggul kulkas  dua pintu.

“Ya Allah, apa yang terjadi.” Tanya saya dalam hati demi melihat pemandangan itu.

“Mas mas, udah jangan diliatin, nanti mereka tersinggung.” Sahabat saya mengingatkan.

Betul juga, saya pun lantas mengalihkan pandangan dari pemandangan lalu lalang orang yang dengan berbagai ekspresi menenteng barang entah darimana.

Beralih saya memandangi isi mangkok Bakwan Malang yang lama-lama menipis. Lalu saya minta nambah tahu, siomay goreng dan bakso urat, sama kuah, gak pakai mie atau bihun.

Menjelang Maghrib saya ajak sahabat saya ngaso di tempat kosan saya sekalian sembayang Ashar yang mau habis dan Maghrib yang adzannya sebentar lagi berkumandang.



...banyak orang hari itu telah berubah akal dan pikiran mengikuti ajakan marah dan menjarah.

Menuju Depok Dalam Kegelapan Malam

Hingga waktu sembayang Isya, kami mengamati isi berita di televisi. Sungguh berita-berita yang menyuguhkan betapa sedang terjadi kekacauan parah di Jakarta. Gambaran orang-orang Indonesia yang ramah-tamah sontak hilang menjadi pemandangan perilaku penuh amarah dan menjarah.

Dari berita siaran tivi pula saya baru mengetahui bahwa barang-barang yang ditenteng dan disunggi banyak orang sore tadi, adalah dari salah satu mall di dekat terminal Rawamangun. Bisa Arion atau bisa juga Arto Moro. Berita juga mengabarkan bahwa Arto Moro ludes terlahap api.

Waktu Isya tiba, saya ajak sahabat saya ke sebuah surau tepat di seberang rumah kosan. Kami sembayang Isya berjamaah dengan banyak orang di dalam surau itu, menentramkan hati dan memohon perlindungan.

Setelah Isya sahabat saya pamit pulang ke rumahnya di daerah Rawasari. Saya pun kembali ke kamar kosan berencana istirahat setelah mandi. Terasa berat hari itu. Bukan karena fisik melainkan pikiran membayangkan betapa banyak orang hari itu telah berubah akal dan pikiran mengikuti ajakan marah dan menjarah.

Sedikit banyak, perilaku asli kebanyakan orang Indonesia pun tampak selama kerusuhan. Namun saya yakin, masih banyak yang berperilaku santun dan terpelajar.

“Mas e, wonten telpon.” Pukul 9 malam, saya mendengar suara Ibu kos sambil mengetuk pintu kamar saya di lantai dua.

Oh inggeh Bu...” Saya menjawab kabar dari Ibu kos yang baik, asal Klaten.

Ternyata sahabat saya tadi memberi kabar dia hendak menengok tunangannya di Depok. Dia lalu mengajak saya untuk menemaninya.

“Tunangan saya, sendirian e mas. Bapak sama ibunya lagi dinas ke Papua. Ke Depok yuk, sekarang.” Demikian pinta sahabat saya.

Ada niatan baik sahabat saya untuk memastikan kondisi aman akan wanita calon pendamping masa depannya, saya pun mengiyakan.

“Ya wis ayok. Saya tak ganti baju dulu, nanti tak tunggu di depan pabrik Brylcreem.” Jawab saya mengiyakan. 

Kisaran pukul 1/2 10 malam, saya sama sahabat saya pun bertandang ke Depok. Kami mulai masuk tol setelah Prumpung. Sepi! Meski tetap terbuka, tak ada seorang pun penjaga pintu tol.

Pintu tol tanpa penerangan dan ruang-ruang penjaga pintu tol pun gelap. Tak hanya itu, selama perjalanan menuju Depok, jalan tol pun gelap gulita. Hanya lampu terang mobil yang kami tumpangi. Satu-satunya mobil di jalan tol malam itu.

Sekira 3/4 jam, kami pun tiba di rumah tujuan. Tunangan sahabat saya, seorang wanita muda yang sangat ramah, menyambut kami dan mempersilakan kami beristirahat dulu di ruang tamu.

Rupanya tunangan sahabat saya ini ditemani oleh seorang ibu-ibu yang membantu keperluan rumah sehari-hari. Dua cangkir teh hangat pun tersaji di hadapan kami.

Hingga pukul 1 dini hari kami terjaga dan memastikan kondisi sekitar tempat tinggal tunangan sahabat saya ini aman terkendali. Sempat berkenalan dengan ketua RT setempat dan minta bantuan pengawasan, kami pun lalu pamit pulang, balik ke Rawamangun, malam itu juga.

Kondisi jalanan yang kami lewati masih sama. Malah tambah mencekam, karena sekali lagi, hanya mobil yang kami tumpangi satu-satunya mobil yang menyusuri jalan tol dari Depok menuju Rawamangun.

Saya pun tiba di kosan pukul 2 dinihari. Badan begitu lelah. Hawa yang saya hadapi adalah aroma bantal dan guling yang terkulai di atas kasur.

Setelah cuci muka, gosok gigi menghilangkan aroma suguhan kacang mede di rumah tunangan sahabat saya, lalu ganti pakaian seragam tidur yakni kaos katun oblong dan celana kolor tanpa kampes, saya pun segera terlelap setelah mematikan lampu utama ruang kamar, berganti sinar temaram lampu 5 watt warna kuning doff.

Mimpi pun lalu membuai saya, mengajak berkelana menuju masa depan, 24 tahun mendatang, ketika saya menyusun kata dan kalimat menjadi satu karya tulisan.

Betapa kejadian hari ini tepat 24 tahun lalu, membawa saya melintasi ruang dan waktu, ke masa lalu, sekaligus ke masa depan, 24 tahun kemudian langsung menuju.

Semoga kejadian 24 tahun lalu pada hari, tak terulang lagi, dari waktu ke waktu.