Sebagai seorang Raja Hutan, aku cukup disegani di hutan ini. Dalam perjalanan hidupku, aku hanya punya satu sahabat, namanya Gobel, seekor burung perkutut. Ketika aku sedang berada dalam kesulitan, ia selalu membantuku. 

Dulu, ketika aku belum menjadi Raja Hutan, saat aku masih hidup dari satu hutan ke hutan yang lain, Gobel selalu bersamaku. Ia selalu menjadi penunjuk jalanku.

Gobel sudah kuanggap sebagai bagian dari diriku. Aku bertemu dengannya ketika ia hendak dimakan oleh seekor harimau. Pada saat itu kondisi sayapnya patah karena terkena peluru pemburu. Kebetulan aku melintas dan melihatnya ketakutan sambil berteriak meminta tolong. 

Tanpa pikir panjang, aku langsung menghalau harimau itu. Untuk itulah ia selalu hidup bersamaku. Aku punya pengalaman menarik bersama Gobel, pengalaman ketika aku menyukai seorang gadis cantik yang tinggal di kota untuk pertama kalinya.

***

Kota itu terletak persis di sebelah hutan tempat aku tinggal setelah melakukan perjalanan panjang. Kotanya tidak begitu besar, akan tetapi suasana kota itu selalu saja nyaman untuk ditempati. 

Di sebelah utaranya terbentang hutan yang cukup luas. Dan sebelah selatannya terbentang laut yang tak kalah luas. Ketika pagi hari, matahari muncul dari balik bukit. Dan ketika matahari tenggelam, sinarnya menyapu permukaan laut dan tampak begitu indah.

Aku tinggal di hutan pinggiran kota, tepat di belakang rumah gadis cantik itu. Sebagai seekor singa yang ditakuti manusia, aku hanya berani mendekat ke rumah gadis itu ketika matahari mulai tenggelam. 

Biasanya ketika matahari hendak tenggelam, gadis itu pasti duduk di balik jendela kamarnya sambil membaca sebuah buku. Dan dari balik hutan, aku selalu memandang wajahnya yang disirami cahaya lampu kamarnya.

Ketika aku melihatnya pertama kali, kebetulan waktu itu aku sedang melintas di belakang rumahnya, aku betul-betul kagum pada wajahnya. Dan yang paling unik dari semua itu adalah matanya, aku senang memandangi matanya. Matanya begitu indah dan enak dipandang.

Setelah melihat gadis itu pertama kalinya, malamnya aku terus menerus memikirkannya. Sampai-sampai Gobel kebingungan melihatku.

"Ada apa denganmu, King?" tegur Gobel, "tidak biasanya kamu melamun seperti ini."

"Aku penasaran," jawabku singkat.

"Penasaran dengan apa?"

"Penasaran dengan gadis cantik yang ada di rumah itu!" Aku menunjuk rumah gadis cantik itu.

Gobel semakin kebingungan melihat tingkahku. Sedangkan aku terus melamun memikirkan gadis itu. Memikirkan matanya, mata yang enak dipandang. Namun, seketika aku terperanjat ketika sebuah ide cemerlang terlintas dalam benakku. Aku langsung memandang Gobel yang sedang bertengger di ranting pohon.

"Gobel!" panggilku.

"Ada apa?"

"Kamu mau tidak membantuku?"

"Apa yang bisa kubantu?" Wajah Gobel semakin kebingungan.

"Aku jatuh cinta pada gadis yang kulihat tadi sore...."

"Ha?! Apaaa?! Jatuh cintaaa??!!!"

"He em...."

"Bagaimana bisa?"

"Karena hati tau siapa yang dipilihnya, Gobel."

"Tapi kamu kan bukan manusia!"

"Itu yang jadi masalahnya...."

Gobel semakin bingung dengan pernyataanku barusan. Wajahnya semakin berkerut. Dan ia terus mondar-mandir di ranting sambil memukul-mukul kepalanya.

"Apa aku sekarang sedang mimpi?" tanya Gobel padaku.

"Tidak, kamu tidak sedang mimpi!" jawabku dan kembali memikirkan gadis itu.

"Terus apa yang bisa aku bantu?" tanya Gobel dan turun dari ranting.

Aku terdiam. Apa yang harus aku perbuat? kata hatiku. Tiba-tiba ide lain melintas di pikiranku. "Aha, bagaimana kalau kamu cari tahu saja tentang gadis itu!"

Gobel terdiam.

"Tepat sekali, aku harus tahu tentang gadis cantik itu. Dan satu-satunya yang bisa mencari tahu tentang gadis itu adalah kamu, Gobel. Kamu bisa mengikutinya sepanjang hari, kamu bisa tahu apa yang dilakukannya sehari-hari. Kali ini aku betul-betul perlu bantuanmu, Gobel. Aku mohon!"

"Hmmm, baiklah, King. Akan aku coba!"

"Kamu betul-betul teman yang baik!" Aku menepuk punggungnya.

***

Karena bantuan Gobel, aku mengetahui seluruhnya tentang gadis itu. Namanya Marcel, umurnya masih 20 tahun dan dia bekerja di sebuah toko buku. Pantas saja setiap matahari mau tenggelam ia selalu duduk di balik jendela sambil membaca. Dan aku selalu memandanginya dari kejauhan. Memandangi matanya yang enak dipandang itu.

Bertahun-tahun aku menjalani hidup seperti itu: menatapnya dari balik hutan. Setiap harinya Gobel selalu memberikan informasi kepadaku tentang apa saja yang Marcel lakukan pada hari itu. Gobel menceritakan semuanya, dan aku selalu mendengarnya dengan penuh antusias.

Aku sadar, cinta ini tak mungkin bisa berlanjut. Aku berbeda dengannya, dia manusia, sedangkan aku hewan. Tetapi rasa ini tak bisa dipungkiri. Cinta tak pernah mengenal siapa yang dicintai. Cinta itu.... Ah, aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Yang jelas, hati ini telah menetapkan gadis itu untuk dicintai.

***

Hati ini dibuat hancur ketika suatu hari aku melihat Marcel berdua dengan seorang lelaki di balik jendela kamarnya. Karena kejadian itu, aku baru merasakan sakit hati untuk pertama kalinya. Dan ketika Gobel datang seperti biasanya, ia membuat persaksian yang sama. Sama seperti apa yang aku lihat.

Ternyata selama ini ada sesuatu yang disembunyikan oleh Gobel tentang gadis itu. Ia menyembunyikan cerita tentang lelaki yang selama ini bersama Marcel.

"Kenapa kamu sembunyikan semua ini, Gobel?" tanyaku.

"Aku hanya tidak ingin kamu kecewa, King!" jawabnya dengan kepala tertunduk. "Kamu harus sadar, walau bagaimanapun besarnya cintamu pada Marcel, kamu tetap tak bisa bersatu dengannya, King!"

Aku tertunduk ketika Gobel mengatakan itu. Seolah ada sesuatu yang memukul hatiku cukup keras. Aku langsung tersadar. Ternyata benar, cinta ini memang besar, tapi kami tak mungkin bersatu. Kami berbeda, walaupun rasa yang kami miliki ini mungkin sama.

Ketika menyadari hal itu, esoknya aku langsung pergi masuk ke dalam hutan lebih jauh. Dan aku hidup seperti biasanya di dalam sana dengan hewan-hewan lainnya. Karena aku singa satu-satunya di hutan itu, mereka mengangkatku menjadi seorang Raja Hutan.

***

Namun, ada kebiasaan yang tidak bisa kuhilangkan sampai saat ini, setiap seminggu sekali, aku selalu pergi ke hutan pinggiran kota untuk melihat Marcel membaca dari balik jendela. Aku melakukannya bertahun-tahun tahun lamanya. Aku selalu melakukan perbuatan ini walaupun Marcel sudah memiliki suami dan tiga anaknya. 

Aku bahagia melihat keluarganya bahagia. Bahkan, sampai saat ini ia tidak tahu bahwa ada seekor singa, dari dulu sampai sekarang, masih mencintainya dalam diam. Masih menginginkannya selalu tertawa. Karena, hanya dengan melihatnya tertawa, hatiku juga ikut tertawa. Walau pada kenyataannya hatiku tertawa sekaligus menangis.

Hanya ada satu cinta dalam hidupku, cinta yang tidak pernah lekang dari hatiku, yaitu cinta pada gadis cantik yang tinggal di kota itu.

Rembang, 2020