Beberapa waktu yang lalu selepas kerja saya ingin cari hiburan di Youtube. Tanpa sengaja ketemu chanelnya Cak Dave “Londokampung”. Saya suka konten-kontennya yang kocak dan sangat menghibur, lumayan sebagai pelepas lelah sehabis kerja.

Di sebuah kontennya, dimana dia sedang mengunjungi Kampung Inggris Pare, Kediri, untuk mencari tahu seberapa mahir orang di Kampung Inggris berbahasa Inggris. Nah, karena itu saya jadi tahu kenapa daerah Pare ini disebut kampung Inggris. Ternyata disana terdapat banyak tempat kursus Bahasa Inggris dengan sistim belajar yang cukup unik, dimana peserta kursusnya diasramakan dan ada zona waktu dan tempat wajib berbahasa Inggris.

Seperti biasa kontenya dikemas dengan kocak dan menghibur. Disitu dia berkomunikasi dengan warga asli kampung dan beberapa siswa peserta kursus dengan Bahasa Inggris. Ternyata kemampuan dan keberanian orang disitu berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris dengan bule cukup lumayan walaupun belum mahir benar.

Dari sanalah saya jadi berkeinginan belajar Bahasa Inggris sampai berani ngomong dengan bule. Tapi, karena kondisi lagi pandemi tentunya tidak mungkin saya mengikuti kursus tatap muka. Oleh karena itu saya mencoba mencari alternatif jenis kursus yang proses belajarnya dilaksanakan secara online.

Maka mulailah pencarian kursus online Bahasa Inggris di Google, Facebook dan Instagram. Sebetulnya tidak benar-benar mencari dengan serius juga, saya hanya ngetik kata-kata yang berhubungan dengan kursus Bahasa Inggris Online saja dan setelah ada hasilnya ditutup lagi. Sengaja saya lakukan itu, agar nantinya beranda media sosial saya menjadi sasaran iklan-iklan kursus Bahasa Inggris.

Benar saja setelah itu, setiap hari selalu ada iklan kursus Bahasa Inggris yang lewat di beranda media sosial saya. Itulah kebiasaan saya kalau mau mencari produk atau jasa apapun secara online. Banyak ragam iklan yang lewat mulai dari yang lebai melambai sampai dengan yang serius. Dari yang diskon besar sampai yang banyak bonusnya. Saya bisa leluasa memilah milihnya.

Walaupun tidak satu pun yang akhirnya berhasil membuat saya beli produknya, namun ada satu iklan yang menarik perhatian saya karena cukup menggelitik. Dalam iklan dari itu ditawarkan “diskon 51% hanya tersisa 1 hari terakhir”. Dari harga Rp.1.990.000,- menjadi Rp.990.000,-. Saya lihat kontenya mulai dari materi kursus, fasilitas sampai reviewnya cukup menarik.

Walaupun sudah diskon, duit segitu masih cukup besar buat saya, jadi saat itu saya lewatkan kesempatannya.  Sehari kemudian iklan itu muncul lagi di beranda media sosial saya, lucunya penawarannya tetep sama bahwa diskon 51% tersisa 1 hari terakhir. Begitu terus sampai sekarang ada sudah sebulanan dari sejak pertama iklan itu muncul.

Awalnya saya tertarik, tapi merasa ada yang aneh dengannya. Saya berkesimpulan kursus ini tidak benar-benar memberi diskon sepeserpun kepada pembelinya. Itu hanyalah bahasa marketing yang kurang elok menurut saya. Bayangkan kalau saya jadi daftar kursusnya, untuk bisa membayarnya saja saya pasti menunda dan mengorbankan kebutuhan yang lain, terus keesokan harinya iklanya muncul lagi, dan ternyata diskonnya masih tetep sama, kan bikin dongkol pastinya.

Saya pernah mengalami sendiri merasa dibohongi iklan seperti ini. Waktu itu iklanya tentang kursus copywriting. Dalam iklannya disebutkan “Anda Akan Merasakan Skill Yang Dapat Menghasilkan Penjualan Lebih Banyak Setiap Harinya”. Juga dirinci materi berupa modul yang akan didapat. Ada 5 modul dengan 55 topik didalamnya.

Materi yang dibahas mulai dari pengenalan, mindset hingga teknik closing menggunakan copywriting. Insting bisnis saya terbagun, ada bau-bau cuan disini. Karena saya membayangkan ada peluang penghasilan yang besar kalau saya punya kemampuan copywriting dijaman sekarang.

Karena saya selalu tertarik untuk belajar menulis, disitulah saya termakan oleh penawarannya. Tapi setelah diikuti, saya sangat kecewa karena sungguh jauh panggang dari api antara iklan dengan kenyataan meteri yang didapatkan.

Modul materinya berupa teks di member area. Saya meyakini materinya itu hasil dari google translate, karena banyak sekali kalimat aneh yang susah dimengerti. Seperti ini salah satu contoh kalimatnya “Tujuan dari Headline sederhana: untuk membuat orang menghentikan mereka dan mulai membaca (atau menonton) apa pun yang Anda masukkan di depan mereka”. Bayangkan kalau baca 55 topik materi dengan kalimat seperti itu, pusing kan?

Penulisan iklan model klickbait seperti ini mungkin bisa berhasil menggaet konsumen sekali saja namun tidak untuk kedua kalinya. Menurut saya tujuan dari beriklan adalah mendapatkan penjualan dan pelanggan. Setelah berhasil menjual, harus diikuti dengan pelayanan yang memuaskan sehinga ekspektasi pembeli terpenuhi. Pembeli yang puas bisa meningkat menjadi pelanggan. Semakin banyak pelanggan tentunya juga meningkatkan pendapatan usaha.  

Penawaran diskon terbatas seperti itu harusnya membuat si konsumen merasa beruntung dan istimewa bukannya merasa tertipu. Alih-alih untung malah jadi blunder buat perusahaannya. Jika konsumen sudah merasa kecewa tentunya bisa berakibat buruk bagi perusahaan. Di jaman sosial media sekarang, kekecewaan konsumen bisa menyebar dengan cepat. Citra buruk perusahaan akan sangat sulit dipulihkan.

Bagi saya, perusahaan yang cara ngiklannya ngawur seperti itu mencerminkan manajemen perusahaan yang tidak profesional. Dan sudah pasti tidak akan saya lirik produknya apalagi membelinya.

Penulisan iklan model clickbait tentunya tidak salah, karena prinsipnya adalah menarik perhatian dan membuat penasaran orang untuk mau bertindak sesuai dengan tujuan yang diinginkan pengiklan. Tetapi diatas itu semua apa yang disampaikan dalam iklan haruslah relevan dengan isinya dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena iklan bukanlah media online semacam tribunnews yang hanya mengejar jumlah klik saja. Tujuan dari iklan tentunya adalah meningkatkan penjualan dan branding usaha.

Untuk mendapatkan kepercayaan konsumen harusnya perusahaan bisa konsisten dengan apa yang ditulis dalam iklannya. Jangan overclaim apalagi terkesan menipu. Ekspektasi konsumen harus dijaga sebagaimana nama baik brand usaha yang juga mutlak harus dijaga. Jangan dikorbankan hanya demi mengejar omset penjualan.

 Nah, apakah anda pernah merasa tertipu oleh sebuah iklan? Bagaimana kesan anda terhadap perusahaan yang membuat iklan seperti itu?