Dari balik kamar pagi itu,  lamat-lamat saya mendengar  suara cemprang anak-anak  yang sedang mengikuti lomba paduan suara di SD dekat rumah. Beberapa lagu perjuangan seperti  Hymne Guru,  Syukur, Satu Nusa Satu Bangsa, Hari Kemerdekaan terdengar bersahut-sahutan---khas suara anak-anak. “Kita tetap setia//Tetap setia//Mempertahankan Indonesia//Tetap setia//Tetap setia//Membela  Negara kita”.  “.Indonesia pasti jaya//Kita bela bersama”.  “Siapa berani menurunkan engkau//Serentak rakyatku membela//Sang merah putih yang perwira//Berkibarlah selama-lamanya.” Potongan bait-bait lagu perjuangan itu mengalun masuk  kamar  saya.

Meski dinyanyikan dengan nada,  ritme  dan oktaf seadanya, namun entah mengapa  kesadaran dan citarasa “nasionalisme” saya terasa membuncah  mendengar suara fals para bocah itu. Kendati suasana dan perayaan 17 Agustus tiap tahun sama saja, tapi kali ini saya merasakan nuansa yang berbeda.

Segala pernak-pernik menjelang perayaan ulang tahun kemerdekaan---bendera dan umbul-umbul yang terpasang di kantor  dan di pemukiman warga, maupun  aneka perlombaan yang digelar---tiba-tiba saja terasa menghentak kesadaran kolektif  kita sebagai bangsa. Tiba-tiba  kita jadi bertanya-tanya: mampukah bangsa ini melewati prahara yang sedang menghadang? Sanggupkah bangsa besar ini---dengan segenap beban yang dibawanya---keluar dari situasi sulit yang dihadapinya?

Harus diakui bahwa Pilkada DKI Jakarta memang telah meninggalkan luka kebangsaan yang teramat parah. Dalam rentang waktu cukup lama, bahkan hingga kini, seluruh energi bangsa seolah tersedot untuk saling merebut sebuah “tafsir”  kebangsaan: siapa paling Pancasilais, paling nasionalis, paling mencintai NKRI. Masyarakat terbelah dalam polarisasi yang sangat tajam. Sayangnya, polarisasi itu dibangun berdasarkan sentimen SARA. Mirip dengan sejarah kemunculan aliran-aliran teologi dalam Islam, segalanya bermula dari kompetisi politik, kemudian menggunakan “stempel” agama dan tuhan untuk me (nde) legitimasi tindakan para pihak yang terlibat.

Bagai air bah, “hantu”  politik identitas itu tiba-tiba menyergap dan menerjang ruang-ruang kesadaran kita. Tetangga, teman dan rekan kerja kita tiba-tiba terlihat “berbeda” hanya karena agamanya atau karena afiliasi politiknya berbeda dari kita. Tiba-tiba ruang  kebangsaan kita diserang berbagai wacana pengkafiran, penyesatan, penistaan. Kita mendadak sensitif  pada segala hal yang berbeda dari kita: agama, suku, kelompok, warna kulit  atau  orientasi seks seperti waria.

Bahkan keberadaan patung sejarah pun kini dilihat sebagai “ancaman”  karena dianggap sebagai simbol dominasi kelompok tertentu.  Telunjuk kita begitu mudah melempar tuduhan sebagai “terdakwa” kepada pihak lain, sembari menganggap diri kita sebagai paling benar, lurus bahkan  paling “disayangi” Tuhan. Jemari kita juga begitu gampang menulis kalimat-kalimat provokatif maupun melecehkan pihak lain, entah itu pribadi atau pemegang otoritas resmi.  Termasuk  selevel kepala negara atau pejabat publik lainnya.

Tentu tidak ada yang salah dengan politik  identitas. Secara naluriah, setiap orang pasti berpikir dan bertindak atas preferensi tertentu. Wajar jika ia punya kepentingan atau  memperjuangkan kepentingan yang “menguntungkan” diri atau kelompoknya. Politik identitas bermasalah kala mulai “mengganggu” identitas kelompok lain, terutama kaum minoritas atau mereka yang terabaikan.

Konsepsi  negara modern dan demokrasi justeru hadir untuk mengelola dan menampung segala keragaman itu agar dapat ditransformasi dan dikonversi menjadi sumber kekuatan, bukan sumber kelemahan,  bagi  bangsa  bersangkutan .Sebaliknya, kegagalan mengelola keragaman dapat membawa petaka---entah itu berupa konflik atau  perang saudara---yang berakibat pada kehancuran dan kemiskinan.     

Indonesia itu adalah sebuah taman sari, tempat tumbuh suburnya berbagai kelompok ras, suku, budaya dan bahasa. Sejumlah agama besar dunia juga mendapatkan “rumah”nya di sini. Tetapi kini, keindahan taman itu mulai terancam oleh  menguatnya politik identitas yang membahayakan. Relasi antarumat beragama, maupun berbagai kelompok seagama, diwarnai sikap prasangka satu sama lain. 

Kita “dipaksa” untuk percaya bahwa hantu kebangkitan komunis itu ada,  atau kelompok etnis serta agama tertentu sedang menjalankan konspirasi jahat. Begitu pula, meski beberapa kelompok “sempalan” seperti Syiah atau Ahmadiyah sudah hidup.damai bertahun-tahun, tapi hari ini kita terus “diyakinkan” akan dahsyatnya bahaya kelompok minoritas ini. Kita bahkan telah kehilangan kesantunan sebagai identitas kultural kita.

Kini  kita tumbuh menjadi bangsa pemarah, pembenci, pendendam dan egois. Jika pada masa Orde Baru  sentimen identitas itu tumbuh nyaris “tanpa dosis” (karena ditumpas habis-habisan) maka kini  justeru  “over dosis” sehingga membahayakan “keselamatan”  jiwa dan raga bangsa ini. 

Maka, mendengar suara cemprang anak-anak itu, saya jadi tercenung: masihkah lagu-lagu perjuangan itu punya daya magis mengobati luka kebangsaan di tengah ancaman disintegrasi dan bangkitnya hantu politik identitas saat ini? Benarkah “Siapa berani menurunkan engkau//Serentak rakyatku membela//Sang merah putih yang perwira//Berkibarlah selama-lamanya” kala ada sekolah dan pesantren yang menolak upacara bendera karena dianggap bid’ah? Masihkah ada yang membela sang saka merah putih?

Benarkah bahwa “Kita tetap setia//Tetap setia//Mempertahan Indonesia//Tetap setia//Tetap setia//Membela  negara kita” justeru di saat ada sebagian elemen bangsa mengkampanyekan sistem khilafah? Benarkah nasionalisme itu masih ada justeru di saat sebagian besar pelajar  kita menganggap bahwa Pancasila tidak relevan lagi sebagai ideologi negara?   Benarkah  “….Indonesia pasti jaya//Kita bela bersama”  di tengah ancaman terorisme yang---bahkan---membunuh   orang  sedang  beribadah  dalam rumah ibadah?  

Dengan segenap pertanyaan yang berkecamuk  maka bait-bait lagu perjuangan dari suara cemprang anak-anak  itu seolah terdengar absurd dan kelu di telinga. Saya membuka jendela kamar  dan membiarkan matahari pagi menerobos masuk  untuk mengibaskan rasa. Meski pikiran terus berkabut tapi  saya tetap berusaha tersenyum. Saya tetap mencoba optimis.  Secerah mentari pagi itu.