Hari Anak Nasional (HAN) diperingati setiap 23 Juli. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan pengesahan Undang-Undang Kesejahteraan Anak. Sejak pertama kali dirayakan pada  1984, peringatan HAN telah menjadi tradisi tahunan yang digunakan untuk meningkatkan kepedulian terhadap perlindungan anak.

Sayangnya, HAN tidak hanya dirayakan dengan kegembiraan dan rasa senang bermain. Kerasnya realitas dunia masih harus dihadapi oleh anak Indonesia. Putus sekolah, kasus kekerasan seksual, perundungan, hingga prostitusi dan perdagangan anak masih marak terjadi, dan anak bisa jadi korban ataupun pelaku.

Momentum HAN adalah momen yang tepat untuk menyingkap isu-isu yang masih menyelimuti anak dan menandakan bahwa pemenuhan hak anak masih menjadi pekerjaan rumah kita semua.

Satu dari 10 hak anak adalah hak atas Pendidikan. Idealnya, setiap anak harus menempuh pendidikan setidaknya hingga tamat sekolah menengah atas. Namun kenyataannya, jutaan anak Indonesia tidak sekolah. Berdasarkan laporan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), ada 4,5 juta anak Indonesia tidak bersekolah atau putus sekolah.

Penyebabnya beragam, tetapi masalah ekonomi adalah yang paling banyak ditemui. Kemiskinan telah memaksa anak bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga. Anak terpaksa putus sekolah karena orang tua tidak punya biaya atau orang tua tidak mampu lagi bekerja sehingga anak harus menggantikan menjadi tulang punggung keluarga.

Pemerintah memang telah melakukan berbagai upaya agar seluruh anak di Indonesia mampu mengenyam pendidikan yang layak. Namun upaya tersebut belum benar-benar mampu menyelamatkan anak dari putus sekolah. Meskipun sudah ada program beasiswa, namun belum mampu mengakomodasi seluruh anak.

Sebagai ilustrasi, anak dengan kemampuan rata-rata atau mungkin di bawahnya tidak mampu mengamankan kursi di sekolah negeri. Tentu masuk ke sekolah swasta adalah pilihan. Bagi orang tua dengan finansial menengah ke atas, tentu hal ini bukan lah masalah besar, tapi ini adalah masalah  bagi orang tua yang memiliki keterbatasan dana.

Kasus seperti ini adalah salah satu dari kasus yang ditemui pada Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH). Anak masuk sekolah swasta dan orang tua tidak mampu bayar lalu menyebabkan anak putus sekolah. Tanpa sekolah, anak tidak punya kegiatan dan terjerumus pada kenakalan remaja yang berakibat pada perbuatan kriminal.

Dari kasus yag dilaporkan oleh KPAI, kasus ABH adalah yang paling banyak. Pada 2011-2019, kasus ABH yang dilaporkan menyentuh angka 11.492. Angka ini bisa saja lebih besar mengingat kemungkinan masih ada data yang belum dilaporkan.

Anak tidak serta-merta menjadi kriminal, dan ekonomi bukan lah satu-satunya alasan. Pada beberapa kasus, anak melakukan perampokan bukan karena kekurangan uang, namun ingin memenuhi gaya hidup seperti pesta miras.

Di sisi lain, anak juga menjadi korban kekerasan dan eksploitasi seksual. Baru-baru ini kita dikagetkan dengan berita pencabulan 305 anak oleh WNA Prancis, dan berita pemerkosaan yang dilakukan oleh oknum P2TP2A Lampung Timur kepada korban pemerkosaan yang harusnya dilindungi.

Jika melakukan pencarian di internet dengan kata kunci kekerasan seksual pada anak, kita akan menemukan banyak kasus yang terjadi. Korbannya beragam dan tidak terbatas gender, baik laki-laki dan perempuan bisa menjadi korban.

Selain kekerasan seksual, anak juga terjerumus pada prostitusi. Awal 2020 lalu, polisi berhasil mengungkap prositusi anak di daerah Jakarta Utara. Oknum tidak bertanggung jawab memaksa anak melayani pelanggan hingga 10 kali dalam satu hari. Kasus ini hanyalah salah satu dari banyaknya kasus prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur.

Pelaku dalam kasus kekerasan dan prostitusi anak bukan hanya orang dewasa. Pada beberapa kasus, anak dapat menjadi pelaku. Artinya, sudah terjadi perbuatan kriminal oleh anak dan pada anak.

Tantangan di Era Digital 

Isu lain yang dihadapi anak pada generasi ini adalah kemajuan teknologi.  Isu serupa tidak dihadapi oleh anak pada generasi sebelumnya.

Teknologi di satu sisi adalah keuntungan, namun di sisi lain bisa menjadi mudarat dan momok menakutkan bagi anak dan orang tua. Pornografi, sexual grooming, dan cyber bullying hanyalah beberapa dari masalah yang menanti anak di dunia maya.

Data dari The Haris Poll Amerika Serikat menunjukkan bahwa anak menghabiskan 75% dari waking hours-nya di depan gadget selama pandemi Covid-19 berlangsung. Sebenarnya tidak ada masalah dengan screen time karena teknologi sudah tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari. Terutama pada masa pandemi di mana semua kegiatan dialihkan secara daring.

Masalahnya ada pada konten yang diakses. Jika anak menghabiskan waktu menonton pembelajaran sekolah selama seharian, tentu adalah sesuatu yang bagus. Namun beda urusannya jika anak mengakses situs ilegal, pornografi, atau terjebak dengan predator seksual online. Oleh karena itu, kontrol orang tua sangat penting dalam membimbing anak mengakses digital dengan bijak.

Peran Orang tua

The most important thing that parents can teach their children is how to get along without them.” ~ Frank A. Clark

Saat anak berada di sekitar orang tua, tentu mereka dapat diawasi dengan mudah. Tapi pada kenyataannya orang tua tidak dapat mengawasi anak selama 24 jam. Ada saatnya anak ke sekolah, bermain bersama temannya, atau menyendiri dan asyik dengan gadget. Anak juga punya privasi yang harus dihormati. 

Itulah kenapa orang tua perlu membekali anak dengan pendidikan karakter, terutama karakter resilient. Anak yang memiliki karakter resilient adalah anak yang mampu beradaptasi dengan tantangan atau kejadian traumatis serta mampu bangkit dari situasi tertekan.

Intinya, anak dengan kemampuan resiliensi baik akan mampu mengatasi masalahnya sendiri dan mampu terhindar dari pengaruh buruk. Seperti dijelaskan sebelumnya, orang tua tidak bisa selamanya berada di sisi anak. Karena itu, anak harus diajari untuk menjadi pribadi yang tangguh agar ia lebih siap menghadapi kehidupan.

Selain itu, anak juga harus diedukasi sejak dini. Ajari anak tentang cara menghormati orang lain, baik orang yang lebih tua, lebih muda, maupun teman sebayanya. Ajak anak berdisukusi tentang isu-isu sosial, tentunya dengan bahasa yang ringan.

Tak apa membahas isu seperti pelecehan seksual, agar anak tahu apa yang harus dilakukannya saat menyaksikan atau mengalami hal tersebut. Isu ini juga bisa didiskusikan dengan anak laki-laki ataupun anak perempuan, agar mereka bisa bergaul dengan saling menghormati dan menghargai.

Namun dua hal di atas tidak cukup untuk meng-handle isu-isu yang dihadapi anak saat ini. Isu anak adalah isu multidimensional, sehingga perlu adanya kerja sama yang erat dari masyarakat, pemerintah, guru, dunia usaha, media massa, dan pihak lainnya harus ikut terlibat dalam menciptakan lingkungan yang ramah anak.