Mahasiswa menjadi pilihan kata lain untuk mengasosiasikan dengan penuntut ilmu di perguruan tinggi. Kata ini merupakan kosakata Bahasa Melayu, hanya saja lebih populer digunakan kata mahasiswa untuk tingkat perguruan tinggi.

Begitu pula dengan pelajar di tingkatan sekolah menengah, lebih masyhur digunakan siswa. Untuk sekolah dasar, digunakan murid.

Dalam satu kesempatan saya bertanya, apa makna diksi murid itu sendiri. Diantara hadirin dalam percakapan itu, kemudian menjawab bahwa mereka belum memiliki kehendak sendiri. Sepenuhnya iatur oleh guru atau orang tua.

Namun, kata pelajar sejatinya menunjukkan keteguhan dan kemauan untuk terus belajar. Maka, tidak saja murid, siswa, bahkan sampai mahasiswa bolehjadi disebut pelajar.

Kita berhenti pada soal itu sejenak. Mari kita lihat pelajar-pelajar kita. Secara umum, tidak terlihat adanya kewujudan yang membedakan antara pelajar. Dimana di dalamnya tentu ada pelajar Islam.

Secara organisasi, pelajar Islam tidaklah terkonsolidasi sampai ke pesantren ataupun madrasah. Namanya, pelajar tentu akan menumpukan perhatian terbesarnya pada persoalan belajar. Berbeda jikalau itu mahasiswa yang juga mengemban misi kemasyarakatan.

Bahkan ketika di pesantren, masa itu belum tersedia internet. Apalagi media sosial. Sehingga akses berita betapa begitu terbatas. Termasuk maklumat mengenai organisasi pelajar. Semata-mata terbatas pada osis saja.

Padahal, sudah ada koran Republika. Bersama dengan seorang kawan seasrama, kami patungan berlangganan koran. Walau diterima harus malam hari. Koran perlu dikirim dari Jakarta. Belum tersedia fasilitas cetak koran di Makassar untuk Republika atau Kompas di tahun itu.

Tantangannya, jangan sampai tidak ada korelasi antara keislaman dan keaktifan organisasi para pelajar dengan tawuran, dan juga arak-arakan ketika perayaan kelulusan.

Spektrum yang luas dalam kata pelajar itu menjadi keluasan bidang kerja. Hanya saja, tentu akan berbeda antara mahasiswa, siswa, dan murid. Begitu pula dengan minat yang beragam. Sehingga ini dapat terwadahi dalam komunitas.

Maka, semasa itu keperluan pelajar tercukupi melalui wadah komunitas. Sehingga tidak melihat adanya kepentingan untuk bergabung ke organisasi.

Untuk itu, organisasi pelajar sejatinya dapat menjadi pengembangan bakat dan minat. Sekaligus melatihkan kemahiran pelajar yang dapat memperkuat proses belajar di sekolah. Senyampang itu, juga memupuk solidaritas sosial.

Diantaranya dengan aktivitas bakti sosial, donor darah, penggalangan sumbangan. Hanya dengan latihan yang berkesinambungan, itu dapat diinternalisasi dalam pengalaman belajar pelajar.

***

Dari sini, maka perlu adanya formulasinya orientasi keorganisasian. Tentu sudah dipahami bahwa keikutsertaan dalam sebuah organisasi karena menemukan kesempatan untuk berkespresi.

Dimasa pendiriannya, 74 tahun lalu ada semangat revolusi untuk menyatukan potensi pelajar Islam untuk merespon dinamika kebangsaan.

Hanya saja, respon sekarang ini tetap menjadi pendorong gerakan organisasi. Tetapi dalam kaitan dengan revolusi yang berbeda dengan awal-awal kemerdekaan Indonesia.

Maka, sesuai dengan kontek kelembagaan yang ada. Dapat dilihat apa kondisi yang memungkinkan untuk direspon. Diantaranya kemiskinan, keterbelakangan, dan juga aspek sosial lainnya.

Ini akan menjadi sarana penyadaran tersendiri. Hanya saja, kemampuan utama dan pertama pelajar adalah kemampuan professional dalam bidang ilmu yang ditekuninya. Tanpa itu, hanya akan menjadi politisi saja. Sementara ini, kita sudah dalam jumlah yang memadai untuk kuantitas politisi. Tetap diperlukan untuk kualitas politisi yang tidak menyandarkan diri pada oligarki.

Satu hal lagi, latihan dan juga kemampuan yang perlu dikuasai adalah kemampuan menjalankan organisasi atas aturan keorganisasian. Ketika sudah disepakati, maka aturan itulah yang dijalankan bersama.

Betapa organisasi yang berbasis pada keagamaan Islam mengalami perpecahan kepengurusan. Bukan lagi hal yang tabu aatu terlarang, tetapi sudah menjadi kebiasaan. Jangan sampai ini juga terjadi pada organisasi pelajar.

Itu juga wujud pada organisasi berhimpun pemuda. Sehingga pemuda Indonesia sudah dicirikan dengan kemampuan membentuk kepengurusan ganda. Bahkan lebih dari itu. Tidak saja dalam organisasi mahasiswa, pemuda, tetapi juga melebar pada organisasi lain, seperti advokat. Bahkan organisasi kemasyarakatan Islam juga terjadi.

***

Islam yang menjadi pondasi bergerak harus kembali dikontekstualisasi dalam bentuk pesan-pesan yang lebih teknis. Bukan tentang ajaran Islamnya yang sudah paripurna. Melainkan bagaimana menerjemahkan pesan-pesan keislaman itu dalam skala terbatas organisasi.

Dalam Bahasa Kuntowijoyo (1991) “Paradigma Islam” yang merupakan interpretasi dalam aksi. Kuntowijoyo mengemukakan bahwa bukan lagi keterbelakangan itu pada akibat kolonialisme. Kekuasaan untuk mengelola kondisi yang ada dalam skalanya masing-masing. Mulai dari RT sampai ke presiden.

Termasuk peran-peran individual yang juga perlu dieksptesikan dan disertakan untuk skala yang lebih luas.

Ada keterbatasan akses yang akhirnya berdampak pada kebodohan. Ketidakmampuan mengidentifikasi sebuah maklumat dalam kategori sebuah informasi yang benar ataukah itu sekadar berita palsu, juga merupakan masalah tersendiri.

Tantangannya kini sama, dalam suasana yang berbeda. Dimana juga perlu penyamaan persepsi terkait dengan Islam itu sendiri, jangan sampai terjebak pada Islamisme (Tibi, 2016). Keduanya terdengar serupa tetapi dua hal berbeda.

Organisasi seperti Pelajar Islam Indonesia, dihari bangkitnya perlu melakukan konsolidasi sehingga memungkinkan soliditas internal yang memengaruhi transformasi masyarakat muslim Indonesia.