Peringatan Hari Guru di Indonesia jatuh pada 25 November. Biasanya, setiap tanggal tersebut diadakan upacara. Uniknya, yang menjadi petugas upacara adalah guru.

Selain itu, banyak juga kegiatan lain yang dilakukan untuk memperingati Hari Guru, misalnya para siswa membuat kartu ucapan untuk guru.

Sepertri biasa, pada hari tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memberikan pidato untuk memotivasi seluruh guru di Indonesia. Nadiem Makarim, Sang Menteri, bahkan sudah membagikan transkrip pidatonya sebelum hari H. Bahkan, pidatonya yang dua halaman tersebut viral dan menjadi perbincangan menarik, tidak hanya di kalangan guru, tetapi masyarakat umum.

Dalam pidatonya, mantan bos Go-jek tersebut menyoroti keresahan beban dan tanggung jawab guru sebagai pendidik. Terdapat 7 poin dan kesimpulan yang terdapat pada pidato yang diawali dengan karakteristik guru sebagai profesi yang mulia sekaligus yang tersulit. Izinkan saya mengulasnya di sini:

1. Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan.

Saya setuju dengan poin ini, maka saya sebagai guru senantiasa menjalankan tugas dengan baik, dan menunggu ‘pertolongan’ nyata dari Kemendikbud.

2. Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi tugas Anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas.

Untuk poin ini, saya kurang setuju. Kenapa? Administrasi diperlukan dalam setiap hal—sebab ia merupakan bukti terlaksananya sebuah proses. 

Namun, dalam pelaksanaannya, kami (guru) dan sekolah diberatkan dengan tugas administratif karena terikat dengan akreditasi sekolah. Oleh karena itu, dimohon Kemdikbud untuk menyederhanakan tugas administrasi guru.

3. Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan

Saya setuju. Karena itu, Kemendikbud hendaknya dapat mempertimbangkan mengenai Ujian Nasional. Sebab ia merupakan salah satu praktik penilaian yang akan membentuk mindset bahwa penilaian cukup dengan angka.

Sejatinya proses penilaian tidak pernah terputus dan tidak dapat diwakili oleh satu penilaian saja.

4. Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan.

Kalimat tersebut tampak digeneralisasi, tanpa melihat fakta di lapangan. Sekarang, terutama guru muda paham mengenai pentingnya belajar di luar kelas dan lingkungan adalah media pembelajaran. 

Contohnya di sekolah tempat saya mengajar, kegiatan outing sudah menjadi kegiatan rutin yang dilaksanakan sebulan sekali atau dua bulan sekali. Serta kolaborasi dengan beberapa pelajaran.

Kemendikbud hendaknya menyederhanakan kurikulum dan tidak terlalu sering mengadakan pembaruan kurikulum. Pada praktiknya, untuk memahami kurikulum baru butuh waktu.

5. Anda frustasi bahwa Anda tahu di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal.

Jika Pak Menteri menelisik kurikulum 2013 edisi revisi, kami selaku guru sudah dituntut untuk menumbuhkan kecakapan abad 21, yaitu dengan menumbuhkan kemampuan 4C yang meliputi: (1) Communication (2) Collaboration(3) Critical Thinking and problem solving, dan (4) Creative and Innovative. Namun, kami perlu difasilitasi bagaimana cara menuangkannya pada pembelajaran bagi peserta didik.

6. Anda tahu bahwa semua anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi. 

Nah, di sinilah barangkali Kemendikbud perlu mengevaluasi kurikulum yang sedang berjalan sekarang. Apakah semua pelajaran yang tercantum pada rapor adalah semua hal yang dibutuhkan peserta didik?

7. Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi.

Mohon maaf, Pak Menteri, ‘tidak diberi kepercayaan’ oleh siapa? Apabila dari instansi tempat mengajar, mungkin itu tidak dapat digeneralisir, karena berdasarkan pengalaman saya mengajar di sekolah negeri dan swasta, kesempatan untuk berinovasi itu sangat terbuka.

Tinggal kembali ke guru apakah mau berinovasi atau tidak. Selain itu, seberapa besar kesempatan dan peluang yang diberikan oleh Kemendikbud untuk memberi kesempatan berinovasi kepada guru?

Saya sangat mengapresiasi pidato Pak Menteri sebagai salah satu cara untuk mengintrospeksi Kemendikbud. Karena pada hakikatnya, 7 poin pidato yang disampikan Bapak, penyelesaiannya bergantung pada kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Kemendikbud sendiri.

Seluruh guru selalu berharap generasi penerus adalah generasi yang berkarakter yang seimbang antara IQ dan EQ sehingga menjadikan Indonesia negara yang beradab. Namun, hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh guru saja, tetapi dibutuhkan kerja sama dan dukungan dari seluruh pihak yaitu, guru, sekolah, orang tua, masyarakat, dan Kemendikbud sebagai pemangku kebijakan.

Tak lupa, guru jangan hanya dituntut dengan tugas dan tanggung jawab yang teramat besar, tetapi kesejahteraan pun harus diperhitungkan.

Selamat Hari Guru!