Pada 1 Mei, 130 tahun lalu, buruh di Chicago (Amerika Serikat) terlibat dalam demontrasi besar-besaran. Demontsrasi yang berlangsung selama 4 hari berakhir dengan jatuhnya korban. Peristiwa Haymarket itu kemudian dijadikan sebagai hari buruh sedunia, seperti yang diperingati hari ini.

Bila perjuangan buruh di Amerika fokus dengan perjuangan ekonomi, lain lagi dengan Karl Marx di Eropa sana. Di era yang sama, ia banyak mengkritik habis pejuang-pejuang buruh seperti itu. Menurutnya, perjuangan hak-hak ekonomi hanya tuntutan minimalis. Buruh harus terlibat dalam perjuangan politik, perjuangan kelas, dan merebut negara.

Karl Marx, intelektual urakan, dan Engels, pengusaha sukses saat itu, menyatakan: akhir dari perjuangan buruh itu—mungkin akhir dari segala peradaban juga—adalah ketika tercipta tatanan masyarakat tanpa kelas; Tanpa penindasan, dan sama rasa- sama rata. 

Namun, Karl Marx dan Engels juga tidak mampu mengambarkan secara utuh tentang kondisi masyarakat “sama rata-sama rasa” itu. Apakah berbentuk bulat lonjong, kotak-kotak, atau berbentuk segitiga sama kaki? Semuanya samar.

Bisa jadi, gambaran Marx tentang tatanan masyarakat tanpa kelas dan tanpa penindasan itu, seperti kondisi di “Surga” yang diilustrasikan oleh para pejuang khilafah Islam: semua sudah ada di atas meja, siap santap, plus ada bidadari yang menemani untuk bersenda-gurau.

Sejak Karl Marx dan Engels menyerukan perubahan strategi dan taktik perjuangan di hadapan anggota liga Komunis dan buruh mesin jahit di tahun 1848. Sejak saat itu Kampanye “sama rasa-sama rata” menjadi alat pengerek buruh.

Lenin dan kelompok bolshevik di Rusia, mendemonstrasikan teori Karl Marx itu. Pergerakan buruh di akhir tahun 1917, telah membuat Nikolai-II takluk—yang juga memang kekuasaan kaisar Tsar saat itu telah hilang kepercayaan, akibat depresi ekonomi, kalah perang melawan Jepang di tahun 1905 dan juga dampak perang dunia pertama.

“Hancurkan Penindasan, matilah kapitalisme!” telah menjadi seruan wajib dalam pemogokan di daratan Eropa awal abad ke-19. Seruan yang sama juga digunakan Sneevliet, saat pertama kali merayakan May Day di Kota Surabaya tahun 1918.

Pertanyaanya, benarkah “masyarakat tanpa kelas” itu akan tercipta? Atau tatanan masyarakat dengan benturan kelas di dalamnya—penindas dan tertindas—sesungguhnya tidak pernah ada? Hanya sekadar urusan perebutan kekuasan(?)

Rusia, misalnya. Pasca revolusi terjadi perpindahan hak milik atas alat produksi, dari kepemilikan pribadi menjadi milik negara (Nasionalisasi). Negara yang didirikan oleh “perwakilan” kelas pekerja itu menjadi alat penindas baru. Selanjutnya, mereka yang dulu berjuang atas nama “buruh dan kaum tertindas” itu, ketika berkuasa jauh lebih beringas. Jutaan orang mati dalam gulag (kamp kerja paksa) di Siberia.

Fidel Castro, di Kuba, saat melakukan revolusi, juga “mengiming-imingi” kelas pekerja dengan janji yang kurang-lebih sama dengan cara Lenin. Ia memobilisasi buruh di perkotaan dan petani di pedesaan untuk mendukung perjuangan gerilya-nya.

Saat kuasa direbut, terjadi nasionalisasi perusahaan. Tetapi, tidak kemudian buruh dan petaninya sejahtera. Buruh tetap pada kehidupan semula. Atas nama sosialisme, negara melibas habis mereka yang kritis. Menciptakan kediktatoran baru; arsitokrasi keluarga, kuasa kakak diberikan ke adik.

Yang lebih sadis dari yang namanya “perjuangan kelas” itu terjadi di Kamboja. Pol Pot atas dukungan pemuda tani dan buruh perkotaan berhasil merebut kekuasan di Kamboja tahun 1975.

Setelah itu, Pol Pot memberlakukan program ‘pemurnian kaum miskin’. Saya lebih senang menyebutnya program “Desanisasi”, karena terjadi pemaksaan warga kota pindah ke desa-desa untuk membuat lahan pertanian. Akibat program itu, hanya selang 3 tahun, populasi penduduk kamboja berkurang 25 persen, mati di ladang-ladang buatan Khemer Merah.

Kenapa semua bisa begitu? Apa ada distorsi teori Karl Marx? Sepemahaman saya, tidak ada yang terdistorsi karena pada dasarnya Karl Marx, Lenin, Trosky, Rosa Luxemburg, dll, tidak pernah membuat konsep “Negara ideal” bila merebut kuasa.

Mereka hanya meninggalkan ‘catatan kaki’ tentang Kediktatoran proletariat yang penuh dengan misteri. Maka yang terjadi: dulu dan hari ini adalah tafsir-menafsir sesuatu yang tidak jelas.

Jadi, perjuangan kelas—perjuangan sama rasa dan sama rata—itu tidak pernah ada, hanya sekadar gombal dan hanya menjadi topik diskusi dalam labirin.

Ya, perebutan kuasa itu butuh rayuan gombal

Perebutan kuasa tanpa janji gombal yang menyertainya, hampir pasti itu tidak akan ada pengikut. Bila Karl Marx dan pengikutnya menjanjikan “masyarakat sama rasa-sama rata”, sementara di tempat lain, penganjur Khilafah Islam menjanjikan “Surga”.

Manusia dicekoki dengan keindahan surga. “Surga” yang dipenuhi dengan bidadari, air susu dan madu yang mengalir di bawah kaki. Upss, lagi-lagi kaum dhuafa’ terpedaya dengan janji gombal itu.

Atas nama “secepatnya” ke Surga, maka beramai-ramailah menjadi “jihadis” , membom sana-sini. Tetapi, tak satupun mereka yang mati kemudian bangkit lagi dan mengatakan: “saya telah diterima di Surga yang dipenuhi dengan bidadari,,,”.

Itulah gombal selalu tidak nyata.

Meskipun begitu, janji gombal itu selalu hadir di semua dimensi kehidupan. Mengiming-imingi warga miskin dengan kehidupan yang statis, tanpa pembangunan, tanpa penggusuran, dan tetap hidup di bedeng kecil, itu juga disebut dengan “gombal kemanusiaan”.