Indonesia merupakan negara agraris. Istilah ini sudah kita kenal sejak lama bahkan saat di bangku sekolah dasar. Indonesia disebut sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian. Sebagai negara yang agraris yang kaya akan sumber daya alam, banyak potensi pertanian untuk dikembangkan.

Produk besar dari sektor pertanian adalah pangan. Indonesia pernah disebut sebagai negara yang mampu memenuhi swasembada pangan. Swasembada pangan merupakan kondisi di mana suatu negara mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok.

Kondisi ironis terkait pertanian di Indonesia 

Pertanian merupakan ujung tombak penyedia kebutuhan pangan. Pertanian harus berada pada posisi terhormat. Presiden pertama bangsa Indonesia Ir. Soekarno pernah berpidato yang isinya Soal Pangan Adalah Soal Hidup Matinya Bangsa!. Pidato tersebut menunjukkan terdapat harapan besar kemajuan pertanian di Indonesia.

Pertanian di Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang memerlukan perhatian sangat serius. Beberapa kondisi ironis tentang pertanian di Indonesia adalah banyaknya impor kebutuhan pokok, misalnya impor beras, kedelai, dan daging.

Permasalahan pertanian yang ada di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor. Beberapa faktor tersebut di antaranya berkurangnya luasan lahan pertanian, kondisi iklim yang tidak menentu, kurangnya inovasi teknologi, dan banyak faktor lainnya yang cukup kompleks.

Kondisi lain yang cukup mencengangkan adalah jumlah petani di Indonesia saat ini hanya 4 juta. Jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan total penduduk di Indonesia mencapai 260 juta. Jumlah petani yang makin menurun menyebabkan berkurangnya tenaga kerja di bidang pertanian.

Harapan besar terhadap mahasiswa pertanian

Ketika terjadi banyak permasalahan di bidang pertanian, banyak di antara kita akan melirik pada mahasiswa pertanian. Mahasiswa pertanian memiliki potensi besar dalam pengembangan pertanian di Indonesia.

Meskipun kondisi saat ini banyak masyarakat yang masih menganggap bahwa kuliah di pertanian kurang prospek. Pertanyaan seperti ini mungkin akan muncul di kalangan masyarakat, “Kamu kuliah di jurusan pertanian setelah lulus mau ngapain? Nyangkul?”

Mungkin beberapa di antara mereka pernah merasakan pertanyaan seperti itu saat memutuskan kuliah di pertanian. Termasuk saya sendiri pada saat memutuskan untuk kuliah di pertanian.

Stigma seperti ini sudah biasa di kalangan masyarakat awam. Paradigma masyarakat memang masih menganggap pertanian dengan sebelah mata. Mereka menganggap bahwa pertanian itu identik dengan di sawah dan mencangkul. 

Sebenarnya itu hanya sebagian kecil saja yang ada di pertanian. Masih banyak lagi yang dipelajari di pertanian. Stigma seperti ini seharusnya diabaikan saja. Hal ini dikarenakan dapat menurunkan semangat kuliah para mahasiswa pertanian.

Saat memutuskan untuk kuliah di pertanian, pertanyaan pertama yang muncul adalah apa motivasi mengambil jurusan pertanian? Ketika mahasiswa tersebut diketahui mengambil jurusan pertanian, hampir dipastikan pertanyaan tersebut akan muncul.

Secara umum, motivasi awal yang ingin didapat mahasiswa pertanian adalah mendapatkan ilmu-ilmu pertanian dalam berbagai bidang dan menjadi pekerja sukses di bidang pertanian. Beberapa di antara mereka kuliah di bidang pertanian karena ingin menjadi wirausaha.

Teori-teori dan praktik pertanian, mulai dari cara budi daya, penanganan hamapengolahan produk pertanian, penerapan teknologi,bahkan sampai pemasaran produk pertanian, semuanya dipelajari. Ilmu tersebut sangat potensial diterapkan sebagai solusi permasalahan pertanian di Indonesia. Pertanyaannya yang cukup dilematis adalah apa yang akan mereka lakukan untuk pertanian di Indonesia dengan berbekal teori–teori tersebut?

Apakah setiap selesai lulus di perkuliahan, mereka akan menggunakan ilmunya di pertanian atau di luar bidang pertanian? Bukan menjadi rahasia publik bahwa banyak lulusan pertanian yang bekerja di luar bidang pertanian. Meskipun secara umum masih banyak di antara mereka yang bekerja di bidang pertanian.

Keputusan mereka yang bekerja di luar bidang pertanian sebenarnya tidak dapat disalahkan. Hal ini dikarenakan banyak materi yang diajarkan cukup relevan di banyak bidang. Sehingga mereka cukup kompeten untuk terjun di luar bidang pertanian.

Implementasi teori tersebut dapat dilakukan ketika mahasiswa-mahasiswa pertanian sudah memiliki harapan yang pasti terhadap apa yang akan dilakukan ketika memutuskan kuliah di jurusan pertanian.

Implementasi tersebut bukan berarti tentang pengembangan teknologi canggih di bidang pertanian yang membuat pertanian Indonesia menjadi maju. Menurut hemat saya, setiap pengembangan teknologi tidak selalu dapat diterapkan di pertanian, khususnya di Indonesia.

Mahasiswa pertanian, apabila sudah memutuskan untuk berkontribusi di bidang pertanian, harus terjun langsung di lapangan untuk mengimplementasikan ilmu yang telah dipelajari. Mencoba menyatu dengan masyarakat petani. Melihat apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Sehingga dapat secara tepat memutuskan apa yang harus diimplementasikan.

Terjun langsung di masyarakat petani tidak hanya sekadar mencari permasalahan yang ada. Namun, juga mempelajari cara hidup masyarakat petani. Hal ini sangat ironis jika mempunyai harapan di bidang pertanian namun tidak mengetahui cara hidup masyarakat petani.