Penyisihan lignin dari biomassa pada tumbuhan kayu dan non-kayu menghasilkan sebuah serat yang berwarna kecokelatan. Serat inilah yang dikenal dengan istilah pulp

Sebagai salah satu negara yang termasuk dalam peringkat lima besar jumlah penduduk di dunia, kebutuhan akan pulp dan kertas di Indonesia masih tetap besar. Dalam kegiatan bidang pendidikan, pengemasan, perkantoran, dan perindustrian, Industri pulp dan kertas merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan.

Bersyukurlah Indonesia merupakan negara tropis yang terletak persis di garis khatulistiwa. Kondisi ini membuat Indonesia memiliki tanah yang subur karena mendapatkan curah hujan sepanjang tahun dan penyinaran matahari yang stabil.

Tidak heran jika Hutan Hujan Tropis terbesar salah satunya dapat tumbuh subur di Indonesia. Berbagai varietas tanaman pepohonan hidup dengan baik di Indonesia. Hal ini jugalah yang menjadi faktor pendukung hidupnya industri pulp dan kertas di Indonesia. 

Tapi sayang seribu sayang, ibarat makan buah simalakama: dimakan, mati bapak; tidak dimakan, mati ibu.

Hutan yang berlimpah dengan pepohonan sangat menguntungkan jika diolah untuk kepentingan industri pulp dan kertas. Namun, di sisi lain, ekosistem hutan akan terganggu dan dapat menyebabkan bencana bagi manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, bijaknya mengelola hutan harus secara tepat guna. Kita harus sadar, hutan merupakan komponen penting bagi kehidupan manusia. Ia tidak boleh dieksploitasi secara berelebihan.

Selain itu, upaya-upaya alternatif dalam pembuatan pulp dan kertas harus terus ditingkatkan. Pada era disrupsi saat ini, penggunaan kertas dinilai makin tergerus akibat penggunaan teknologi digital yang terjadi secara masif. Aktivitas yang selama ini memerlukan kertas sebagai media telah dapat digantikan oleh layar virtual.

Mungkin pendapat ini ada benarnya. Namun demikian, penggunaan pulp dan kertas juga tidak terbatas hanya membaca atau menulis. 

Saat ini, kebutuhan industri pulp dan kertas lebih banyak digunakan pada kegiatan industri seperti pengemasan atau pengepakan. Selain itu, kertas-kertas yang bernilai seni juga memiliki potensi pasar yang besar.

Dengan demikian, seperti yang saya sampaikan di atas, industri pulp dan kertas harus terus meningkatkan upaya dalam menemukan bahan baku alternatif pembuatan pulp dan kertas.

Lagi-lagi, jika kita lihat bentang alam Indonesia yang subur, yang bahkan dijuluki sebagai tanah surga, menemukan bahan baku alternatif pembuatan pulp dan kertas sangatlah mudah. Asalkan para pengiat industri pulp dan kertas mau terus berupaya meneliti dan berinovasi.

Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan pada jurnal Teknologi Kimia Unimal Mei 2015, Syamsul Bahri melakukan studi tentang pembuatan serbuk pulp dari daun jagung. Seperti yang kita ketahui, tanaman yang memiliki nama latin Zea Mays ini dapat tumbuh subur di Indonesia. 

Selama ini, sampah daun jagung hanya diolah dan dijadikan pakan ternak oleh masyarakat. Padahal kandungan selulosa yang ada pada daun jagung tergolong tinggi sehingga memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan baku pulp dan kertas.

Sebagai salah satu makanan pokok bagi masyarakat Indonesia, maka tanaman jagung tidaklah sulit didapatkan. Tidak heran jika BPS Indonesia mencatat produksi jagung di Indonesia hampir selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Dengan meningkatnya produksi, tentu saja berdampak pada meningkatnya limbah sampah sagung seperti tongkol, batang, dan daun. Kondisi inilah yang menjadi latar belakang dilakukannya penelitian tentang pembuatan serbuk pulp oleh Syamsul Bahri.

Studi ini menemukan bahwa pulp yang dihasilkan oleh daun jagung sama halnya dengan pulp yang dihasilkan oleh industri pulp kimia, yaitu pada range 35 - 53 persen. Pulp tertinggi pada daun jagung akan dihasilkan pada proses pemasakan dengan waktu 95 menit. Sedangkan pulp terendah akan dihasilkan pada proses pemasakan dengan waktu 105 menit.

Jika dilihat dari kandungan selulosanya, untuk menghasilkan kualitas kertas skala industri, maka selulosa yang dihasilkan oleh daun jagung masih harus dicampur dengan serat serta selulosa dari bahan baku yang lain.

Hal ini dikarenakan standar pulp untuk industri kimia kandungan a-selulosanya harus lebih besar dari 80 persen. Sedangkan untuk pulp daun jagung kandungan a-selulosa tertingginya 63,33 persen dengan waktu pemasakan 90 menit pada konsentrasi asam asetat 65 persen.

Untuk kandungan lignin, yang tertinggi pada daun jagung sebesar 12 persen dengan waktu pemasakan 75 menit dan konsentrasi asam asetat 55 persen. Sedangkan kandungan lignin yang terendah adalah 2 persen dengan waktu pemasakan 105 menit pada konsentrasi asam asetat 85 persen.

Jika ingin memperoleh kualitas pulp yang terbaik, maka disarankan untuk kandungan lignin pada daun jagung dijadikan sekecil mungkin. Karena kandungan lignin yang besar akan memengaruhi warna pulp pada kertas.

Berdasarkan studi di atas, jika dilihat dari pulp yang dihasilkan oleh daun jagung, maka hasil yang diperoleh dapat digunakan untuk pembuatan pulp kertas skala industri kimia karena telah memenuhi standar.

Penemuan ini merupakan salah satu contoh yang membuktikan bahwa bahan baku alternatif pembuatan kertas sangat mudah ditemukan. Dengan demikian, industri pulp dan kertas di Indonesia dapat terus memproduksi kertas yang baik dan berkualitas.

Keanekaragaman jenis flora yang ada di Indonesia memiliki peluang dan potensi untuk terus digali. Untuk itu, dituntut pemikiran yang kreatif dan inovatif supaya senantiasa dapat menemukan hal-hal baru.

Semua memiliki masanya. Semua yang dahulunya tidak ada kemudian menjadi ada karena proses berpikir kreatif dan inovatif. 

Begitu pun dengan industri pulp dan kertas yang ada di Indonesia. Mari manfaatkan kekayaan alam yang telah diberikan Tuhan di negeri ini. Mari ciptakan lebih banyak bahan baku alternatif pembuatan kertas.