Belakangan ini masyarakat dihebohkan dengan beberapa video yang berbau kekerasan dan penindasan. Ironisnya dalam video tersebut pelaku nya adalah pelajar dan mahasiswa yang notabene nya adalah generasi penerus bangsa dan penopang masa depan negara. Tindakan kekerasan dan penindasan (bullying) ini bukanlah hal baru, melaikan masalah yang sudah ada sejak lama namun kini semakin menjadi-jadi. Suatu hal yang pasti bahwa secara otomatis karakter bangsa dan ketahanan nasional akan terusik apabila tindakan kekerasan dan penindasan tersebut dibiarkan merajarela begitu saja. Kaum milenial seakan mengangap kekerasan dan penindasan adalah hal yang wajar demi melucu dan diterima di lingkungan pergaulan.

Generasi Millennials yang dinilai mengejar kebanggan akan merek/brand tanpa memikirkan kondisi keuangan orang-tua, cenderung tidak perduli pada keadaan sosial, pergi nongrong di coffee shop dengan harga kopi Rp 50.000,- an per gelas, padahal hanya makan mie instan di kosan. Generasi berjiwa sosialita yang cenderung meninggalkan nilai-nilai budaya, sosial, agama dan mengejar kebebasan, hedonisme dan pergaulan bebas. Genrasi yang cuek terhadap perkembangan ekonomi dan politik negara. Kini Generasi Millennialis semakin lengkap dengan karakter “tukang bullying” yang melekat semakin erat hingga menjadi kebiasaan yang diwajarkan dalam pergaulan.

Istilah bullying semakin poluler karena begitu mewabah dan meresahkan. Tidak jarang juga komunitas-komunitas yang mengkampanyekan gerakan anti bullying, namun tetap saja popularitas bullying sulit dihilangkan bak sudah mendarah daging di tengah kehidupan sosial. Bullying dalam bahasa Indonesia berarti Penindasan atau penggunaan kekerasan, ancaman, mengejek, memaksa menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Prilaku ini semakin lama akan menjadi kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial dan fisik. 

Penindasan dalam arti ini dapat mencakup juga pelecehan secara lisan dengan mengancam, kekerasan fisik dengan memaksa yang diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar suku, ras agama gender, seksualitas, dan atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Budaya penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan

Tindakan bullying semakin berkembang bukan karena tidak ada yang memerangi, namun karena lebih banyak yang menerima dan melakukan. Tindakan bullying saat ini sering kali digunakan untuk menciptakan lelucon dan mencairkan suasana dalam pergaulan masyarakat. Bahkan kegiatan ini tidak hanya dilakukan oleh pelajar, mahasiswa dan generasi muda, tetapi juga oleh orang dewasa. Sering kali juga kita melihat beberapa siaran program televisi yang tidak mendidik dengan mempertontonkan tindakan bullying sebagai cara untuk menciptakan lelucon atau lawakan sehingga sedikit banyak mempengaruhi prilaku para pemirsa yang gemar akan acara tersebut atau gemar terhadap artis yang ada didalam acara tersebut. 

Tertawa tanpa memikirkan perasaan orang lain, bercanda tanpa memahami situasi orang lain dan mencibir tanpa tau kondisi orang lain. Bercanda tidak akan pernah menjadi bullying apabila candaan dan lelucon tersebut masih dalam batas wajar. Begitupun sebaliknya bullying tidak akan pernah menjadi bercanda, karena tindakan bullying bukanlah hal yang dapat di terima dan di wajarkan seperti bercanda.

Banyak korban bullying yang menderita dan tertekan secara psikologis akibat tindakan penindasan secara emosional, fisik, verbal, dan cyber secara berulang kali atas dasar suku, ras, agama, gender, seksualitas dan kemampuan. Tentu tindakan bullying bukan hanya berdampak kepada psikologis, tetapi juga akan berimbas buruk terhadap citra bangsa. Tindakan bullying juga akan merusak moral dan karakter bangsa. Karakter bangsa Indonesia yang terkenal dengan sifat sopan, ramah, toleransi terhadap keberagaman, gotong royong dan saling perduli kini terusik karena wabah penyakit bullying yang ada di tengah masyarakat. 

Sungguh tindakan bullying ini tidak dapat dibenarkan karena tidak sesuai dengan nilai, norma dan pancasila Indonesia. Tindakan bullying ini harus terus kita hentikan dan perangi bersama agar tidak mengerogoti ketahanan nasional karena bullying adalah tindakan yang mengusik karakter keberagaman bangsa kita. Landasan primordial yang kuat akan nilai dan budaya tentu dapat menjadi senjata utama kita didalam menghentikan perkembangan tindakan bullying.

Sebenarnya ada cara lain selain bullying yang dapat digunakan untuk melucu dan mencairkan suasana untuk dapat membuat kita diterima didalam pergaulan diera ini. Kita dapat melucu tanpa menyakiti perasaan orang lain dan membuat orang lain menjadi korban bullying. Caranya adalah dengan melucu menggunakan diri kita sendiri sebagai objek dari candaan dan lelucon yang kita buat. Hal ini lebih terkenal dengan sebutan Stand Up Comedy yang merupakan komedi, candaan dan lelucon yang timbul dari diri kita sendiri akibat keresahan, kondisi pribadi dan pengalaman pribadi. 

Dengan cara ini juga sekaligus dapat memperkokoh karakter bangsa karena dalam Stand Up Comedy ada batasan dan nilai serta norma yang harus di patuhi serta dapat mengasah kreativitas kita didalam bercanda dan memberikan lelucon. Kreativitas kita akan terasah karena dalam Stand Up Comedy kita harus mengobservasi diri kita sendiri dan mengkonversi hal tersebut menjadi lelucon yang berasal dari diri kita sendiri (bukan orang lain), cerdas dan juga mengundang tawa. Stand Up Comedy dapat menggantikan posisi bullying yang saat ini banyak digunakan sebagai cara untuk mendapat kelucuan dan tawa dari orang lain ataupun kolompok. Stand Up Comedy adalah salah satu solusi yang dapat digunakan untuk dapat diterima di tengah pergaulan tanpa harus mem-bully orang lain.

Tentu kita harus setuju bahwa tindakan bullying adalah tidak benar. Apapun alasannya bullying adalah salah. Bullying bukanlah bercanda, dan bercanda bukanlah bullying. Bullying harus dihentikan dengan tindakan jelas dari masyarakat dan pemerintah melalui regulasinya, agar tidak ada siapapun yang harus menjadi korban bullying lagi. Bersama kita lantangkan suara untuk secara tegas menentang tindakan bullying, demi kokohnya karakter bangsa dan ketahanan nasional Indonesia.