Lebaran kali ini berbeda dengan lebaran sebelum-sebelumnya. Tahun-tahun kemarin kita masih bisa mudik ke kampung halaman. Berjabat tangan dengan orang terdekat, salat Idulfitri berjemaah, berkunjung pada keluarga, dan sebagainya. Semua dapat dilakukan tanpa ada hambatan.

Tapi sekarang semua serba dibatasi. Badai Covid-19 yang belum juga berakhir ini telah berdampak langsung pada masyarakat luas. Mudik diperketat, salat EId hanya diperbolehkan di zona hijau, jabat tangan tak dianjurkan, semua serba terbatas. Sungguh Covid telah memengaruhi kebiasaan kita bermasyarakat.

Tulisan ini sengaja saya buat untuk didedikasikan kepada para tenaga kesehatan di seluruh Indonesia, terkhusus buat seorang kawan yang saat ini bekerja di sebuah rumah sakit di Sulawesi Tengah.

Lebaran biasanya dirayakan dengan berkumpul bersama sanak keluarga. Tidak demikian bagi kawan saya itu. Karena tergabung dalam Tim Covid-19 di rumah sakit tempat ia bekerja, maka sesuai protap yang telah ditetapkan, dia tak diperbolehkan berinteraksi dengan orang-orang terdekat termasuk keluarganya.

Alan Kawan Baik Saya

Hantaman Covid-19 telah berdampak di hampir seluruh wilayah Indonesia. Sejak terkonfirmasinya pasien Covid-19 pada Maret 2020 lalu, pemerintah segera membentuk Gugus Tugas Covid-19 secara nasional. Satgas yang ada itu akhirnya secara serentak terbentuk di seluruh Indonesia.

Alan (kawan sejak kecil saya) adalah tenaga medis di Rumah Sakit Umum Ampana, Sulawesi Tengah. Sejak dibentuknya gugus tugas penanganan Covid-19 di Kab. Tojo Una-una, dia sudah tergabung di dalam Tim Covid-19 di rumah sakit tempat ia bekerja.

Walaupun hanya tenaga honerer, Alan tetap menunjukkan dedikasinya untuk menghambat penyebaran covid-19 di Kabupaten itu. Bagi Alan, ini adalah ikrar yang pernah dia ucapkan saat menyandang status sebagai perawat; “medis untuk kemanusiaan”.

Karena tergabung dalam tim penanganan Covid, mau tidak mau Alan harus tetap stand by di rumah sakit. Pernah sekali dia harus ke kota Palu, Ibu kota Sulawesi Tengah untuk merujuk pasien PDP dari Kabupaten Tojo Una-una untuk pemeriksaan Swab Test. Hal itu disebabkan RSUD Ampana bukan rumah sakit rujukan pasien Covid-19 yang ditetapkan oleh pemerintah.

Sesekali saya dan Alan bertegur sapa lewat media komunikasi WhatsApp. Di awal ramadan lalu saya sempat berkomunikasi dengan dia. Bagi Alan, di tengah menjalani ibadah puasa, dia juga harus tampil prima dalam kondisi pandemi seperti sekarang. Dia harus selalu siap, sebab sewaktu-waktu pasien PDP Covid bisa langsung dirujuk ke Palu Sulawesi Tengah.

Satu waktu saya sempat berkomunikasi dengan dia. Saat itu saya ingin menanyakan kondisi pandemi Covid-19 di Kab. Tojo Una-una. Alan menjelaskannya dengan baik sebagaimana penjelasan seorang tim Covid-19.

Pembicaraan serius itu akhirnya diakhiri oleh Alan, sebab dia harus menyelesaikan bacaan Alqurannya. Saya tak bisa menolak, karena menurutku itu sangat penting.

Setelah mengakhiri pembicaraan, saya berpikir, ketika berhadap-hadapan langsung dengan Covid-19, masih ada waktu yang dia sisihkan untuk membaca ayat suci Alquran. Semoga amal kebaikanmu diterima oleh Allah SWT.

Tak Sempat Mencium Tangan Ibunya

Di tengah kesibukan berhadapan dengan Covid-19, satu situasi yang harus menguras pikiran lagi.  Ibu yang sangat ia sayangi harus masuk rumah sakit.

Ibu Alan masuk Rumah Sakit karena mengidap penyakit stroke ringan. Selama 2 hari ibunya dirawat di rumah sakit tempat Alan bekerja.

Karena protap yang begitu ketat, Alan tidak bisa menjaga ibunya. Dia hanya sesekali menjenguk tanpa menyentuh dengan standar yang telah ditetapkan. Rasa sayang anak pada ibunya adalah sesuatu yang tak bisa ditawar-tawar. Menjenguk, sesekali berbicara, begitu seterusnya.

Apa boleh dikata, dua hari menjelang Idulfitri 1441 H, ibu Alan kembali kepada Allah SWT. Suatu cobaan yang harus dilalui Alan.

Dia tak bisa membendung kesedihannya. Dalam salah satu whatsapp storynya, saya melihat postingan tangan ibundanya dengan caption “Tangan ini selama dua bulan tidak pernah saya cium lagi, karena harus jadi tim Covid-19 di Rumah Sakit. Terakhir saya cium saat mama embuskan napas terakhirnya di ICU. Al-fatihah”.

Membaca postingan ini, saya ikut bersedih. Dadaku berdebar karena terlintas di benakku situasi yang ia hadapi. Sebagai seorang anak yang terlahir dari rahim seorang ibu, saya juga tak bisa membendung rasa sedihku. Selama dua bulan terakhir harus berperang melawan Covid-19, akhirnya dia hampir luluh karena berperang dengan batinnya sendiri.

Tidak Bisa Berdamai dengan Covid

Kisah kawanku ini hanya sekelumit dari ribuan kisah yang ada. Bayangkan saja, selain telah menelan korban yang tidak sedikit, Covid juga telah membatasi kita berinteraksi dengan orang lain, termasuk keluarga.

Dedikasi tenaga medis harus kita apresiasi. Di tengah berbagai kebijakan negara yang kadang tidak masuk di akal, tenaga medis harus terus bertempur di garda depan menghadapi Covid-19.

Olehnya itu, argumentasi berdamai dengan Covid-19 yang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini, menurutku perlu diperiksa lagi. Argumentasi itu seperti lelucon di tengah kegaduhan. Bukannya memberikan solusi konkret, justru kita disuruh berdamai.

Mungkin saja berdamai dengan Covid yang dimaksud adalah “kita akan terus hidup berdampingan dengan Covid”. Dan bagi saya argumentasi sesat ini justru merupakan argumentasi sampah akibat kebuntuan dan kegagapan menghadapi Covid.

Tidak heran saat kondisi pendemi covid-19 sekarang ini, negara justru terus membahas Omnibus Law, mengesahkan UU Minerba, menaikkan iuran BPJS, mengadakan konser-konser mubazir, dan sebagainya. Ini merupakan cerminan negara yang tidak memedulikan rakyat.

Terobosan Konkret 

Mestinya di tengah pandemi sekarang kita tak butuh guyonan tak berbobot. Kita membutuhkan terobosan konkret dari pemerintah untuk penanganan pandemi ini.

Bayangkan saja sudah hampir seluruh wilayah di Indonesia terinfeksi Covid-19. Mestinya negara sudah harus menetapkan karantina kesehatan sesuai UU No 6 Tahun 2018 dan bukan pembatasan bagi masyarakat yang terkesan militeristik.

Hal penting lainnya dalam karantina wilayah adalah jaminan kebutuhan hidup bagi masyarakat. Rakyat tidak boleh dibiarkan kelaparan karena situasi ini, apalagi dalam UU Karantina Kesehatan negara wajib memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

Begitu pun bagi kelas buruh yang bekerja di pabrik-pabrik. Para pekerja itu harus diliburkan tanpa pemotongan upah dari perusahaan tempat mereka bekerja. Semua ini dilakukan agar mata rantai penyebaran Covid-19 dapat diputuskan tanpa harus mengorbankan rakyat.

Selain terobosan kebijakan di tengah pandemi, hal lain yang tak kalah penting adalah pembatasan dan evaluasi perizinan di Indonesia. Hal ini bukan tanpa alasan. Selama masa pandemi, banyak berseliweran artikel-artikel soal Covid-19 yang memiliki hubungan erat dengan kerusakan lingkungan akibat eksploitasi alam yang masif.

Salah satu kajian menjelaskan bahwa, ekploitasi sumber daya alam yang masif telah memengaruhi jalur alamiah patogen-patogen. Patogen adalah parasit yang dapat menimbulkan penyakit dan dapat menyebar dengan cepat. Hal inilah yang perlu disadari oleh negara saat ini.

Selain beberapa hal di atas, penting juga untuk memperhatikan aspek pendidikan dan kesehatan di Indonesia. Ini sudah bukan rahasia lagi. Pendidikan dan kesehatan yang begitu mahal telah berimplikasi buruk bagi rakyat saat ini. 

Satu contoh misalnya, biaya pendidikan masuk di perguruan tinggi kedokteran yang begitu mahal sudah pasti akan berdampak pada jumlah dokter di Indonesia. Tidak heran kalau di tengah Covid saat ini, negara kita kewalahan dengan jumlah dokter yang ada di Indonesia.

Di akhir tulisan ini, saya kembali mengucapkan terima kasih kepada tenaga medis di seluruh Indonesia. Salam hormat dari saya. Tak lupa saya mengucapkan “taqoballahu minna waminkum” selamat hari raya Idul Fitri 1441 H.

Dan buat Alan, tetap semangat. Semoga Ibumu mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah Swt, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini.