Punya banyak teman yang memiliki macam-macam keahlian tentu menyenangkan, ya. Kalian jadi bisa saling mempelajari, saling bertukar ilmu. Apalagi kalau teman-teman kalian itu menjadikan keahlian mereka sebagai sebuah profesi dan membuka usaha. Otomatis saat kita butuh bantuan yang berhubungan dengan hal tersebut pasti akan lebih mudah.

Teman yang jago menggambar lalu membuka usaha desain dan printing. Teman yang jago menjahit buka usaha menerima jahit pakaian. Ada juga yang buka bengkel atau salon kecantikan. Sebagai teman harusnya kalian ikut bahagia, kan?

Namun apa kalian pernah tahu ada teman lain yang suka sekali bilang 'Harga teman, ya?' ke teman kita yang punya usaha itu. Eh, atau jangan-jangan malah kalian yang sering bilang begitu demi bisa bayar lebih murah dari harga atau tarif semestinya? Wah, wah.

Si empunya usaha mungkin bisa saja mengiyakan kemauan kalian itu, gaes. Tapi pasti di dalam hatinya dia merasa sedikit kecewa, apalagi kalau kalian selalu seperti itu setiap ada butuhnya ke dia. Ini bukan hal baik, lho.

Di awal sebelum kalian berpikir untuk minta harga teman, sebaiknya kita pahami dulu tujuan mereka buka usaha itu. Yang namanya orang memberanikan diri untuk berwiraswasta, tentu saja pasti ingin dapat untung, ya. Paling tidak di beberapa waktu awal bisa balik modallah. Lalu berjuang supaya tidak sampai merugi dan bangkrut. 

Buka usaha, sekecil apa pun, kan, butuh modal? Mereka menetapkan harga produk atau tarif jasa juga pastinya sudah diperhitungkan dengan cermat, berapa dana yang akan diputar lagi untuk modal bergerak, berapa keuntungan yang bisa didapat supaya bisa menambah peralatan atau juga membayar gaji karyawan. 

Nah, kalau kalian selalu minta harga teman—yang pastinya di bawah harga normal—tentu akan ada sedikit kerugian yang mereka alami.

Kalau ada satu orang yang disetujui untuk mendapatkan harga teman, bukannya tidak mungkin, kan, hal ini akan menular ke pihak-pihak yang lain? Bisa kalian bayangkan kalau misalnya ada 3-4 orang yang terus-menerus meminta harga teman, bisa bangkrut bandarnya, gaes!

Sampai sini saja harusnya kita sudah bisa mengerti bahwa sebagai teman seharusnya kita menghargai jerih payah mereka. Selain untuk mencari uang dan keuntungan, mungkin saja ada sebuah pembuktian yang ingin mereka tunjukkan pada keluarga atau kerabat dekatnya. 

Siapa tahu mereka ingin menunjukkan bahwa dari hobi bisa menjadi hoki; siapa tahu mereka ingin membuktikan bahwa mereka bisa membiayai hidup mereka sendiri dari usaha ini tanpa minta bantuan dari keluarga.

Coba kalian posisikan diri ada di posisi mereka. Punya salon kecantikan, sudah bela-belain kursus mahal, eh ada teman-teman yang tiap datang selalu minta harga teman. Padahal alat-alatnya, kan, harus beli; listrik dan airnya, kan, harus bayar?

Atau kalau kalian punya bengkel, ada beberapa orang yang datang membawa kendaraannya untuk di-service atau sekadar ganti oli tapi selalu minta harga teman. Lha, emangnya oli tinggal minta ama pemerintah, apa? 

Punya keahlian menggambar lalu buka usaha desain kemudian banyak yang minta harga teman; memangnya untuk mendapatkan suatu dan meng-eksekusinya itu gampang? Nggak pakai energi? Nggak pakai mikir?

Padahal kalian tahu, yang namanya sebuah karya seni itu mahal harganya karena kita menghargai proses kreatifnya.

Masih banyak lagi contoh yang lain yang sebenarnya sudah bisa menyadarkan kalian yang doyan minta harga teman alias diskonan alias potongan harga. Saat berhadapan dengan sebuah bentuk usaha dagang atau jasa, posisi kalian berubah menjadi penjual dan pembeli, bukan teman lagi.

Memang iya, pembeli adalah raja. Tapi kalau yang namanya raja, kan, biasanya duitnya banyak, ya? Jadi nggak akan minta potongan harga. Wah, gila sih. Gengsi dong. 

Jadi, mulai saat ini kurang-kurangin deh minta harga teman. Kalau bisa tinggalkanlah. Jangan dipakai lagi. Karena kalau kalian memang mengaku sebagai temannya, kalian harusnya menghargai segala bentuk usahanya dan bahkan membayar lebih untuk semua itu. 

Kalau suatu saat mereka sendiri yang menawarkan harga teman itu pada kalian, hormati, berterima kasihlah. Tapi jangan dimanfaatkan dengan seenak jidat, ya. Pergunakan sebaiknya.