Satu per satu teman seangkatan kakek sudah tiada. Tersisa dua, itupun sedang terbaring tak berdaya, dan satunya lagi sudah pikun dan tak lagi mengenali kakek.

"Aku datang."

Kakek menyambutku. Kami saling berpelukan erat. Dikecuplah keningku, sembari mengomentari bentuk badanku, yang kadang disebut makin kurus, kadang juga dipujinya makin besar.

Usiaku kini 22 tahun, dan kakek terbiasa memelukku sejak bayi. Tentu kakek mengikuti pertumbuhan tubuhku, sejak masih tenggelam dalam pelukannya, sampai postur yang nyaris sama besar.

Kakek memang berbadan besar. Sejak remaja sudah biasa kerja keras. Masa mudanya juga dihabiskan oleh latihan fisik yang intensif. Makannya pun juga teratur. Karena itulah kakek nampak sehat di usianya yang sudah 80 tahun.

Kakek juga tidak pikun. Ia bisa bercerita dengan runtut apa saja yang pernah dialaminya kala masih muda. Dinding ruang tamu dan ruang tengah penuh dengan foto-foto yang dipigura dengan rapi. Kakek bisa bercerita pada momentum apa foto itu diambil. Runtut. Seolah baru terjadi beberapa minggu lalu.

Setiap kali aku datang, kakek juga selalu bercerita banyak hal. Mengajak jalan-jalan pagi mengelilingi desa, dan memberikan tips-tips agar tetap sehat. Sejak muda kakek memang sangat peduli kesehatan. Rutin olahraga dan menjaga pola makan. Kakek lebih sering minum air mineral, dan kadang-kadang kopi di pagi hari.

Kakek tidak mau minum jus. Menurutnya, lebih baik makan buahnya langsung. Apalagi jus buah terlalu banyak campuran susu dan gula. Kakek juga menghindari makanan yang digoreng. Sajian di rumahnya, selalu makanan yang direbus, yang menurutku kadang tak terlalu sedap.

"Makan itu tidak penting enak atau nggak, yang penting sehat. Makanan enak-enak itu terlalu banyak penguat rasanya. Tidak sehat," Jelas Kakek.

Kakek juga menjelaskan, kalau makan ayam, lebih baik pilih sayap. Sayap lebih sehat dari paha. Karena paha dan pantat tempat disuntikkan vaksin. Sayap juga lebih sehat daripada bagian dada, apalagi organ dalam seperti hati dan rempela.

Begitu detailnya, seolah-olah aku harus mengikuti gaya hidup kakek, yang tetap sehat di usianya yang masuk kepala delapan.

Namun hari ini kakek menceritakan hal lain, tentang teman akrabnya, Mbah Sarip, yang baru saja meninggal.

"Satu per satu teman seangkatan kakek sudah tiada. Tersisa dua, itupun sedang terbaring tak berdaya, dan satunya lagi sudah pikun dan tak lagi mengenali kakek," Ucap kakek dengan wajah sembab.

Tiap pagi, sembari minum kopi, kakek biasa berbincang dengan kawan lamanya lewat telepon. Kawan lama yang jauh di luar kota, teman satu angkatan waktu di MULO (setingkat SMP), dan beberapa teman lama ketika di SPG.

Setamat MULO, kakek memang bekerja dan menikah, lalu melanjutkan pendidikan lagi di SPG dan kuliah sampai lulus sarjana muda (BA).

"Biasanya kakek berbincang dengan Sutomo, yang sekarang tinggal di Magelang. Lama tak menelepon, kemaren kakek telepon, lalu diangkat oleh anaknya dan berkata kalau Sutomo sudah meninggal," Kenang kakek.

Satu per satu, teman lamanya tak lagi bisa ia hubungi lewat telepon rumah. Entah karena jaringannya yang terputus karena semakin berkurangnya pengguna jasa telepon rumah, atau karena sudah tidak bisa lagi mengangkat telepon karena sakit dan meninggal.

"Satu-satunya yang bisa kakek ajak ngobrol lewat telepon ya Surip itu, tetapi pagi tadi kakek telepon kata menantunya baru meninggal tiga hari lalu."

-00-

Di lingkungan desa, kakek adalah warga yang paling tua. Sangat jarang ada yang sampai berusia 80 tahun. Pada usia 60 atau 70 tahun, banyak yang sudah jatuh sakit, dan hanya bertahan beberapa bulan, lalu meninggal.

Bagi kakek, teman seumuran itu penting. Berbincang dengan teman seumuran berbeda dengan lainnya. Ada rasa yang sama. Apalagi jika ia adalah teman akrab, yang pernah berjuang bersama, bekerja bersama, pernah membangun cerita yang sama.

Setelah nenek meninggal lima tahun lalu, Kakek lebih sering memutar telepon setiap pagi, membaca novel-novel terbitan tahun 80-an, dan olahraga seperti biasa.

"Lama-lama kakek bosan dan berpikir bahwa hidup terlalu lama ternyata tak mengenakkan."

Aku terkejut mendengar kakek mengucapkan hal tersebut.

"Tetapi sehat di usia tua jadi harapan banyak orang kek, termasuk aku," Balasku.

Kakek tersenyum. Sore itu kami sedang duduk di teras sembari menikmati kopi kintamani yang aku bawa.

"Kamu belum merasakan bagaimana kehilangan suara renyah dan tulus dari ujung telepon, teman berbincang dan bernostalgia. Suara-suara itu hilang satu per satu, dari waktu ke waktu, meninggalkan kakek."

Aku hanya menunduk diam, sambil memijat lembut pundak kakek.

"Kakek masih punya kami, dan kami masih punya kakek," Jelasku.

Kakek kemudian mengambil secarik kertas dan bolpoin.

"Kalau begitu, ajari kakek menulis cerita. Kakek ingin menuliskan banyak cerita untuk kalian," Pinta kakek dengan antusias.

-00-

6 bulan kemudian

"Kakek sudah tenang di pembaringan," Ucap ayah pada keluarga.

Sebenarnya tak ada hal buruk terkait kesehatan kakek. Kondisi tubuhnya sehat. Bahkan seminggu sebelumnya masih memintaku membawakan gulai kambing jika berkunjung kesana. Tak biasanya kakek meminta dibawakan makanan. Biasanya hanya meminta membawakan bubuk kopi.

Kakek juga sering meneleponku, hanya saja jarang bisa kuangkat karena sibuk pekerjaan dan kuliah. Kakek lebih akrab denganku ketimbang ayah.

Baca Juga: Kisah yang Lupa

Kakek bercerita sudah menulis lebih dari 30 lembar, dan aku diminta membacanya. Semangat menulis kakek cukup tinggi, apalagi ia sering membaca novel, maka tak butuh waktu lama untuk kakek menuliskan cerita-cerita masa lalunya.

-00-

Beberapa lembar kertas berisi tulisan tangan kakek sudah kuketik ulang di laptop, sebagian sudah kucetak. Butuh perjuangan tersendiri membaca tulisan kakek yang besar-besar dan bersambung itu.

Kakek menuliskan kisah hidupnya secara kronologis, dari saat menyambut kelahiran ayah, sampai menjalani hari-hari susahnya pada era 70an. Sayang cerita itu terputus saat kakek berhasil menjadi PNS pada tahun 1979, dan menggeluti bisnis mobil bekas sampai berhasil membeli tanah cukup luas untuk ia tempati di masa pensiunnya.

Pada saat kakek pensiun, usiaku baru dua tahunan. Namun waktu kecil sering kukira jika kakek itu saudara ayah. Mereka nampak seumuran, bedanya hanya rambut kakek lebih beruban.

"Kamu jangan contoh ayahmu itu, dia perokok berat," Bisik kakek suatu ketika, mengkritik kebiasaan ayah yang bisa menghabiskan 1 pack rokok tiap hari.

Catatan-catatan berisi kisah hidup kakek ini akan menjadi kenangan berharga bagiku. Meski sebelum meninggal, kakek sudah mewasiatkan untuk memberikan rumah pensiunnya padaku. Namun bagiku, lembaran kertas karya tulisan kakek itu lebih berharga.

Pada setiap lembarnya, di pojok kanan bawah selalu tertulis : Dan... hari-hari yang kurasa semakin sepi, sebab mereka telah kembali.

Trawas, 16 April 2016