7 bulan lalu · 46 view · 4 min baca menit baca · Sejarah 78135_68720.jpg
cdn.pixabay

Hari Anak: 20 November, 1 Juni, atau 23 Juli?

Sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 20 November, diperingati sebagai Hari Anak. Namun demikian, banyak negara yang memperingati Hari Anak pada tanggal 1 Juni. Di Indonesia, Hari Anak malah diperingati setiap tanggal 23 Juli. Mengapa ada tiga versi Hari Anak?

Versi 1

Hari Anak yang diperingati setiap tanggal 20 November disebut "Hari Anak Sedunia" atau Universal Children’s Day, dicanangkan oleh PBB sejak tahun 1954. Sejarahnya dimulai tahun 1946, saat itu Majelis Umum PBB membentuk UNICEF (The United Nations International Children's Emergency Fund) yang bertugas menyediakan bantuan darurat berupa makanan dan perawatan kesehatan bagi anak-anak korban Perang Dunia II.

Seiring berjalannya waktu, tugas UNICEF pun bertambah, tidak hanya memberikan bantuan makanan dan kesehatan, tetapi juga menyelamatkan kehidupan anak-anak, memberikan perlindungan yang layak, membela hak-hak mereka, serta menyelenggarakan pendidikan untuk membantu mengasah dan mewujudkan potensi dari mulai masa kanak-kanak hingga remaja. 

Oleh karena itu, sejak tahun 1953, UNICEF dijadikan sebagai badan tetap PBB dengan sedikit perbedaan nama menjadi The United Nations Children's Fund namun singkatannya tetap sama: UNICEF.

Pada tanggal 20 November 1954, PBB menetapkan satu hari khusus untuk bertukar pikiran mengenai anak-anak dan memulai tindakan nyata untuk memberikan kesejahteraan kepada mereka. Hal ini disambut baik oleh negara-negara di seluruh dunia, sehingga oleh PBB ditetapkanlah sebagai tanggal 20 November sebagai Universal Children’s Day.

Aktivitas yang berfokus pada anak dilanjutkan dengan pernyataan "Deklarasi Hak Anak" (Declaration of the Rights of the Child) pada tanggal 20 November 1959 yang menghasilkan 10 prinsip perlindungan anak dan menegaskan tanggung jawab untuk melindungi anak mulai dari dalam kandungan hingga setelah dilahirkan.


Tiga puluh tahun kemudian, yaitu tanggal 20 November 1989, PBB menyampaikan "Konvensi Hak Anak" (Convention on the Rights of the Child) yang mengubah cara pandang dan perlakuan terhadap anak. Anak tidak sekadar milik orangtua sehingga mereka bebas memperlakukan anak. Anak harus dipandang sebagai manusia seutuhnya yang memiliki hak sebagaimana manusia lainnya. 

Anak memiliki hak untuk hidup, sehat, berkeluarga, belajar, bermain, tidak boleh dianiaya, harus dilindungi dari eksploitasi, kekerasan, pelecehan, diskriminasi, memiliki hak untuk bersuara/berpendapat, kebebasan berekspresi, berpikir, mengikuti hati nurani dan agama.

Versi 2

Hari Anak yang diperingati setiap tanggal 1 Juni disebut "Hari Anak Internasional" atau tepatnya "Hari Perlindungan Anak Internasional" (The International Day for Protection of Children). Hari Anak versi inilah yang paling banyak diperingati oleh negara-negara di seluruh dunia mulai tahun 1950. Penetapan ini berdasarkan hasil kongres Women's International Democratic Federation di Moscow, Rusia yang dilangsungkan pada tanggal 4 November 1949.

Beberapa tahun sebelumnya, pada tahun 1925 di Jenewa, Swiss telah diselenggarakan Konferensi Kesejahteraan Anak (World Conference for the Wellbeing of Children). Saat itu dibahas mengenai banyaknya anak-anak yang terlantar dan diperlakukan tidak semestinya. 

Pertemuan tersebut menghasilkan "Deklarasi Jenewa" yang secara garis besar menyatakan bahwa anak harus dicukupi kebutuhan material dan spiritualnya untuk tumbuh kembang dengan pemberian makanan yang bergizi, pelayanan kesehatan jasmani dan rohani, jaminan perlindungan fisik dan mental, serta pemahaman kepada anak untuk memiliki jiwa sosial dan kemanusiaan.

Tiongkok adalah negara pertama yang mendukung peringatan Hari Anak versi ke-2 ini. Pada tanggal 1 Desember 1949, pemerintah Tiongkok mengumumkan keputusan bahwa setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Anak Internasional. Sebelumnya negara ini sudah memiliki semacam Hari Anak yang disebut "Ertun Tse", diperingati setiap tanggal 4 April sejak tahun 1931.

Versi 3

Hari Anak yang diperingati setiap tanggal 23 Juli di Indonesia disebut "Hari Anak Nasional", berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984.

Peringatan Hari Anak Nasional (National Children’s Day) berbeda-beda di berbagai negara, meskipun ada juga yang sama. Masing-masing didasari oleh nilai sejarah, budaya, tradisi atau ritual bangsa, momentum penting yang terjadi di negara bersangkutan, kebijakan pemerintah, dan lain-lain. Adanya beberapa versi Hari Anak inilah yang kemudian melatarbelakangi PBB untuk menyatukan seluruh negara di dunia untuk bersama-sama memperingati Hari Anak setiap tanggal 20 November.

Untuk peringatan Hari Anak tahun 2018 ini, UNICEF menggunakan kode blue (biru) dengan semboyan: "Children are taking over and turning the world blue" yang lebih kurang berarti: "Anak-anak mengambil alih dan mengubah dunia menjadi biru." 


Aktivitas biru yang ditandai dengan hashtag #GoBlue meliputi berbagi video promosi resmi UNICEF yang menampilkan selebriti dunia Millie Bobby Brown http://youtu.be/hGWE2D2Q81U, ajakan untuk menandatangani petisi global http://www.unicef.org/world-childrens-day#petition, mengunggah foto maupun video dalam dresscode dan suasana serba biru di media sosial sebagai bentuk dukungan terhadap anak, dan masih banyak lagi. Klik link ini untuk ikut serta: https://www.unicef.org/take-action.

Tak jadi masalah tanggal berapa peringatan Hari Anak, selama hak-hak anak tetap diberikan. Justru dengan banyaknya tanggal peringatan, maka akan semakin baik, karena orang tua menjadi semakin sering diingatkan untuk terus memberikan perhatian kepada anak-anaknya. Tidak hanya dalam wujud material, orang tua juga perlu mengalokasikan waktu, kesempatan, pikiran, perasaan, dan tindakan nyata untuk memberikan pendidikan kognitif, budi pekerti, dan spiritual kepada anak sebagai bekal mereka di masa depan.

Tiga hal utama yang penting disoroti mengenai kehidupan anak-anak pada saat ini. Pertama, pendidikan.Anak-anak harus bersekolah untuk belajar, mendapatkan ilmu pengetahuan, keterampilan, serta memiliki budi pekerti yang baik dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Fakta UNICEF 2018: 262 juta anak dan remaja putus sekolah, sebagian menjadi tenaga kerja anak

Kedua, Kecukupan gizi dan pemenuhan kesehatan. Masa kanak-kanak hingga remaja adalah masa pertumbuhan fisik dan mental, sehingga perlu ditunjang dengan makanan yang bergizi, sarana untuk menjaga kesehatan, termasuk pencegahan penyakit dan pengobatan/terapi yang tepat sasaran.

Fakta UNICEF 2018: 5,4 juta anak meninggal sebelum usia 5 tahun, sebagian besar karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah

Ketiga, Pergaulan bebas dan dampak perkembangan teknologi-informasi. Kurangnya perhatian dari orang tua, kebebasan yang berlebihan, ditambah sifat alami anak dan remaja yaitu rasa penasaran/ingin tahu dan suka meniru, maka mereka akan mencoba hal-hal baru yang diamati tanpa pikir panjang.

Fakta UNICEF 2018: 650 juta anak dan remaja putri menikah sebelum ulang tahun ke-18

Meski peringatan Hari Anak untuk tahun ini sudah terlewati, mari kita tetap mendukung hak-hak anak, dan mempersiapkan rencana-rencana baru yang bermanfaat untuk kehidupan anak-anak dalam rangka menyongsong Hari Anak 2019 yang akan datang.


Artikel Terkait