Bukan hanya Islam mengajarkan amalan ibadah puasa. Hampir semua agama dan kepercayaan mengajarkan berpuasa dengan berbagai tata caranya masing-masing.

Yang menarik, di antara banyak kewajiban dalam Islam, puasa di bulan Ramadhan menjadi paling populer meriah dan romantis. Kedatangannya dirindukan dan dinantikan oleh seluruh anggota keluarga muslim. Bahkan oleh anak-anak balita.

Kehadirannya, menciptakan suasana yang sama sekali baru.

Bukan mengubah berbeda sekedarnya, melainkan memutar-balikkan banyak rutinitas penting dalam kehidupan kita selama sebelas bulan sebelumnya. Makan tidur bekerja, disesuaikan dengan kehadiran Ramadhan.

Bulan yang unik dan sangat istimewa. Penuh karunia ilahi di dalamnya.

Al Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Di dalamnya terdapat “malam qadar” yang lebih mulia dibanding seribu bulan. Perang Badar, yang merupakan perang pertama umat Islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw, juga terjadi di bulan Ramadhan.

Sebuah perang yang heroik legendaris dan sangat mempengaruhi sejarah perkembangan risalah Islam sampai hari ini. Kasidah nasyid Sholawat Badar, berisi pujian pada para pahlawan Badar, sangat digemari dihafal di seluruh dunia Islam.

Bagi bangsa Indonesia bisa ditambahkan, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tgl.17 Agustus ‘45, juga bertepatan pada bulan Ramadhan.

 

Tidak berlebihan rasanya, bila dikatakan, kewajiban berpuasa sebulan lamanya, merupakan perintah penghormatan, khidmat atas datangnya bulan suci Ramadhan nan mulia ini.

Jangan sia-siakan bulan ramadhan.

Nabi wanti-wanti dalam menjalani puasa ini agar memperoleh karunia selayaknya.

 :”Bisa jadi, mereka yang berpuasa, tidak lebih hanya sekedar mendapatkan rasa lapar dan dahaga”. 

(Alhadits).

Dapatlah dipahami dari pesan Rasul itu, berlapar dahaga, hanya salah satu dan paling mudah dari banyak amalan lain yang lebih bernilai dan disarankan dalam bulan Ramadhan.

.Seperti sholat, puasa juga amalan lahir bathin jasmani dan ruhani. Yang bathin yang ruhani lebih bernilai dari yang lahir dan jasmani. Meski keduanya wajib dilakoni bersama.

Berpuasa barulah berarti, bila dilakukan secara total bersungguh-sungguh jiwa raga melaksanakannya.

Apa dan bagaimana berpuasa ?

Puasa dalam bahasa Arab disebut shoma (صام), shouman( صوما),

shiyaman ( صياما ), yang berarti imsakun

( امساك) menahan diri, mengekang diri dari makan, minum, berbicara, juga bepergian.

Dalam pengertian fiqih, puasa secara umum, termasuk puasa , adalah menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri dari waktu mulai bermulanya puasa (subuh) sampai berbuka (maghrib).

Bulan Ramadhan diyakini sebagai bulan pembakar dosa. Selama 24 jam x 30 sepanjang bulan , amal ibadah, sangat disarankan ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya. Beramal di setiap detik, menit, jam, hari dan Allah menjanjikan ganjaran pahala yang berlipat ganda. Tidur pun bisa jadi pahala. Bulan yang bisa menjadi pintu menuju surga.

Setan yang kesehariannya berkeliaran menggoda, di bulan Ramadhan diikat. Bila masih juga sewot tergoda  ngamuk karena ada warung makan buka, maka setan itu dalam diri kita. Pastinya, bukan setan yang sudah diborgol itu.

Ramadhan, merupakan kesempatan emas untuk kita meningkatkan harkat marwah sebagai khalifah, sebagai layaknya manusia seutuhnya. Meningkatkan keimanan keislaman kita menjadi lebih substantif. Lebih nyata dalam kehidupan keseharian kita.

Keterlaluan, mereka yang merugi di bulan maha dermawan ini. 

Dalam bulan-bulan selain nya,

Kita semua umumnya terpusat perhatian kita dengan kesibukan pemenuhan hasrat jasmani duniawi, dengan berbagai pernak pernik fatamorgananya. Di bulan ramadhan, sebaliknya. Mental spiritual, asupan ruhani, selayaknya menjadi prioritas asupan utama.

Menahan diri dari budaya konsumtif dan mengekang diri dari berbagai hasrat biologis. Marah, benci, dengki, mengumpat, bertengkar, memperolok, bahkan rekreasi, seyogyanya digantikan dengan mentadabburi alqur'an, berdzikir. bersholawat, berinfaq, bersilaturahmi, berukhuwwah, berlomba dalam kebaikan dan muhasabah introspeksi diri.

Semua dilakukan tulus ikhlas lillahi ta’ala dengan menahan diri.

Yang berdzIkir, bersholawat, jangan berlebihan meninggikan suara sampai mengganggu tetangga. Yang berdakwah, jangan sambil menutup jalan umum merugikan orang lain. Apalagi dengan agitasi berteriak mengumbar semangat kebencian antar sesama anak bangsa.

Yang berinfaq, jangan biarkan fakir miskin menunggu lama, berdesakan rebutan sembako seadanya di panas terik. Alih-alih mendapat pahala, malah bisa  berdosa karena mengusik melukai orang lain.

Pemberian, bagaimana besarnya bila disertai gangguan akan sia-sia dan menggugurkan amal infaq itu. Memberi dengan rasa hormat pada penerimanya. Berbuat baik tanpa pamer pamrih adalah ajaran Islam. Pamer kebahagiaan, kemewahan di tengah kemiskinan seperti banyak dilakukan para artis, jauh dari kepatutan Islam. Sangat mengusik melukai perasaan fakir miskin.

Tuhan mendengar suara hambaNya yang berbisik lembut dalam hening. Bahkan suara dari dasar hati nurani hambaNya. Melihat meski dalam persembunyian di kegelapan malam buta. Tidak ada yang luput dari pantauanNya.


Kepada Tuhan, tidak ada sesuatupun  yang pantas dipamerkan. 

Emangnya siapa dan apa yang telah kau lakukan !?

 

Namun, apa yang terjadi di setiap kali selama bulan ramadhan !?

Apakah puasa, imsakun (menahan diri) menjadi tingkah laku dalam kehidupan kita ?

Kita saksikan, hampir semua mall, pasar, supermarket, toko-toko, penyedia kebutuhan makanan, minuman, pakaian dan perhiasan, selalu penuh sesak diserbu pelanggan yang membeli melampaui kebutuhan biasanya.

Uang belanja pun meningkat signifikan. Terpaksa mencari tambahan dengan berbagai cara. Bahkan tidak segan berhutang atau dengan cara haram. Polisi makin sibuk melakukan razia dimana-mana, mengejar tilang di tempat.

Mall-mall, supermarket, meniup terompet komando dengan iklan promosi iming-iming diskon dan berbagai hadiah bagi pelanggan yang tamak. Stok barang berlipat ganda di pajang mencolok menggoda pengunjung.

Di hari-hari menjelang lebaran apalagi. Salon, toko alat kecantikan, perhiasan, logam mulia, make up, desainer, kewalahan menerima "pasien" yang mengantri. Ganti model busana, jilbab, abaya, rambut, sampai ganti model hidung, dagu, pelupuk mata, operasi plastik meski dengan uang tabungan. 

Supermarket memperpanjang jam waktu buka sampai tengah malam untuk memenuhi hasrat konsumtif yang menggila. Semua itu, lebih tampak seperti upaya "balas dendam", meledek bulan ramadhan, dibanding sekedar berbuka puasa atau menyambut idul fitri. 

Ibaratnya tanpa sadar, kita sedang berkata :"Hai Ramadhan, sebentar lagi kau akan berlalu, kami sudah bersiap mengumbar berbagai keinginan yang selama 30 hari telah kau halangi".

Seluruh keluarga kompak. Anak-anak, remaja, pemuda, ayah, ibu, kakek nenek semua sama. Saling memberi semangat rame-rame ber "jihad" memenuhi gairah yang ditahan selama hanya 30 hari Ramadhan. Yaa, hanya 30 hari dalam setahun. Ramadhan yang mulia itu telah dilecehkan.

Disadari atau tidak, kebiasaan buruk yang telah membudaya ini, sampai mempengaruhi perekonomian perdagangan nasional bangsa ini. Presiden dan para menterinya sibuk, memenuhi segala kebutuhan konsumtif warganya yang melonjak, gegara umat Islam sedang berpuasa.

Wajar saja, sesuai hukum ekonomi. Penawaran dan Permintaan. Semua harga barang menjulang naik, dari cabe sampai logam mulia. Yang seharusnya justru turun, karena “katanya” orang sedang puasa, imsak (menahan diri) dari hasrat konsumtif. Begitulah yang terjadi.

Seruan iklan telah mengalahkan seruan Tuhan.

 

Lagi-lagi, mereka yang malang, yang lemah secara ekonomi terkena dampak dari ulah para pembalas dendam pengumbar syahwat.

Mereka cuma bisa menonton mengharap belas kasih sekedarnya.

Zakat fitrah, jauh tidak memadai dibandingkan dengan beban mereka yang makin sulit akibat melonjaknya harga. Belum lagi, rasa trenyuh hati mereka melihat orang menghamburkan uang dalam jumlah besar, sekedar untuk membuncitkan perut dan memamerkan kemewahan sebelum mati. 

Fakir miskin antri berdesakan sambil menggendong anak balitanya rela bersakit-sakit untuk mendapatkan zakat infaq yang tidak seberapa. Pengorbanan perasaan dan jerih payahnya, tidak sebanding dengan yang diterimanya.

Sang pemberi puas dengan liputan media. Meski “luput” dari catatan Tuhan !.

Sampai di situ, semestinya kita semua menyadari, apa sebenarnya yang telah kita lakukan selama ini dalam berkhidmat menyongsong Ramadhan.

Ternyata lebih sebagai perilaku adat kebiasaan yang tidak berkaitan dengan keimanan dan kesadaran keislaman kita. Islam kita masih sebatas kemasan. Islam pamer. Jauh dari substansi Syahru Ramadhan yang suci dan mulia sesuai diteladankan Nabi kita. Sholawat.

Marhaban marhaban ya Ramadhan yang dikumandangkan, sekedar menjadi lagu hiburan tanpa makna.

Kalau seperti itu, masihkah menipu diri dengan mengaku berpuasa !?. 

"Siapakah, yang berpuasa di bulan Ramadhan !?"

Hanya Tuhan yang berpuasa, menahan, menundakan hukuman bagi hambaNya.

astaghfirullah al’adhiem…

(Dari Catatan Hy Menyongsong Ramadhan).