Sungguh menyakitkan menjadi orang yang tidak dianggap. Apalagi jika berurusan dengan cinta. Tapi, tunggu dulu. Yang saya maksud di sini bukan tentang cinta, melainkan aktivitas pekerjaan yang selama ini banyak dilakukan oleh penduduk Indonesia, yang tidak terdaftar dan termarginalkan.

Pada Agustus 2017, BPS mencatat ada 57,03 persen pekerja atau pelaku usaha yang tidak dianggap di Indonesia. Dalam studinya di Ghana 1973, seorang antropolog Inggris bernama Keith Hart menamai pekerja atau pelaku usaha yang tidak dianggap ini dengan istilah pekerja sektor informal.

Kala itu, Hart melihat ada beberapa jenis pekerjaan yang tidak terdaftar dan di luar regulasi pemerintah, namun banyak dilakukan oleh penduduk migran perkotaan di Accra, Ghana. Karena tidak terdaftar, pelaku usaha sektor informal tidak mendapat intervensi dari pemerintah sehingga sering termarginalkan. Berbagai tindakan seperti punggutan liar, penggusuran, dan kekerasan sering mereka alami.

Padahal jika dilihat dari potensi penyerapan tenaga kerja, sektor informal hampir selalu memiliki porsi yang lebih besar. Seperti di India 73,7 persen, Pakistan 67,1 persen, Filipina 66,9 persen, dan Thailand 51,4 persen (Brata, 2010).

Sektor informal memiliki jenis yang beragam, mulai dari pedagang asongan, pedagang kaki lima, pembuat kue rumahan, tukang becak, pedagang di media sosial, dan lain sebagainya. Dengan melihat banyaknya pelaku usaha sektor informal yang ada, maka perlu suatu wadah untuk menampung para pekerja sektor informal, supaya pekerjaan yang selama ini mereka lakukan dapat dihargai dan dianggap.

Dan yang tak kalah penting, supaya mereka dapat memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan dan kemampuan usaha menjadi lebih baik. Salah satunya seperti yang telah dilakukan oleh perusahaan tambang emas PT Bumi Sukseindo (BSI) di daerah Banyuwangi, Jawa Timur.

Melalui program corporate social responsibility (CSR), PT BSI mencoba memberikan program pemberdayaan kepada masyarakat yang tinggal di lingkungan sekitar PT BSI dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan usaha yang telah mereka jalankan selama ini.

Langkah awal yang dilakukan dengan melakukan pendataan pelaku usaha yang ada di daerah terdekat, kemudian meninjau permasalahan dan potensi yang dimiliki. Setelah itu, para pelaku usaha akan dibuatkan wadah yang berbentuk komunitas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Centre.

Para pelaku usaha dengan difasilitasi oleh PT. BSI membentuk UMKM Centre pada 2017, yang salah satu kegiatannya bergerak dalam bidang pembuatan berbagai makanan ringan dari bahan baku lokal yang mudah didapatkan.

Tidak hanya menampung hasil-hasil karya dari berbagai pelaku usaha infomal yang ada selama ini, namun, melalui UMKM Centre, para pelaku usaha ini didorong untuk menciptakan berbagai produk unggulan, seperti produk buah naga, keripik pisang, dan yang terbaru adalah pembuatan kerupuk gurita.

Selain itu, PT BSI juga melakukan berbagai pelatihan dan pendampingan bagi para anggota UMKM Centre, seperti pengolahan, pengepakan, pemasaran, sampai pada pengurusan izin produksi.

Salah satu anggota UMKM Centre yang bernama Pak Dirto dan sekaligus pemilik usaha produksi Sale Pisang Goreng dan Kripik Pisang Madu NIKMAH mengungkapkan, setelah bergabung dengan UMKM Centre, ia dapat memproduksi Sale Pisang Goreng dan Kripik Pisang Madu NIKMAH dengan lebih baik. Pendapatan bersih yang diperolehnya mengalami peningkatan dari 1 menjadi 2 juta rupiah per bulan.

Dalam aspek pemasaran, ia juga mampu menjual Sale Pisang Goreng dan Kripik Pisang Madu sampai ke luar negeri, seperti Hongkong, Malaysia, dan Taiwan. Dengan adanya surat izin produksi, Pak Dirto lebih mudah melakukan penjualan produknya pada beberapa supermarket atau pusat oleh-oleh yang ada di Banyuwangi.

Pak Dirto juga mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi tetangga yang ada di lingkungannya. “Ada tiga orang tetangga yang saya libatkan untuk membuat keripik pisang. Mereka saya berikan upah 35 ribu rupiah per hari,” ujar Pak Dirto.

Dulu, pelaku usaha di daerah ini bergerak secara individu, autodidak, dan tidak terdaftar. Namun berkat adanya Program UMKM Centre dari PT BSI, pelaku usaha sektor informal tidak hanya terdaftar, namun juga mampu meningkatkan pendapatan, memperluas area pemasaran, dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat di sekitarnya.

Sebuah catatan penting yang mungkin perlu untuk dilaksanakan adalah pembekalan kemampuan adaptasi pelaku usaha sektor informal yang telah tergabung dalam UMKM Centre dengan teknologi baru, seperti pemasaran menggunakan media digital. Sebab, pada kasus Pak Dirto, ia memasarkan Sale Pisang Goreng dan Kripik Pisang Madu miliknya dengan metode konvensional, yaitu menggunakan jaringan teman atau keluarga yang kebetulan tinggal di luar negeri.

Seandainya Pak Dirto dapat difasilitasi dengan media teknologi yang lebih baik, kemungkinan besar akan sangat membantu dan meningkatkan potensi penjualan.

Setiap hal memiliki waktunya sendiri untuk bertransisi, begitu pun pelaku usaha sektor informal memerlukan waktu untuk bertransisi dari informal ke formal, dari tidak dianggap menjadi dianggap. Hanya saja, ada yang memiliki kesempatan dan ada yang tidak. UMKM Centre PT BSI telah menjadi jalan terciptanya kesempatan itu.