Kepada siapa hendaknya aku harus bergantung? Sepertinya, aku sudah bergantung pada tali-tali akar rapuh.

“Kenapa kamu menangis, Rahayu?“

“Lukisan itu menangis kepadaku!”

“Tidak mungkin, lukisan tidak bisa bergerak.”

 “Percayalah padaku, dia hidup! Lukisan adalah jiwa sang pelukis dan wanita di lukisan itu menangis!”

Apa pun yang dikatakan Rahayu kepadamu, akan terdengar seperti kebohongan jika dimulai prasangka negatif. Cobalah untuk berpikir positif terlebih dahulu bahwa, sesungguhnya ia mengatakan kebenaran. Rahayu, cucuku bukanlah seorang pembohong.

Lalu apakah mungkin lukisan bisa berbicara? Seperti kubilang tadi, berpikir positif adalah kunci untuk membuka jendela pemahaman baru, dan rasa ingin tahu lebih merupakan jembatan untuk mengetahui kebenaran baru. Terus bertanya untuk mendapat kendaraan menuju pengetahuan. 

Apakah kamu mengerti? Jika tidak, segala puji bagi Tuhan, aku memang berharap kalian semua tidak mengerti, sejujurnya aku suka wajah bingung dari setiap orang yang kutanya, karena bingung akan memantik sebuah pertanyaan baru, semangat untuk mencari tahu. Jadi, carilah jawabannya hingga ke ujung dunia!

Dia menyeka air matanya, syal cokelat tua melingkar di lehernya basah oleh tetesan air mata, tubuhnya sedikit bergetar hingga bunyi “krik” terdengar dari komponen-komponen kursi roda. Ia membuatku amat khawatir, tetapi sayangnya tak ada yang bisa kulakukan selain menunggu suaminya bertindak. 

Belakangan hanya melamun di kursi roda, Rahayu sepertinya tengah memikirkan sebuah hal mengganggu pikirannya. Ya, apa pun itu, aku cuma bisa berharap ia baik-baik saja—berharap dan berdoa, hanya itu yang bisa kulakukan. Memangnya salah?

Aku kebingungan mengamatinya sedang mata menangis lebih deras dari sebelumnya. Namun syukurlah, setelah berlama-lama akhirnya sang pelipur lara datang jua, sesuatu makhluk berdasi hitam masuk ke ruang baca terburu-buru menghampiri Rahayu. 

Aku begitu yakin, pasti penjaga perpustakaan itu sudah melaporkan kejadian ini kepada Jaya, suami Rahayu. Untuk sesaat, kemudian ia membawa jasad bernyawa istrinya ke sebuah kamar di depan perpustakaan tempatku bergantung.

Kayu jati bergemeretak begitu tubuh eloknya dibaringkan, puji-pujian terdengar memenuhi seisi ruangan—didengungkan dengan merdu oleh setiap orang di sini.

Oh, rasanya sudah menunggu berjam-jam menunggunya bangun, walau kelihatannya waktu tidak berpihak kepadaku. Bahkan jam dinding masih menunjukkan pukul 4 sore, belum ada 30 menit sejak dia pingsan. 

Mungkin Cucuku baik-baik saja, mungkin kepanikan ini membuatku stres hingga tak sadar waktu, mungkin saja, sebenarnya ia hanya perlu beristirahat. Tapi sekuat apa aku meyakinkan diriku, wajah Rahayu menunjukkan ekspresi kemalangan.

Satu jam berlalu, tapi bagiku bahkan rasanya sudah menunggu selama berhari-hari. Cucuku sudah bisa membuka kelopak matanya, bibirnya sedikit bergetar, memberi isyarat akan sesuatu yang dikatakannya.

“Apakah kau tahu apa itu kebijaksanaan abadi?” ucapnya. Kehalusan berbicara yang tak pernah luntur dari tutur lidahnya.

Dahi suaminya mengerut, mengekspresikan kebingungan. Barangkali selama hidup 45 tahun di dunia ini, belum pernah sekali pun ia mendengar pertanyaan aneh dari orang siuman, bahkan tidak dari orang yang benar-benar sudah sadar.

“Istriku, kau baik-baik saja?” ekspresi kebingungan di wajah mulai pudar, beralih menjadi perasaan sangat takut yang menggerogoti pikiran. Apakah istrinya, cucuku tercinta, Rahayu baik-baik saja?

Rahayu hanya diam menatapnya kosong selama beberapa saat. Dia mungkin saja sedang mengingat semua kejadian tadi dengan saksama.

“Aku hanya ... bisa tolong berikan teh hangat dan kue cokelat?” tindakannya semakin sulit ditebak. Akan tetapi, syukurlah ini memang Rahayu, gadis kecil kesayanganku. Aku tahu, dia lebih menyukai teh dan kue daripada pertanyaan abstrak yang sukar dijawab—seperti neneknya yang sudah meninggal bertahun-tahun lamanya.

Malam ini, sunyi sepi bagaikan purnama. Meski Rahayu sedang berada dalam atap yang sama, ia hanya bergeming memerhatikan sebuah buku tua di depannya. Ia terus membaca dengan serius setiap bab di dalamnya, sebuah surga kebebasan melihat dunia dari potongan-potongan kertas.

Rahayu, cucuku sangat mendambakan kebebasan untuk menjelajahi dunia bahkan sejak saat berada di pangkuan ibundanya. Menjelajahi kota tua tempat tinggal kami selama jam saja sudah menjadi kegiatan rutin sejak kecil. 

Namun ada masalah yang sejak kecil kupertanyakan kepada diriku sendiri. Bahkan sebelum meninggal, kutitipkan pertanyaan itu kepada generasi penerusku. “apakah kebebasan itu?”

Sebelum menjawab, aku tekankan bahwa membuka kamus bukanlah pilihan bijak. Kamus adalah sekumpulan lema yang ditulis para ahli bahasa pada zamannya, jadi kebebasan dalam definisi kamus akan berbeda dengan jawaban jika menemukan esensi kebebasan itu sendiri—sebuah arti kebebasan sejati.

Dia selalu membaca buku, Rahayu menyukai menghabiskan hari-harinya di atas kursi roda sambil membaca, menunggu suaminya pulang dari kantor membosankan yang setiap harinya membuat jenuh. Dia selalu begitu, Rahayu selalu membaca buku di atas kursi rodanya, di bawah atap rumah perpustakaan.

“Apakah hidup ini adil jika aku hanya bisa mencari arti kebebasan dari buku-buku yang kubaca, sedangkan engkau bebas menjelajah cakrawala?” dia mengajukan pertanyaan kepada sebuah lukisan di depanku. Namun, tentu saja, itu tak ‘kan mendapat jawaban apa pun kecuali tatapan kosong.

Aku menatap wajahnya lekat-lekat, ia tampak tegar. Garis dahinya menunjukkan usianya, rasanya tak sampai hati memikirkan semakin hari usianya semakin bertambah, aku hanya takut kalau sampai Rindu pergi meninggalkanku sebelum sempat membahagiakannya. Padahal selama hidupku, aku tak pernah bisa membuatnya bahagia.

Ia kemudian menunduk, melihat ke arah bukunya lagi untuk beberapa saat. Sampai ia bergumam. “Selalu ada harga untuk mendapat sebuah jawaban.”

Malam itu, ketika cuaca sedang sedikit berkabut, buku-buku miliknya berantakan di mana-mana. Suaminya baru pulang dari kantor untuk kemudian menyapa istrinya dan bertanya, “Istriku, kau sudah menghabiskan sebagian besar waktumu untuk terkurung di perpustakaan ini dan membaca, selama kita menikah aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali mengajakmu berjalan-jalan. Tidakkah kau merasa aku suami yang payah?”

Ramah tutur katanya menyapa sang suami, boleh jadi drama kolosal suami-istri ini memasuki babak baru.

 “Suamiku, apakah hidup di luar berkutat dengan semua gemerlap kebebasan telah mengubah standar bahagia menurut sudut pandangmu? Kupikir, sayang, sejak kita memutuskan menikah dan menjalin komitmen untuk selalu bersama, definisi kebahagiaan kita tetaplah sama. Yaitu kebebasan. Benar begitu?”

“Lalu apakah terkurung di sini membuatku tidak bahagia sama sekali? Tentu saja, jawabannya tidak. Bukan, definisi kebebasan tetaplah sama sejak kita menikah dulu, hanya caraku memandangnya kini berubah. 

Baik kau dan aku bebas dalam dunia kita sendiri. Kau bebas untuk menjelajah dunia realitas yang membosankan, sedangkan aku tengah menjelajah dunia fantasi dalam sebuah buku dan lukisan. Kita bebas di dua dunia berbeda, namun esensi dari kebebasan tetaplah sama, jadi jangan khawatirkan aku. 

Sesungguhnya, suamiku dengan kau membawaku ke tempat ini bersama seorang pustakawan, kau sudah membuka dunia baru yang selama ini tidak pernah kujelajahi dengan kedua kakiku. Dengan kau membiarkanku membaca buku dan senyum mengembang menyambutku setiap hari, kau sudah membuatku sangat bahagia.”

“Jangan melarangku untuk kembali membaca dan memikirkan pertanyaan-pertanyaan bijak yang menumpuk di benakku, karena itu justru yang membuatku bahagia selama berada di antara kaki dan kursi rodaku. 

Meski pikiranku lelah memikirkannya, rasanya itu lebih membahagiakan daripada harus berkutat di dunia luar dengan kebebasan semu yang memaksa kita untuk menjadi bodoh lantaran dibutakan oleh gemerlap kebebasan palsu hingga lupa untuk membaca. Sesungguhnya, suamiku, aku telah banyak belajar. Terima kasih sudah memberi semua ini. Tanpa dirimu, ini tak akan pernah terjadi.”

“Sejak menikah kita hanya berfokus untuk hidup bebas—kita telah dikutuk karena kebebasan itu sendiri, karena kebebasan kita jadi lupa daratan. Kita hanya berfokus untuk menjalani sesuatu, tanpa mengerti makna dari sesuatu itu. Kebebasanmu menuntut sebuah wadah yang kau sebut sebagai pekerjaan, tanggung jawab, waktu untuk disia-siakan, kau bebas tetapi harus membayarnya degan cukup mahal,” lanjut Rahayu, kemudian meletakkan buku yang sejak tadi dibacanya ke atas pangkuan.

“Apakah kau ingin tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku sebelumnya?”

“Tentu,” suaminya menjawab, tergagap, bingung mau mengatakan apa.

“Kalau begitu kau harus mencari tahu sendiri. Makna dari sebuah jawaban ada ketika proses panjang pencarian. Tidak akan menarik lagi jika kuberi tahu jawabannya, itu seperti memberi bocoran bagian akhir sebuah novel. Kalau sudah tahu akhir dari sebuah kisah, apa yang menjadikannya tetap menarik?”