mata-tertutup.jpg
Budaya · 2 menit baca

Hari Ibu dan Radikalisme

Hari ini, tepatnya tanggal 22 Desember, merupakan hari yang istimewa. Hari ini di Indonesia diperingati sebagai Hari Ibu. Berbagai ucapan selamat dan perhatian ditujukan kepada kaum yang terdapat surga di bawah telapak kakinya ini. Tidak jarang perlakuan istimewa dan hadiah juga diberikan untuk memperihatkan rasa kasih juga sayang kepada sosok ibunda tercinta.

Ibu, tidak ada yang meragukan peranannya dalam membentuk sebuah peradaban. Membangun sebuah generasi mulia melalui tangan lembutnya. Namun di masa sekarang ini, tantangan yang lebih besar tengah menanti dalam menjalankan peran tersebut.

Selain berbagai isu terkait Angka Kematian Ibu, kekerasan, kemiskinan, perdagangan manusia, pendidikan dan masih banyak permasalahan lainnya, para ibu kini harus menghadapi gempuran isu radikalisme dan intoleransi.

Suatu kebaikan atau keburukan yang timbul di dalam lingkungan tertentu akan memberikan pengaruh terhadap seluruh bagian dari lingkungan tersebut. Isu radikalisme yang tengah memperlihatkan wajahnya tidak hanya di bumi pertiwi, tapi juga diseluruh penjuru dunia tentu tidak dapat dipandang sebelah mata.

Berbagai peristiwa intoleran, kekerasan serta terorisme mengisi pemberitaan kita setiap harinya. Hal ini tentu membawa pengaruh yang tidak sedikit bagi diri, pola pikir dan perilaku kita.

Intoleransi kini tengah menelisik masuk dan menjalar kesendi-sendi bangsa ini. Melalui beragam cara, setiap harinya seolah kita digempur dengan ucapan, perilaku yang menunjukkan sikap serta tindakan intoleran antara satu pihak kepada pihak yang lain.

Memboikot perusahaan roti karena ketidaksetujuan atas permasalahan tertentu, pembubaran kegiatan ibadah, pengkafiran terhadap yang berbeda agama dan keyakinan, melakukan razia atas atribut agama tertentu serta list panjang perilaku intoleransi lainnya. Para teroris dan pelaku gerakan radikal juga kini tidak hanya menyasar para muda mudi untuk direkrut sebagai anggota serta untuk menyebar pemahamannya.

Para teroris tersebut kini juga menyasar kaum wanita, bahkan anak-anak. Melalui pernikahan, mereka mempersiapkan para “pengantin” untuk melakukan bom bunuh diri, sebagaimana yang terjadi pada kasus bom Bekasi beberapa waktu lalu.

Hal ini harus menjadi catatan penting bagi para ibu untuk dapat membentengi diri dan keluarga dari berbagai hal tersebut. Tekankan dalam diri dan benak anak-anak kita bahwa semua kita adalah sesama makhluk Tuhan. Tuhan menciptakan kita berbeda baik warna kulit dan sebagainya agar kita dapat saling mengenal, saling belajar, termasuk menghargai perbedaan itu sendiri. Ajarkan dan terapkan cinta kasih, persahabatan dan persaudaraan.

Tanamkan bahwa setiap nyawa adalah berharga. Setiap kita adalah istimewa dengan semua kelebihan dan kekurangan yang kita punya. Yang membedakan kita adalah ketakwaan kita, di mana hal ini diukur bukan hanya berdasarkan hubungan antara makhluk dengan Tuhannya tapi juga antara sesama manusia.

Agama, bukan membuat kita menjadi orang yang selalu benar dan menjadi satu-satunya yang benar, melainkan dengan agama, kita menjadi makhluk yang lebih beradab, makhluk yang berakhlak dan menjadi cerminan sifat-sifat-Nya yang mulia.

Sebagai umat Muslim, kita telah mendapatkan teladan mulia dari Sang Rasul mengenai bagaimana menghormati dan bersikap toleran. Bagaimana hidup dengan penuh kerukunan, kedamaian, saling menghargai dan menghormati antara sesama makhluk.

Sebagai ibu hendaknya tidak hanya berfokus pada hal-hal lahiriah semata, melainkan seraya memahami ajaran agama yang hakiki, hendaknya setiap penyakit dihapus serta dieliminir sebelum ia menjadi penyakit komunal, termasuk masalah intoleransi dan radikalisme ini.

Kebaikan hendaknya juga harus disebarkan ke seluruh masyarakat dan tiap kita mengamalkannya agar hal tersebut menjadi kebaikan kolektif. Senantiasa ciptakan lingkungan yang jauh dari keburukan yang dengannya tidak tersebar keburukan, lakukan kebaikan yang indah lalu teruskanlah kepada anak keturunan kita.

Selamat Hari Ibu.