Melintasi batas-batas yang sudah pakem diatur adalah suatu kemustahilan. Tapi bagi Fatima Mernissi, "harem" tak sebatas sekat fisik yang mengurungnya bertahun-tahun di kota Fez. "Harem" lebih dari sekadar dinding dan tembok pembatas. "Harem" membentuk pola dan jangkauan berpikir seorang perempuan hanya "sampai di sini dan sejauh di situ."

Untuk itu, obsesinya adalah menembus batas "harem." Kata Lalla Yasmina, nenek Mernissi, soal batas-batas "harem," sejatinya lebih banyak tersimpan dalam benak seseorang, lebih dari sekadar batas-batas dinding yang secara fisik membatasi ruang gerak perempuan. "Harem" membentuk bangunan dengan tembok kuat agar perempuan tak lolos. "Harem" memprogram pola pikir agar selalu "follow up."

Mernissi lahir dari lingkungan "harem," di kota Fez, Maroko bagian utara pada tahun 1940. Dalam ruang kelas berpikir Mernissi, dunia ini sempit dan soliter. Baginya, lingkungan tempat ia hidup bagaikan "cadar" yang tak mudah dilepas. Hidupnya hanya sejauh pintu depan dan pekarangan rumah. Ia tak mudah menjangkau yang seberang.

Mernissi menjelaskan "harem" demikian. Dari sosok sang ayah, "harem" adalah dinding-dinding tembok yang tinggi. Sedangkan dari keluarga sang ibu, "harem" diwujudkan dalam bentuk rumah yang dikelilingi kebun yang luas. Di dalam "harem" inilah, Mernissi mengolah pemahamannya soal kesetaraan, arti keterkungkungan, dan keterpurukan yang dialami perempuan.

Keluarga Mernissi tak semuanya "menyantuni" gagasan "harem." Nenek Lalla Mani dan Ibu Chama, merupakan kelompok yang pro "harem" dan menganggapnya baik. Sedangkan kelompok kedua adalah yang kontra "harem," diwakili oleh ibunda Mernissi sendiri, yakni Chama dan bibi Habiba. Ibunda Mernissi sering memperlihatkan rasa anti "harem" dengan menolak pemisahan ruangan antar-keluarga. Tapi, itu tak mudah bak mendorong pintu yang bertulis "ditarik."

"Harem" tak sampai pada urusan sekat ruangan. Istilah "harem" bahkan dibawa terus ke bilik penghafalan al-Quran. Soal bersilaturahmi dengan Yang Empunya Kehidupan, sekat juga ikut dibangun, antara bagian perempuan dan laki-laki. 

Menariknya, Mernissi mengkritisi cara membatinkan al-Quran dengan menghafal. Di sini semuanya sama. Tak boleh salah dalam mengeja. Jika salah, "mahdriyah" (pelajar yang lebih tua), siap menghukum.

Kisah Mernissi adalah profil dari setting dunia hari ini. Manusia sekarang hidup dalam "harem" yang mengungkung orang pada batas-batas tertentu. Batas-batas ini, tak hanya berlaku secara fisik (social distancing), tapi juga batas-batas bernalar. Kita tak bisa berpergian jauh dan menikmati kebersamaan di luar sana tanpa "harem."

Kerangkeng "harem" memenjarakan setiap orang pada "disfungsi bernalar." Kita tak bisa beropini soal sesuatu di luar keyakinan "harem," katakanlah dengan mengajak orang untuk berkerumun (kembali bekerja) demi kehidupan ekonomi yang baik. Itu melanggar "harem." Di luar "harem" kita tak bisa berbuat apa-apa. Apa yang mungkin bisa dan terus dibuat adalah menganggap "harem" itu baik.

Dalam logika ekonomi, kerumunan adalah uang. Jika tak berkerumun, uang tak berpindah, ekonomi mandul. Ekonomi kadang ditopang oleh penghancuran batas dan jarak. Memang dunia daring dengan sistem mekanisme pasar per orang tanpa tatap fisik secara langsung membantu, tapi itu tak sepenuhnya menyantuni.

Jika Mernissi menarasikan kehidupan "harem" sebagai dinding yang mengecilkan ruang gerak, situasi saat ini, justru lebih dari sekadar "harem." Yang menarik adalah cara kita menyikapi "harem" selalu sama, seperti halnya melafal al-Quran: tak boleh salah, ejaannya perlu sempurna. 

Tak ada yang berani membuat sebuah cara yang tidak harus sama dalam menyikapi "harem 2020." Seluruh dunia menyetujui "harem" dan membuat sistem mekanisme yang sama menghadapinya.

Apalah jadinya jika "harem" tertanam dalam pada benak peserta didik? Bukankah itu membuat mereka merasa nyaman dan lagi tak menyukai ada bersama? Apalah jadinya jika kerangkeng "harem" terus dibuat di dalam rumah-rumah ibadat kalau bukan menanam pembatas yang susah dicabut? Kita nyaman dalam "harem" karena mayoritas orang merasa nyaman.

Di tengah pandemi virus corona, "harem" lahir dalam bentuk "cadar" agama. Cadar ini digunakan untuk memberi parit pada relasi sosial dan kadang memecah-belah. Ketika pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiskus mengeluarkan sebuah ensiklik "Fratelli Tutti," saya justru merasa tersentak. Selama pandemi, "harem" sudah terlalu lama membuat kita cenderung anti-sosial.

Mernissi pernah menggugat "harem" sebagai pembatas sosial berabad-abad. Dalam cangkang "harem", kadang sekelompok manusia merasa nyaman dan apatis. Mernissi, hemat saya justru berani mempertanyakan "harem." Untuk apa membangun "harem" di tengah situasi krisis pandemi seperti ini? Apakah "harem" adalah tanda kita bersaudara? 

Saya berharap, kita tidak terlalu lama untuk tinggal dalam "harem." Cadar "harem" kali ini, bisa hadir seperti, sebuah seruan pemecah-belah (friksi). Dari politisasi agama, hingga sikap apatis terhadap kebutuhan sosial adalah jaring-jaring "harem" yang perlu dibongkar. Ada banyak perempuan yang tak menyukai "harem." Apakah mereka bisa menjadi Mernissi modern untuk meruntuhkan "harem?"