thumb_img_9868_1024.jpg
Aksi demonstran di Union Square menolak Donald Trump sebagai presiden. (credit foto: Michael Garofalo / bedfordandbowery.com)
Politik · 3 menit baca

Hari-Hari Setelah Kemenangan Trump

Pada suatu Minggu pagi yang dingin saya melewati jalanan di depan rumah Dhiani yang basah. Ia terlihat duduk di teras dan serius memain-mainkan jarinya di laptop. Dari halaman kecil itu, yang dindingnya segar oleh warna merah, kuning, ungu, dan hijau dari bunga-bunga yang ditanam di dalam pot-pot botol bekas air mineral, ia melambaikan tangan meminta saya mampir.

“Lagi ngapain?” tanya saya.

Dhiani, sebagaimana lumrahnya anak muda milenial lainnya, tengah menyibukkan diri dengan berselancar di internet dan siap menerima banjir arus informasi yang tak pernah surut. Dari dalam layar 14 inci itulah alam yang dihuni makhluk bernama netizen sedang gonjang-ganjing. Panas, serius, dan analitis. Walau kadang ada juga sense of humor di sela lalu lalang lini masa yang padat.

Sambil nyeruput wedang jahe dan makan sate keong, Dhiani mengarahkan layar laptop pada saya. Ternyata ramainya bukan karena misteri Munir yang tak kunjung terkuak (dan siap menjadi mitos). Ujung pangkal netizen geram adalah Donald Trump. Presiden Amerika ke-45 yang baru memenangkan hati rakyat pada 9 November kemarin.

Netizen berkicau tentang Amerika yang berduka. Kecewa karena sosok yang selama kampanye dinilai kontroversial terkait isu rasial, pengemplangan pajak, sampai alergi imigran itu ternyata menjadi manusia yang memegang kuasa penuh atas peluncuran nuklir di negeri Paman Sam. Miliarder yang berwacana membangun tembok perbatasan AS-Meksiko itu meraih 279 electoral vote mengalahkan saingannya, mantan First Lady, Hillary Clinton.

Untuk masa jabatan empat tahun ke depan, netizen telah membuat persepsi bahwa kekontroversialan Trump akan menjadikan dunia rumah yang tak ramah bagi kaum minoritas. Kejam, tak adil, dan Perang Dunia Ketiga siap kapan saja terjadi. Trump, yang bahkan belum secara resmi dilantik sebagai presiden, telah dihajar orasi dan opini bertubi-tubi.

Maklum saja, Amerika itu center of the universe. Jadi, kiblat ekonomi, sosial, politik, dan HAM saat ini adalah Donald Trump. Kalau ia blunder, seluruh dunia akan menanggung akibatnya.

Di negara yang menjadi kakek buyut demokrasi dan sering “mengekspor” sistem itu ke negara-negara berkembang di Asia dan Amerika Latin, kemenangan Trump adalah kemenangan rakyat. Suara pemenang adalah cermin pandangan populer dan harapan publik. Sementara bagi oposisi, Trump seperti tak mengerti beban sejarah yang berusaha diperbaiki oleh Abraham Lincoln, Marthin Luther King, atau Harper Lee sekalipun.

Reaktifnya netizen dan demonstran seharusnya membuat orang lebih bijak menilai diri. Jika sebuah ide yang rasis atau seksis bisa mengantar Trump memasuki Gedung Putih, apakah masyarakat tidak bertanya mengapa ia terpilih? Mengapa Amerika memilihnya?

Kemenangan Trump menjelaskan bahwa sentimen masyarakat terhadap imigran masih tinggi. Ia mendapat panggung atas statement yang melukai muslim. Sederhananya, jika masyarakat membentengi diri sendiri dan arif menyikapi keberagaman, ide tentang rasisme tak akan mendapat panggung.

Sebenarnya, yang didapat dari Pilpres Amerika adalah edukasi bagi bangsa kita. Di Indonesia, masyarakat jauh lebih heterogen. Mulai suku, bahasa daerah, sampai kepercayaan. Tentu saja, kebhinekaan yang besar menjadi tantangan menumbuhkan persepsi yang arif, berimbang, dan tanpa tendensi dalam diri setiap insan.

Kebhinekaan adalah kekuatan sekaligus rawan digunakan sebagai tunggangan untuk tujuan segelintir orang. Jika benar Trump adalah tantangan terbesar dalam keberagaman, maka sebagai negeri yang kaya etnis, Indonesia tak boleh terseret arus politik yang hanya akan merusak kepribadian bangsa.

Bagaimanapun hal mendasar hidup sebagai warga adalah memiliki jaminan. Jaminan ekonomi yang baik, kebebasan, dan kesetaraan. Jika ketiganya tidak terpenuhi, ketidakpuasan dapat menjerumuskan ke pilihan yang belum tentu tepat. Atau malah berhalusinasi kembali ke era pemimpin masa lampau.

“Kalau menurutmu, gimana?” Dhiani bertanya.

Saya yang diam-diam nyomot sate keong terakhir kaget juga dengan pertanyaan dadakan itu. Karena tak ingin terlihat awkward, saya utarakan sekenanya.

“Yang terjadi usai Pemilu itu ada dua. Pertama yang khawatir duluan karena ide buruk pemimpin baru mungkin terwujud. Kedua, yang khawatir belakangan karena janji manis saat kampanye gagal terealisasi. Saya sih nggak mau terlalu khawatir.”

Dan sate keong itu terasa enak menyentuh lidah.