Seperti hari-hari kemarin, saat masih pada proses ikatan magang di salah satu media online yang berbasis di Majene, nama medianya mediasulbar.com. Hari itu rencana ingin meliput agenda pertemuan mahasiswa dengan Bupati Majene, namun karena harapan tak sesuai dengan kondisi yang terjadi, peliputan pun ditunda dan menunggu dengan pemberitahuan selanjutnya. 

Olehku tak langsung balik di lokasi kala itu, pikiran yang tak karuan kalau ingin balik ke Gubuk Marhaenis, tempat kami bersama kawan-kawan GMNI Majene bernaung di bawah ideologi Marhaenisme ajaran Bung Karno. Bukan tanpa sebab, GMNI sudah menjadi bagian proses yang sangat besar dalam membentuk para kader GMNI Majene, khususnya bagi saya pribadi dan saya merasakan itu. 

Balik lagi soal utama, aku kala itu akan menunggu pemberitahuan jam berapa mau meliput sesuai yang direncanakan sebelumnya. Ehh, tanpa ambil pusing, aku menyempatkan singgah di Perpustakaan Majene. 

Banyak cerita unik dan menyebalkan yang bisa diceritakan di Perpus itu, namun kala itu bukan pertama kalinya aku berkunjung. Dalam seingat saya bahwa sudah tiga kali berkunjung, dan selalu ada cerita yang perlu disampaikan kepada publik, khususnya kepada pemerintah Majene. 

Mengapa tidak? Bukan karena ingin menghina atau menjelekkan Perpustakaan Majene. Namun, koridornya sebagai Perpustakaan tak sepantasnya ia dapatkan gelar itu untuk Perpus Majene.

Mungkin saja, ada beranggapan bahwa  asumsi yang saya utarakan nanti dalam tulisan ini sifatnya akan subjektif saja, dan kadar pembenarannya pun persennya hanya sangat kecil. Akan tetapi, aku tak mungkin ambil beban akan hal itu, yang aku tahu bahwa aku akan menceritakan perasaanku saat berkunjung ke Perpustakaan Majene yang sudah ketiga kalinya. 

Gelar Perpustakaan Majene tak layak mendapatkan predikat sebagai kota pendidikan. Tentu sekilas akan bertanya, mengapa? Iya, pegawai dan penjaga Perpus Majene sangat berisik alias ribut, seakan mereka merasa bahwa sedang berinteraksi di pasar. Tanpa berlebihan, pegawai Perpustakaan Majene memang sangat ribut, bicaranya yang sangat lantang dan terdengar keras sampai pada pojok-pojok di ruang Perpus itu. 

Iya tentu terganggu, aku merasa terganggu pembicaraan dari pegawai yang sangat keras itu. Aku tak tahu pembahasan apa yang mereka bicarakan, sehingga harus dengan nada yang kencang dan keras. Kejadian seperti itu tidak terjadi hanya pada waktu tertentu saja, tetapi sudah keseringan. Tepat tiga kali aku sudah berkunjung, selalu saja para pegawai Perpus Majene ada cerita ributnya, bahkan dibarengi dengan ketawa yang terbahak-bahak. 

Selain itu, beberapa kawan saya tanyakan terkait Perpus Majene, mereka juga mengeluhkan hal yang sama, pegawai  dan penjaga Perpus Majene menjadi juaranya  sebagai penjaga Perpus dengan kategori terribut sedunia. 

Bukan aku menyalahkan atau membatasi manusia untuk berbicara, bukan pula mengeluhkan mereka yang bisa tertawa terbahak-bahak. Namun, aku berpikir bahwa mereka sedang berada di dalam lingkungan Perpustakaan. Tentu tidak akan dipertanyakan lagi, Perpus tempat untuk membaca dan belajar, yang di mana segala keributan sangat disayangkan jika terjadi, karena tentu sangat mengganggu para pengunjung Perpus. Harapan pengunjung ke Perpustakaan untuk dapat membaca dalam keadaan tenang, namun harus menanggung pilu keributan yang merajalela. Ini paradoks dan kebohongan belaka. 

Perpustakaan bukanlah pasar, bukan pula tempat untuk bergosip. Perpustakaan mana pun di dunia ini, tentu sangat disayangkan jika ada orang ribut yang dapat mengganggu orang belajar, tidak apa-apa bercerita, asalkan tidak mengganggu orang belajar, saya rasa itulah prinsipnya. Akan tetapi kalau mengganggu, lalu gimana? 

Lucunya juga, di dinding tembok sudah terpampang jelas peringatan dilarang ribut. Namun, itu hanyalah pajakan belaka yang tak ada artinya bagi penjaga perpus, seakan mereka tak pernah sadar bahwa ada peringatan itu dan lupa bahwa mereka sendiri yang memasangnya. 

Iya, saya sadar bahwa Perpus Majene, belum ada ruang khusus bagi pengunjung yang jauh dari cerita para pegawai Perpus. Begitu pun dengan pegawai Perpus belum memiliki ruangan khusus yang bisa semaunya bercerita dengan keras. Alhasil yang terjadi, tempat membaca dan bergosip tercampur aduk di dalam satu gedung. Itulah yang menjadi masalah besar dan mestinya harus segera diselesaikan. 

Pemerintah Majene agar secepatnya membenahi itu. Mungkin saja Pemda Majene harus menyiapkan gedung untuk bergosip dan gedung untuk membaca, supaya para penggosip juga dapat bertingkah semaunya tanpa mengganggu pembaca. Sementara, pembaca juga dapat lebih tenang untuk membaca tanpa si penggosip. 

Memang aku sadar bahwa yang menjadi kekurangan juga karena kurangnya pengawasan dan kesadaran. Kurangnya pengawasan yang ketat di Perpus sendiri untuk menegur siapa saja yang ribut, entah sebagai pengunjung, terlebih para pegawai sendiri, bukan malah pengunjung yang selalu menegur pegawai Perpus untuk tidak ribut. 

Sebenarnya, aku percaya bahwa mereka yang menjadi pegawai Perpus adalah orang-orang pilihan dan terseleksi dengan  baik akan urgensi dan substansi Perpustakaan seharusnya seperti apa. Perpustakaan adalah tempat belajar, bukan tempat bergosip dan buka pula tempat dapat bercerita dengan nada keras yang suka semaunya saja. Saya pikir semua sepakat hal itu. 

Selanjutnya, itu terjadi karena kurangnya kesadaran dan kepekaan. Seakan bahwa hidup hanya dipertaruhkan hanya untuk diri sendiri, dan tidak berpengaruh kepada yang lain. Padahal tidak, hidup itu kompleks dan saling mempengaruhi. Sehingga sangat diperlukan kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar, apakah menyadari bahwa cara kita hidup sebagai manusia tidak menganggu manusia yang lain? Itu memang sulit dan kadang kala kita lupa diri akan hal itu, namun bukan berarti tidak bisa. 

Problem demikian mesti dievaluasi bagi Perpustakaan Majene. Iya, walaupun tulisan saya tak akan memberikan pengaruh apa-apa, karena seharusnya masalah ini perlu tersampaikan langsung kepada pengambilan kebijakan. Akan tetapi, tulisan ini akan menjadi arsip yang sangat berarti bagi saya, nantinya akan menjadi kenangan bahwa Perpustakaan Majene pernah dihantui dengan gosip yang sangat mengganggu para pengunjung, entah sampai kapan masalah itu akan terus berlanjut, biarlah waktu yang akan menjawabnya. 

Bukan aku menyesal berada di Perpustakaan Majene kala itu, bahkan aku dapat bertahan lama duduk di kursi mendengarkan keributan para pegawai Perpus. Untuk itulah aku sangat merasakan problem yang terjadi, di samping itu tulisan ini dapat terangkai meskipun penyusunan dan arahnya tak jelas. Lagi-lagi aku tak terlalu pusing akan hal itu, inilah caraku menuliskan apa yang aku rasakan. 

Walau kala itu aku sempat tak mengontrol diriku, bukan masalah Perpus sih. Namun, mataku yang terkontaminasi untuk berpikir banyak, memandang penyejuk hati yang sempat mengundang konsentrasiku saat sementara mencoba membaca buku. 

Harapan yang ingin aku gapai, selain karena cita-cita yang hidup tinggi, semoga pula ada keberkahan positif dengan momen yang aku rasakan. Mungkin terkesan lebay, namun inilah yang aku rasakan dan kuceritakan dengan seksama pada kesempatan ini, melalui tulisan ini.