Satu ketika, Abdullah ibnuz Zubair tengah dikepung oleh al-Hajjaj yang kuat lagi bengis, konon di dalam hatinya tak dapat ditemukan sedikit pun rasa kasihan. Saat itu Abdullah ibnuz Zubair juga dikhianati beberapa prajuritnya yang memilih mundur karena takutnya pada pasukan al-Hajjaj.

Di saat yang bersamaan, Abdullah ibnuz Zubair diberikan tawaran oleh Bani Umayah yaitu bagian dunia dengan syarat ia bersedia meletakkan senjata dan bersedia membaiat Abdul Malik bin Marwan sebagai pimpinan umat Islam.

Kemudian Abdullah ibnuz Zubair menghampiri ibu tercintanya yang saat itu telah renta juga buta. Asma’ berusia sekitar 100 tahun saat itu. Abdullah ibnuz Zubair datang untuk meminta nasihat dari ibundanya menyoal hal tersebut.

Kemudian, Asma’ mengatakan dengan tegas pada anak laki-laki yang begitu ia kasihi sejak kecilnya: 

Ini adalah urusanmu dan kamu tentunya lebih paham. Jika kamu memang yakin berpijak di atas kebenaran dan kamu telah mengambil keputusan untuk membelanya, maka bersabarlah seperti para sahabatmu yang telah terbunuh demi membela dirimu. Dan jika sebelumnya kamu melakukan hal ini dengan tujuan mendapatkan dunia, maka kamu adalah sejelek-jelek hamba, kamu berarti telah binasa seperti halnya kamu juga telah membinasakan para pengikutmu.

Lalu Abdullah ibnuz Zubair menjawab, “Saya yakin pasti akan terbunuh.”

Asma’ binti Abu Bakar melanjutkan, “Itu lebih baik bagimu daripada kamu menyerah kepada para pengikut Bani Umayah sehingga mereka bisa mempermainkan kepalamu.”

“Saya tidak takut jika mereka membunuhku, akan tetapi yang saya takutkan adalah jika nantinya setelah saya mati, mereka mencincang jasadku,” jawab Abdullah ibnuz Zubair lagi.

Sang ibu berkata kemudian, “Kambing yang telah disembelih tidak akan merasa sakit ketika dikuliti.”

Nasihat Asma’ r.a. telah berhasil menyulut semangat Abdullah ibnuz Zubair. Ia akhirnya bertekad untuk menghadapi pasukan lawan, meski ia yakin akan mati. Kemudian ia memeluk Asma’ r.a. Ketika dirasakannya keras tubuh si anak, Asma’ bertanya, “Apa ini wahai putraku?”

Abdullah ibnuz Zubair menjawab, “Ini adalah baju besi.”

“Ini bukanlah pakaian yang dikenakan oleh orang yang menginginkan mati syahid,” kata Asma’ kemudian.

Detik berikutnya, Abdullah ibnuz Zubair menanggalkan pakaian besinya. Seraya meminta agar sang Ibu tidak bersedih. Lantas dibalas oleh Asma’ r.a., “Ibu akan bersedih jika kamu mati dalam kebatilan.”

Kemudian pergilah sosok pahlawan itu tanpa pakaian besinya setelah meminta doa restu dari ibunya. Pahlawan gagah kebanggan Asma’ binti Abu Bakar yang dulu kerap bermain serta diasuh oleh Rasulullah saw. itu akhirnya meninggal di tangan al-Hajjaj. Ia telah kekal dalam syahidnya, ia telah kekal dalam nikmat-Nya.

Kisah Abdullah bin Zubair dengan Asma’ binti Abu Bakar r.a. tersebut selalu berhasil menggugah hati saya. Bagaimana seorang ibu mengorbankan perasaannya sendiri demi si anak agar dapat mati syahid.

Tepat pagi ini, banyak sekali bertaburan tulisan-tulisan menyoal Hari Ibu. Mulai dari puisi-puisi tentang Ibu, sampai tulisan-tulisan peringatan bahwa peringatan Hari Ibu bukanlah kebudayaan Islam, dan langsung dibalas bahwa merayakan Hari Ibu tidak dilarang di dalam Islam.

Seperti yang dikatakan Vino dalam Film Malaikat Tanpa Sayap,
“Manusia hidup dalam sekat-sekat. Saat sekat-sekat itu dihilangkan, kita kebingungan.”

Begitulah, kita hidup dalam sekat, pengkotakkan. Hari Ibu, Hari Buruh, Hari Ayah, Hari Ini Itu dan lain sebagainya. Sejujurnya, saya sedikit setuju dengan opini bahwa diangkatnya suatu kejadian menjadi hari nasional adalah sebuah ‘penebusan dosa’ bahwa kita tidak bisa selalu mengistimewakan kejadian tersebut di setiap hari.

Saya bukanlah tipikal anak yang romantis pada ibunya. Meski ibu saya kerap kali mengucapkan, “I love you,” sambil menatap saya, saya akan selalu membalasnya dengan memalingkan wajah ke sisi lain. Entah bagaimana, namun sepertinya saya cukup pemalu untuk itu.

Bagi saya pribadi, ibu adalah orang pertama yang akan mendengarkan racauan kita tentang teman menyebalkan di sekolah tanpa menginterupsi, pun tanpa mengatakan tindakan kita itu benar/salah.

Ibu adalah pesulap yang berhasil menemukan kaos kaki kita yang terselip pada suatu tempat di mana sebetulnya kita sudah mencari tepat di tempat itu. Ibu adalah cinta pertama yang kerap kita khianati di usia-usia remaja kita, dan akan terus memberikan kita kesempatan sebanyak-banyaknya untuk kembali ke pelukannya, seberapa pun perihnya ia tersakiti.

Ia adalah seseorang yang tidak akan pernah berhenti peka. Ia selalu memeluk kita di saat-saat tersulit, mengatakan, “Menangislah, Nak. Ibu tahu ini berat, melelahkan. Namun percayalah, meski segalanya tidak baik-baik saja, Ibu akan tetap bersamamu.” Dan, ya semuanya memang tidak baik-baik saja, namun pelukan Ibu terkadang membuat saya ingin tetap tidak baik-baik saja.

Allah telah memberikan keistimewaan yang berlipat-lipat kepada ibu, jadi sebetulnya ibu tak lagi membutuhkan penyanjungan Hari Ibu dinasionalkan. Siapa lagi yang membutuhkan itu jika telah diangkat derajatnya oleh Allah, Tuhan Semesta Alam?

Barangkali, Hari Ibu dibuat justru untuk kita, para anak. Agar di kesibukan yang tak kenal waktu itu, kita tetap sekali saja ingat bahwa ibu akan selalu duduk di meja makan dengan kening berkerut, kaki bergoyang tak tenang, menantikan kabar apakah anak-anaknya sudah makan atau belum, apakah anak-anaknya terlindungi dari dinginnya suhu akhir tahun, apakah anak-anaknya masih dapat berjalan di belahan bumi ini dan tetap menjadi manusia yang selalu dapat menghargai orang lain? Atau tidak...

Ingatkah kita saat dulu pulang dalam keadaan basah kuyup karena malas menunggu terlalu lama di sekolah, atau sekadar ingin bermain hujan saja, dan ibu pun merepeti kita dengan berjuta omelan dan tawa di sela-selanya?

Seiring waktu merangkak naik, dan kini ketika kita pulang larut malam dalam keadaan basah kuyup, ia tak lagi duduk di bangkunya yang biasa, melainkan mengintip sedikit saja dari jendela kamarnya, memastikan bahwa kita sampai dengan selamat dan berpikir, “Anakku sudah besar. Ia bisa mandi dan keramas sendiri.”

Sembari mengeringkan rambut dan meminum susu hangat yang dulu sering kali dibuatkan ibu, kita pun terhanyut dalam benak, “Susu ini tak seenak buatan Ibu. Hangat suhu rumah tak pernah sehangat omelan Ibu saat aku masih kecil dulu.”

Dan sebelum terlelap, kita pun menyempatkan diri untuk menengoknya yang tengah lelap di kamar. Mengecupnya perlahan, sembari berdoa kepada Tuhan, “Kasihi ia, ya Tuhan...”

Dan pada akhirnya, Ibu akan tetap bersujud di sajadahnya yang beraroma khas. Berdoa sembari menitikan air mata. Meratap sembari merapal. Memohonkan ampunan atas dosa-dosa yang bahkan tidak lahir dari tangannya, melainkan dari anak-anaknya. Selain berusaha terus menguatkan dirinya, ia akan selalu menguatkan anak-anaknya.

“I didn’t win when I can beat my son. But I win when my son beat me.” –Iklan Komersil

Can we be the fighter to our Mother? Fight for everything well deserved and lose for everything well lost. Just like Abdullah when he took off his harness when Asma’ told him so if he wanted to die in syahid...