Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-37 ASEAN yang diselenggarakan pada Kamis (12/11/2020) menjadi sangat relevan untuk menyampaikan harapan tertentu kepada Amerika Serikat (AS) yang memiliki presiden baru Joe Biden. Harapan ini mengingat kemungkinan perubahan kebijakan luar negeri AS terhadap ASEAN. 

Walaupun ada beberapa kesinambungan dalam praktek kebijakan luar negari AS, perubahan kepemimpinan AS diyakini mengubah orientasinya di beberapa kawasan, khususnya terhadap ASEAN.

ASEAN sebagai satu-satunya organisasi regional di Asia Tenggara dan Indo-Pasifik menjadi sangat strategis untuk diabaikan begitu saja dalam kebijakan luar negeri AS. Apalagi AS berusaha mendapatkan dukungan geopolitik dari negara-negara anggota ASEAN dalam persaingannya dengan Tiongkok atau China. 

Apalagi Vietnam sebagai Ketua ASEAN pada 2020 ini memiliki hubungan ekonomi sangat dekat dengan China, namun secara pertahanan-militer lebih mendekat ke AS dalam konflik di Laut China Selatan (LCS). 

Selain itu, agenda utama KTT ini adalah mendorong upaya-upaya bersama dalam pemulihan ekonomi paska-pandemi Covid-19. KTT ini membahas langkah bersama untuk mencegah dampak lanjutan dari pandemi Covid-19 bagi kawasan. Dengan menekankan pada prioritas kerjasama regional di 2021, ASEAN ingin mengambil peran penting dalam produksi vaksin bagi kawasan. 

Hingga saat ini, ASEAN belum memiliki kesepakatan bersama atau protokol mengenai, misalnya, vaksin yang aman itu harus memenuhi syarat apa saja atau bagaimana kerjasama distribusi vaksin secara regional yang aman. 

Harapan ASEAN
Dalam konteks itu, harapan ASEAN terhadap kemungkinan perubahan kebijakan luar negeri AS di era Biden berkaitan dengan keberadaan dan kehadiran 8 Pemimpin Negara Mitra ASEAN di KTT ini. Selama KTT ini, ada setidaknya 17 sesi pertemuan yang dihadiri oleh 10 kepala negara atau pemerintahan ASEAN dan 8 kepala negara atau pemerintahan negara mitra ASEAN. 

Beberapa agenda KTT virtual itu antara lain KTT Pleno ke-37 ASEAN, KTT ke-23 ASEAN-RRC, KTT ke-21 ASEAN-Korea Selatan, KTT ke-23 ASEAN-Jepang, serta KTT ke-17 ASEAN-India.

KTT ASEAN menjadi forum multilateral yang tepat bagi para pemimpin negara anggota ASEAN untuk mengajak Presiden AS hasil Pemilu 2020 menjaga perdamaian di Asia Tenggara. Perubahan kepemimpinan di AS menjadi momentum strategis bagi ASEAN untuk mempengaruhi kebijakan regional AS di kawasan ini. 

Amerika di bawah kepimpinan Joe Biden diharapkan bisa mendorong ASEAN Indo-Pacific Outlook yang mewakili kekuatan setempat, meliputi infrastruktur, kekuatan ekonomi, dan lain-lain.

Pada prinsipnya, kebijakan AS di Asia Tenggara selalu terkait rivalitasnya dengan Tiongkok atau China yang mulai muncul menjadi adidaya. Naiknya rivalitas AS-Tiongkok menyebabkan nilai strategis Asia Tenggara juga meningkat. Bagi negara-negara Asia, kehadiran kembali AS dapat berperan menjadi penyeimbang meningkatnya posisi China di kawasan ini. 

Apalagi salah satu hasil KTT ke-37 ASEAN adalah Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP)  yang disepakati 15 negara menjadi simbol kemenangan ekonomi China di kawasan ini, tanpa kehadiran AS. 

Tiga isu besar meliputi konflik di LCS, pandemi Covid-19, dan RCEP berkaitan erat dengan peningkatan hegemoni China, sehingga esensi dari kebijakan AS di Asia Tenggara adalah untuk mencari dukungan dalam menghadapi China. ASEAN berharap Biden juga akan mencegah jangan sampai Tiongkok mengambil alih kepemimpinan di kawasan Indo-Pasifik. AS diharapkan dapat menarik Asia Tenggara ke sisinya atau setidaknya jangan sampai menjadi pro RRT. 

Mendorong Kerjasama

ASEAN perlu menegaskan kepada Presiden terpilih Biden bahwa kemitraan dengan AS harus memegang teguh prinsip dan nilai-nilai multilateralisme, penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah, dan penghormatan atas hukum internasional. Kecenderungan presiden AS dari Partai Demokrat yang cenderung ekspansionis dan campur tangan terhadap masalah domestik negara lain tampaknya ingin diantisipasi oleh ASEAN. 

Pada KTT ke-37 ini, ASEAN juga berharap AS dapat menjadi kekuatan positif bagi terwujudnya perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan di kawasan Asia Tenggara, serta menjadi mitra ASEAN dalam mengimplementasikan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific.

Sementara itu, Indonesia menjalankan perannya secara konsisten sebagai pemimpin tradisional ASEAN untuk terus menjaga sentralitas dan soliditas ASEAN berdasarkan, misalnya, ASEAN Outlook on Indo-Pacific. Kepada AS dan China, ASEAN menegaskan negara-negara anggotanya dan negara mitra strategis untuk menghormati hukum internasional, termasuk UNCLOS, dan upaya memperkuat multilateralisme yang dapat memberikan manfaat kongkrit.

Dalam hubungan antara China dan AS, beberapa analis mengungkapkan bahwa China diuntungkan dengan kemenangan Biden.  AS mungkin akan mengurangi keterlibatan di kawasan yang dampaknya akan memperkuat posisi China sebagai mitra ekonomi Asia Tenggara. 

Kenyataan ini diperkuat oleh RCEP yang didukung China dan sekutu dekat AS di Asia Pasifik, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia). RCEP akan menjadi blok perdagangan bebas terbesar di dunia.  15 negara peserta RCEP menyumbang sekitar 30% dari populasi global, 30% produk domestik bruto (PDB) global, dan 28% perdagangan global.

Kesepakatan RCEP ini sebenarnya menimbulkan persoalan bagi ke-14 negara karena perjanjian ini mengecualikan AS. Tanpa AS, RCEP mengajak negara-negara yang selama ini dekat dengan AS dalam kerjasama pertahanan dan militer, namun tidak bisa menghindari China secara ekonomi. ASEAN dan 4 negara mitra perlu menjelaskan posisi mereka kepada AS di bawah pemerintahan Biden bahwa ASEAN tetap menainkan peran sentral dalam dinamika regional di Asia Tenggara.

Dalam konteks RCEP, ASEAN menunjukkan dukungan pada kerjasama regional dan multilateral secara konstruktif dengan berbagai negara, termasuk AS dan China, tanpa terjebak ke dalam rivalitas di antara kedua negara.

Selanjutnya, ASEAN perlu menunjukkan kepada Biden bahwa organisasi regional itu berupaya meningkatkan kerja sama dan koordinasi secara proaktif dengan melibatkan kekuatan regional dan global, terutama Australia, China, Jepang, India, Korea Selatan, dan AS. ASEAN perlu menegakkan tatanan internasional berbasis aturan, bekerja untuk menyimpulkan Kode Etik Laut Cina Selatan, dan mempromosikan Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik.

Oleh karena itu, ASEAN perlu memberikan prioritas kepada inisiatif kerjasama multilateral untuk menyakinkan partisipasi AS dalam rangka menyeimbangkan peran dan posisi China yang meningkat di kawasan ini. Tidak ada jalan lain bagi masa depan ASEAN, kecuali tetap berusaha keras mempertahankan sentralitas, soliditas, dan netralitasnya di tengah ketidakpastian di kawasan dan dunia.