Q: Bagaimana mengetahui Desember telah tiba?

A: Bila telah terdengar larangan mengucapkan “Selamat Hari Natal”.

Demikian lelucon yang beredar di kalangan warganet akibat pengulangan dari tahun ke tahun pernyataan yang sama dari para pemuka agama. Reaksi umat Kristen saat awal mendengar larangan itu adalah kaget, kemudian syok, kemudian memahami, kemudian menjadikannya lelucon. Hahahaha.

@: “Maaf ya teman, kami dilarang mengucapkan selamat natal.”

$  : “Eiiitsss… itu sudah ngucapin. Makasih ya! Hahahaha…”

Awalnya sedih karena perdebatan haram halalnya mengucapkan selamat natal itu sangat terbuka seperti bule yang lagi jemuran di pantai. Diskusi tentang hal ini banyak beredar vulgar di Twitter atau Facebook.

Coba kita tengok website www.muslim.or.id, ada artikel Alasan Terlarangnya Mengucapkan Selamat Natal bagi Muslim membuat daftar sebagai berikut: 1) bukanlah perayaan kaum muslim, 2) menyetujui kekufuran orang-orang yang merayakan natal, 3)) merupakan sikap loyal yang keliru, 4) nabi melarang mendahului ucapan salam, dan 5) menyerupai orang kafir.

Bagaimana perasaanmu membaca hal-hal seperti itu? Sekarang sih biasa aja. Bodoh amat. Bukan masalah gue, itu masalah lu! Saya diucapin selamat natal, terima kasih. Tak diucapi juga tak apa-apa. Bebas.

Begini, saudara-saudara sekalian. Aku merasa masalahku sudah banyak, jadi tak usah lagi nambah masalah yang tak ada artinya. Bila tak mau mengucapkan selamat juga tidak apa-apa. Beneran! Jangan karena merasa tidak enak, akhirnya ucapanya berputar-putar seperti gasing.

@: “Selamat merayakan kebahagiaan bersama keluarga tercinta ya!”

$ : “Maksudnya gimana?

@: “Yakan lagi berbahagia karena merayakan, jadi selamat.”

$: “Iya, selamat apa maksudnya?”

@: “Ya itu yang sekarang lagi dirayain, selamat ya!”

S : #$%@&* “Ok”

Sebenarnya kasus tak mau mengucapkan selamat itu tak seberapa, bahkan itu bukan masalah. Yang masalah itu adalah pelarangan merayakan ibadah Natal seperti yang baru terjadi di Sumatra Barat.

Ngeri kali negara kalian ini? Beribadah pun dilarang, macam negara komunis saja!

Terdengar kabar bahwa umat Katolik di Dharmasraya, Sumatra Barat, tidak dapat merayakan Natal secara bersama-sama karena sebuah aturan yang berkata tidak diizinkan menggelar misa dan perayaan Natal oleh pemerintah Nagari Sikabau (setingkat desa) di rumah ibadah sementara.

Ternyata aturan itu adalah kesepakatan bersama. Seperti kata Menteri Agama Fachrul Razi, perayaan Natal bersama disepakati digelar di Sawahlunto karena tidak ada gereja di Dharmasraya. Iya, di Sawahlunto yang jaraknya 120 km dari desa mereka.

Iya, di desa itu tidak ada gereja karena tidak dapat izin pendirian rumah ibadah Kristen dari masyarakat setempat yang sangat toleran. Terima kasih!

Masak iya untuk beribadah natal saja harus pergi sejauh 120 km, karena tetangga sekampung tidak ingin mendengar atau melihat ada ibadah natal di desa mereka. Akhirnya umat katolik yang berjumlah 40 orang tersebut memutuskan tidak akan merayakan Natal tahun ini.

Demikianlah kisahnya kenapa Natal tahun ini tidak lewat di Jorong Kampung Baru, Nagari Sikabau, Kabupaten Dharmasraya, dan Nagari Sungai Tambang, Sijunjung. Padahal di kabupaten ini ada jemaat dari Katolik, Huria Kristen Batak Protestan, dan Gereja Bethel Indonesia (GBI).

Jangan putus asa, teman-teman! Tahun depan coba lagi ya! Semoga tahun berikutnya natal bisa lewat di sana. Semangat!!

Kesepakatan bersama itu adalah akal-akalan yang memperhalus pelarangan dari kelompok mayoritas kepada minoritas yang tidak punya kuasa apa-apa. Saya mah sudah tidak punya harapan ada perbaikan toleransi umat beragama selagi presidennya masih Jokowi. Lihatlah menterinya yang berpangkat jenderal itu. Tak ada gunanya. Semua dia serahkan kepada pemda setempat.

Tak ada visi misi Menteri, yang ada hanya visi misi Presiden kata Jokowi. Jadi bila sekarang para penteri dan pembantunya hanya menyerahkan kepada pemerintah setempat, maka dalam pandanganku seperti itulah arahan dari Presiden. Yekan?

Saya sudah tidak punya harapan tentang toleransi beragama bisa membaik di tangan Presiden Jokowi. Masalah HAM (termasuk di dalamnya kebebasan untuk beribadah) dan lingkungan hidup tidak ada dalam kamusnya, yang ada hanya infrastruktur dan ekonomi.

Tak peduli benih lobster diekspor oleh pembantunya. Alih fungsi hutan menjadi kebun sawit yang ekspansinya luar biasa. Pada periode kedua Jokowi ini aku sudah mulai gerah. Kenapa presiden pada periode kedua selalu menyebalkan ya?

Hari pertama dilantik, Menteri Agama mengatakan akan memberantas kaum radikal. Hari selanjutnya, ucapannya dia telan habis tak bersisa. Sampai sekarang tak ada tindakan apa-apa. Bahkan dalam kasus pelarangan beribadah di Dharmasraya itu pun dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Etapi cobalah eda bayangkan!! Menteri agama dari provinsi paling intoleran! Dan kejadian pelarangan ibadah natal itu dari provinsi nomor 2 paling intoleran. Ini berdasarkan Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama Republik Indonesia. Masyookkkk, Pak Eko!

Umat Kristen itu sudah biasa dianaktirikan. Kasus pelarangan beribadah, larangan kasih ucapan selamat natal, sulitnya mendapatkan izin mendirikan rumah ibadah, tuduhan kristenisasi, dan lain-lain yang sejenis tidak membuat kami mengeluarkan “kartu korban”.

Malah merasa sangat spesial dengan dua telor, karena betapa hebatnya orang-orang Kristen, hanya berbagi mi instan saja sudah bisa melakukan kristenisasi. Ini sangat meringankan tugas iman, yaitu memberitakan Injil ke seluruh dunia. Ternyata dengan cara bagi-bagi mi instan saja sudah kelar. Hahahaha.

Jadi, terima sajalah kondisi ini. Angin tidak selamanya berembus ke timur atau ke barat, suatu saat akan ada badai topan yang meluluh-lantakkan kondisi normal.

Tak ingin aku menulis panjang-panjang. Artikel ini kutulis tengah malam. Hari ini adalah hari Natal. Umat Kristen beribadah dan merayakan kelahiran Yesus. Ini adalah hari suka cita. Karena banyaknya larangan mengucapkan selamat natal, maka menurutku, bagi yang tidak ingin mengucapkan, jangan paksa dirimu!

Kalau hanya karena merasa tak enak maka engkau mengucapkan selamat, itu namanya munafik. Bagiku haram hukumnya menerima ucapan selamat natal dari orang ya munafik. Hahahaha.

OK, guys. Selamat Natal ya! Jangan nakal!