Bagi siapa saja yang pernah memiliki kampung halaman atau yang masih memilikinya, juga beserta ikatan perasaan dan ingatan yang kuat tentang kampung halamannya, tentu tidak akan asing dengan praktik-praktik kebudayaan, seperti pesta adat/pesta rakyat dan ritual-ritual kebudayaan lainnya.

Kebudayaan dalam penggunaannya sebagai sebuah istilah untuk menandakan seluruh rangkaian aktivitas manusia. Ini merupakan penggambaran atas kemampuan akal budi dalam menghasilkan suatu produk dari cipta, rasa, dan karsa manusia. 

Koentjaraningrat mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Untuk itu, tidak heran jika dalam sebuah kebudayaan menyimpan berbagai hal, seperti kepercayaan terhadap hal-hal mitos dan mistis. Hal ini dapat dilihat dari kepercayaan masyarakat kepada orang pintar (sebutan untuk seseorang yang dapat terhubung dengan dunia metafisik/yang memiliki kemampuan seperti cenayang). 

Kepercayaan terhadap fenomena sakit yang disebabkan karena guna-guna/santet/ilmu hitam dan bukan karena fenomena bilogis yang terjadi pada tubuh manusia. Dan kepercayaan tersebut tidak berhenti sampai di situ saja, tetapi juga untuk penyembuhannya yang harus ditempuh dengan pendekatan pengobatan yang sama pula.  

Kepercayaan yang lahir dari kebudayan ini bukanlah produk yang hampir punah, melainkan masih tetap hidup sampai hari ini. Praktik-praktik kebudayaan seperti mempercayai orang pintar yang saya sebutkan di atas mungkin ada mudah kita temui. 

Untuk berjumpa dengan orang pintar ini, tidaklah sulit jika Anda adalah orang yang masih memiliki kampung halaman. Karena di kampung halaman, orang pintar sudah seperti sebuah jasa. Memberikan jasa pelayanan yang berkaitan dengan aktivitas metafisis kepada masyarakat.

Seperti kampung halaman saya, praktik penyewaan jasa orang pintar cukup diminati oleh sebagian masyarakat ketika mengalami musibah kehilangan/kecurian sebuah benda. Biasanya warga menggunakan jasa orang pintar untuk memintanya menunjukkan di mana lokasi hilang atau siapa pelaku yang mengambilnya.

Metode yang digunakan untuk menigdentifikasinya cukup beragam. Ada yang menggunakan media perantara dan ada juga yang melakukannya cukup dengan menerawang memejamkan mata melafalkan sesuatu. 

Untuk sampai pada sebuah hasil, orang pintar ini tidak memerlukan bukti, petunjuk, saksi, simulasi, investigasi, pengujian, dan penilaian. Proses identifikasi yang dilakukan olah orang pintar terbilang sangat jauh untuk ukuran sebuah penalaran sains.  

Dasar kepercayaan terhadap orang pintar sepertinya juga berimplikasi pada kepercayaan-kepercayaan lainnya, seperti kepercayaan terhadap komunisme dan segala bentuk manifestasinya. Kepercayaan bahwa komunisme adalah akar dari gerakan pembantaian petinggi TNI dan gerakan makar di zamannya. Kepercayaan ini tereproduksi dari zamannya hingga akhirnya tenggelam dengan sendirinya.

Untuk beberapa generasi, wacana komunisme bukan lagi sebuah diskursus yang tabu untuk didiskusikan dan dikaji. Tidak menganggap komunisme sebagai sebuah mitos yang harus terus dijaga serta disakralkan hingga akhirnya dia menjadi cukup mapan untuk sebuah mitos.

Kemapanan sebuah mitos komunisme terbukti sampai hari ini masih eksis dan dia muncul sebagai palu Thor untuk menghancurkan apa saja dan siapa saja yang terindikasi bersamanya. Terutama oleh mereka aparatus represif (militer). Mereka masih menjaga dengan baik isu komunisme dengan memastikan komunisme serta segala bentuk manifestasinya hilang dari muka bumi Indonesia.

Mitos ini pada penggunaannya menjadi tidak terkontrol dan cukup semena-mena. Bagaimana tidak, belum lama ini polisi menangkap dua pegiat literasi yang menggelar lapak baca gratis di alun-alun Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (27/7/2019). Kedua pemuda tersebut ditangkap karena diduga memajang buku-buku DN Aidit, tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Untuk sejenak, mencoba adil melihat apa yang terjadi, justru membuat saya merasa apa yang telah dilakukan adalah upaya mematikan gerakan literasi dan kemerdekaan membaca. 

Ya! Kemerdekaan membaca adalah hak setiap manusia Indonesia tanpa terkecuali. Polisi tidak perlu risau, jika dari membaca buku-buku bertema komunis akan membikin si pembaca menjadi sebengis dan sadis seperti pendahulu-pendahulunya. Atau membuat mereka menjadi pemicu untuk gerakan makar, misalnya!

Mengapa para polisi tidak perlu risau? Kerena saya yakin sejauh ini para pemuda itu cukup kritis dan tercerahkan secara pemikiran untuk menilai tuduhan yang disematkan kepada PKI di masa itu. Terlebih lagi sampai para pemuda pegiat literasi ini sampai meraka akan melakukan gerakan makar dan gerakan-gerakan lainnya.

Karena dengan ketatnya upaya preventif dan proteksi dini, tidak perlu jauh-jauh sampai membangun sebuah gerakan. Sekadar membaca buah-buah pemikiran komunisme saja sudah dipolisikan. 

Selain itu, konstitusi negara Indonesia juga telah memproteksi setiap isu-isu komunisme. Lantas atas dasar apa lagi negara ini masih khawatir terhadap komunisme? Jika secara perangkat hukum dan semua turunannya telah mapan untuk melawan komunisme.

Komunisme adalah mitos yang berjalan beriringan dengan mitos-mitos yang lahir dari kebudayaan. Dia tidak perlu dihilangkan atau direpresif, justru harus terus dihidupkan seperti mitis-mitos sebagai bentuk kekayaan pemikiran yang pernah ada diawal berdirinya negara Indonesia. 

Dihidupkan dengan cara terus dikaji dan didiskusikan bahwa komunisme itu apa dan seperti apa dia ketika dia sebagai sebuah gerakan sosial.