Suatu waktu ada seorang anak bergegas membeli sepotong pizza untuk ibunya yang baru datang dari kampung. Makanan ala Italia tersebut tergolong istimewa dengan citarasa khas dan dianggap paling enak. Dalam benak pemuda tersebut, ibunya pasti menyukainya dan akan mengatakan enak sebagaimana dirinya yang lebih dulu jatuh selera pada pizza.

Sungguh satu kenyataan diluara dugaan, sang ibu menolak makan pizza tersebut dengan mengatakan bahwa rasanya tidak enak dan nyaris persis seperti makanan yang hampir basi. Dengan perasaan yang masih kesal, sang ibu menyuruh anaknya mengganti dengan ketela atau ubi rebus seperti yang sering dia makan di kampung.

Potongan cerita yang di adaptasi dari kejadian nyata di atas terasa lugu, jujur dan mengundang lucu. Lugu dan jujur pada ungkapan basi oleh seorang ibu yang tidak memiliki wawasan kuliner memadai, sehingga pizza impor yang lezat dalam selera anaknya menjadi sangat tidak berharga, bahkan sampai pada tidak layak untuk dimakan. Kemudian titik yang menjadi sangat lucu yaitu ketika sang ibu malah meminta ketela dan ubi rebus sebagai pengganti pizza.

Perbandingan pizza dan ubi serta predikat tidak biasa yang melekat pada keduanya ini jika diamati dengam seksama merupakan bagian  potongan kehidupan yang lucu. Sementara kesia-siaan sang anak serta keluputan prediksinya adalah kekonyolan yang tidak dapat dielakkan. Jujur, lugu dan konyol yang datang bersamaan tanpa terlekkan adalah kelucuan yang boleh saja diekspresikan dengan senyum ataupun tawa.

Namun demikian tidak semua orang mendapat kesan konyol itu, malah mungkin menerima kesan serius. Sehingga ekspresinya bukan tawa dan senyum,  malah mungkin marah dan kutukan. Bisa dibayangkan jika cerita di atas menghadirkan kesan bahwa  anak dari ibu tersebut sebagai anak yang tidak kenal baik terhadap orang tuanya, sehingga salah dalam memilih makanan untuk orang tuanya. Tidak kenal baik terhadap orang tua merupakan indikator dari anak yang tidak sholeh alias durhaka.

Memang sangat sulit menghadirkan humor yang dapat diterima oleh setiap orang, walau setiap orang banyak yang mengaku menyukai humor. Perbedaan persepsi anatara si penyampai dan penerima akan menghadirkan ekspresi yang berbeda. Ketawa yang membuncah hanya kan terjadi jika relasi penyampai dan penerima berada dalam linieritas dan persepsi yang sama. Maka perlu kecerdasan yang mumpuni baik mereka para penyampai maupun mereka para penikmat humor. Tanpa kecerdasan yang berimbang antar keduanya, maka humor akan mendatangkan petaka.

Jauh sebelum era komedi bertebaran di layar kaca,Plato dan beberapa filosof di zamannya memberikan peringatan keras terhadap humor. Menurut Plato, humor tidak lain sebagai bagian dari olok-olokan. Artinya apapun yang disajikan dalam bingkai humor pada hakikatnya adalah cemoohan.

Plato dalam pandangan yang lain mempertegas, bahwa dibalik gelak tawa yang membahana terdapat cemoohan terhadap orang lain. Pada saat yang sama diri yang tertawa akan mempersepsikan dirinya sebagai sosok yang tampan, pintar dan penuh dengan kesempurnaan sehingga segala kealpaan, kekurangan, kebodohan orang lain menjadi kekonyolan yang layak ditertawakan. Segmentasi inilah yang kadang-kadang sampai pada pengkerdilan moral, sehingga kemudian akan ada yang merasa ternodai, tersakiti atau bahkan ada yang merasa dilecehkan.

Peringatan Plato di atas seakan tidak membuka ruang untuk tertawa, walaupun dalam deskripsi yang lain yaitu dalam terminologi Al-Quran dunia ini malah dipenuhi oleh senda gurau (la'bun wa lahwun) yang kemudian juga tidak menutup kemungkinan ada tawa di dalamnya. Para mufassir menyampaikan makna la'bun wa lahwun sebagai  suatu bentuk kecintaan terhadap dunia yang sia-sia serta segala hal yang menjauhkan manusia dari akhirat.

Pada kelindan senda gurau itulah manusia terperangkap sehingga jatuhlah manusia dalam kesia-siaan, kekonyolan dan bahkan kebodohan. Dalam hal ini manusia berebut dan mengejar yang fatamorgana dan melepas yang benar-benar nyata dengan penuh suka. Bertambahlah kekonyolan itu benar-benar menjadi kelucuan yang sempurna.

Disinilah kita sekan-akan merasa serius padahal sebanarnya sedang ditertawakan. Bahkan kita menertawakan padahal juga sedang ditertawakan. Walau begitu, kegilaan itu terus berlanjut dengan menyeret Joshua Suherman dan Ge Pamungkas ke meja hijau dengan tuduhan telah membuat lawakan yang tidak etis yang dianggap telah menghina Islam.

Barangkali kita menyangka persoalan itu serius walaupun kita tidak tahu pasti, jangan-jangan hal tersebut juga bagian dari la'ibun wa lahwun. Dalam kebodohan kita memang tidak layak untuk menertawakan, bagian kita hanya memilih apakah suka pizza atau ketela berdasar pengetahuan dan pengalaman. Itupun tidak menutup kemungkinan juga akan berada dalam kekonyolan. Hanya Tuhanlah yang lepas dari segala kekonyolan dan berhak tertawa dan menertawakan serta tidak mungkin ditertawakan.

Komentar Plato dan term la'ibun wa lahwun dalam al-Quran cukuplah jadi pemandu bahwa kita semua layak ditertawakan hingga saat serius sekalipun, apalagi jika kita saling menertawakan, pastilah fenomena tersebut benar-benar kelucuan yang nyata.