Guru
1 tahun lalu · 171 view · 4 menit baca · Cerpen 19267_18870.jpg
Google Image

Harapan Semu

Genggaman tangan kiriku akan benda hina yang selama ini kuanggap sebagai teman batinku kian menguat. Aku abaikan kemungkinan buruk yang berpeluang akan melukai sekaligus menghancurkan pengharapanku.

Aku sudah terlanjur luka. Aku sudah terbiasa dengan kepedihan. Sehingga nalar sehatku enggan menegur apalagi menghentikannya.

Kulihat kiri dan kananku, semuanya hanyalah imaginasi semu yang bertahtakan kegelapan. Bisik-bisik naïf secara perlahan kian cermat mengguruiku.

Semua semakin sempit dan mengisyaratkan bahwa dunia benar-benar telah bersumpah untuk tidak akan menyapa apalagi mencintaiku. Tak satu pun malaikat sudi menghampiriku. Jangankan mengharap sekuntum bunga, perkutut jalang pun enggan tersenyum padaku.

Kini perdebatan hebat di dalam batinku semakin menjadi. Hanya ada secuil nalar sehat yang terkadang berusaha mengingatkanku untuk mengakhiri.

Namun, celakanya tiba-tiba di arah yang berbeda selalu ada seonggok makhluk besar, hitam dekil dengan wajah yang bringas selalu menghampiriku. 

Aku takut, tetapi aku memaksakan diri untuk akrab sekaligus membuat rasa nyaman ketika ia datang menghampiriku. Seolah-olah di balik tampilan ke-mahaburukannya itu selalu ada harapan yang ia janjikan.

Ah sial, aku tertipu. Semakin aku percaya dan memutuskan untuk melacurkan seluruh batinku padanya, aku semakin tersudutkan. Pandanganku semakin hitam. Tak ada sedikit pun cahaya terang sudi menghampiriku.

Aku masih berharap, kalaupun tidak bintang, setidaknya sedikit percikan api datang memberi warna selain dari kegelapan. Aku terus menantikan itu, padahal aku tahu bahwa ia pasti tak akan kunjung datang. Aku terus berharap sembari mengutuk kegelapan, padahal aku sudah terlanjur yakin bahwa ia hanyalah harapan semu yang mustahil menjadi kenyataan.

***

“Bresshhh”…..Tiba tiba kemungkinan buruk itu benar ia-nya terjadi. Benda hina berisikan setengah air dusta itu hancur lebur dalam genggaman tanganku.

Kini ia tidak lagi sempurna, berubah menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak berarti seolah-olah menggambarkan harapanku yang telah sirna. Sirna karena ulahku yang tak kunjung menyudahi sesuatu yang sudah seharusnya aku akhiri.

Tak segan ia melukai lapisan terakhir yang membungkus tulang tanganku. Darah segarku menetes secara deras. Bergumal menjadi satu dengan air hina itu, jatuh tak beraturan di lantai gubuk yang pasti takkan mampu menolaknya.

Kewarasanku semakin dibayang-bayangi oleh rasa ketakutan itu sendiri. Aku terjatuh, aku semakin terpuruk, sempoyongan tak menentu.

Kini kursi tua yang satu-satunya menjadi saksi terdekat kegaduhan batinku diam seribu bahasa. Seolah-olah memposisikan diri sebagai benda yang tak berguna.

Jangankan menghampiriku, bergeser pun ia tak sudi. Aku tahu, ia pasti sedang menggerutu tak menentu melihat aku yang sudah terlanjur mati dalam bayang-bayang harapan.  

Sementara dari kejauhan, dinding gubuk reot yang telah aku nobatkan sebagai tembok surga dalam memaknai kesendirian enggan merobohkan dirinya. Ia belum menginginkan agar aku lekas menghampiri detik-detik akhir kehidupan. Aku pandangi ia dengan mata telanjangku yang berkaca-kaca, tetapi tak sedikit pun ia menyambut baik isyaratku.

Entah karena ia tak mengerti isyarat dariku, atau ia sengaja berpura-pura tak memahami tentang apa yang aku harapkan. Aku pun tak kunjung menerima alasan mengapa ia tak melakukan itu.

Padahal aku tahu persis bahwa dialah pihak kedua setelah kursi tua yang paling tahu bagaimana gejolak batinku yang kian tak menentu dalam setiap lamunanku di sepanjang hari. Sempat terbesit di pikiranku bahwa cukup beralasan kiranya ia mau membantu aku untuk segera menyudahi ini semua.

Oh Tuhan..., kegaduhan batinku semakin memuncak, aku pun sudah tak lagi menganggap semua yang ada di sekitarku sebagai kawan. Semuanya kusulap sebagai lawan yang sudah pasti takkan pernah peduli dengan jeritan tangisku.

Mataku memerah, bibirku memucat pasi. Anehnya, tanganku enggan melepaskan sisa serpihan benda hina yang sudah tak lagi sempurna itu.

Aku merasakan kepedihan yang tida tara, darah di sekujur tubuhku semua berhamburan menuju pintu keluar yang telah aku buka secara paksa. Bagaikan makhluk aneh yang baru keluar dari kegelapan menuju cahaya harapan. Ia tak mempedulikan kepedihan yang aku alami. Sialnya, ia mengira aku sedang menikmati hasil dari jerih payah menjadi pejuang kebebasan.

“Itu anggapan yang keliru,” batinku terus meyakinkan.

Tapi ia memilih untuk tuli, mengabaikan semua rintihku. Jangankan berkata “tidak”, berhenti sedetik pun tak ia upayakan. Aku pun tak lagi mengharap ia peduli.

Bagiku, saat ini mendengar ratapanku saja itu sudah lebih dari cukup. Aku tak mau menyerah. Aku terus untuk melawan agar terlihat tegar dalam mengupayakan pembelaan.

Sekalipun aku sudah tak memiliki secuil harapan, tapi aku mencoba untuk  terus melakukan pembelaan. Aku sudah terlanjur mengubur jauh benda atau pun makhluk yang bergelar harapan di lautan sirna. Berbagai kelicikanku untuk mencegahnya hanyalah sia-sia belaka.

Aku semakin terpuruk. Sempoyonganku bukan karena imaginasiku sedang dirasuki air hina ini, tetapi pergulatan batin dan derasnya benda yang mengalir di setiap nadiku sudah semakin melumpuhkanku.

***

Sepuluh tahun sudah cukup rasanya bagiku untuk menyudahi itu semua. Bibir sudah tak mampu berucap, telinga sudah tak sudi mendengar indahnya kicauan Merpati yang sedang kasmaran dan kaki sudah enggan melangkah untuk keluar dari kegelapan. Aku menganggap bahwa diriku telah terperangkap dalam ruang kegelapan.

Aku tak jua kunjung disadarkan oleh keadaan, sekalipun hari-hariku selalu bersahabat dengan lamunan panjang. Jangankan kulit tua yang kerucut, rambut yang kian memutih tak lagi aku hiraukan. Aku ingin mengutuk keadaan, tetapi kata pilihan selalu saja menghardikku dengan mengatasnamakan takdir Tuhan.

Ia benar-benar tak menghiraukan usia senjaku yang jauh lebih rapuh daripada sepuluh tahun yang lalu saat aku bersahabat dengan sebotol minuman keras di kala itu. Aku telah benar-benar salah besar dalam menaruh harapan pada waktu. Waktu yang kuanggap sebagai satu-satunya benda yang jauh lebih mulia daripada harapan itu sendiri, nyatanya ia jauh lebih kejam.

Kini, di usia senja, aku telah menemukan satu jawaban paling tepat sekaligus sangat memuaskan atas sejuta harapan yang selama ini aku impikan. Ternyata, berharap pada sesuatu yang nyatanya hanyalah akibat dari proses penciptaan Tuhan bukanlah suatu pilihan yang tepat. Itu semua hanyalah kepura-puraan yang siap mengantarkan pada gerbang kenyataan yang berpenghunikan harapan semu.